Bab 19: Obrolan Malam di Warung Kopi

Bab 19: Obrolan Malam di Warung Kopi

Lev
0

Malam di Amuntai, setelah seharian berpetualang di danau, terasa begitu tenang. Lev dan Rauf memutuskan untuk mencari makan malam di luar. Mereka memilih sebuah warung kopi di pinggir jalan yang terkenal dengan kopi khasnya. Warung itu sederhana, dengan beberapa meja dan kursi kayu, tapi suasananya hangat dan ramai.

"Rauf, ini nih. Pusat kehidupan malam di Amuntai. Sederhana, tapi penuh cerita," bisik Lev.

Mereka memesan dua gelas kopi hitam hangat dan beberapa potong kue tradisional. Sambil menunggu pesanan, Lev mengamati sekeliling. Di meja sebelah, sekelompok bapak-bapak sedang tertawa lepas sambil menikmati kopi. Di sudut warung, seorang anak muda sedang serius membaca buku.

Lev, yang sudah mulai terbiasa dengan kehangatan masyarakat lokal, menghampiri sekelompok bapak-bapak yang sedang tertawa. "Permisi, Pak. Boleh gabung?" tanyanya ramah.

Bapak-bapak itu menyambut Lev dengan hangat. Mereka memperkenalkan diri, dan Lev menceritakan tujuan mereka datang ke Amuntai.

"Oalah, dari Banjarmasin. Jauh-jauh," kata salah satu bapak, yang ternyata seorang pensiunan pegawai negeri.

Mereka mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari cerita tentang Amuntai di masa lalu, hingga keluh kesah tentang anak muda zaman sekarang yang terlalu sibuk dengan gawai dari anak-anak bahkan orang yang sudah punya anak sibuk dengan gawai masing-masing. Lev mendengarkan dengan seksama, sesekali menyela dengan pertanyaan.

"Pak, kenapa warung kopi di sini selalu ramai? Padahal warung kopi di kota besar kan biasanya lebih mewah," tanya Lev, penasaran.

"Karena di sini, warung kopi bukan cuma tempat minum kopi, Nak. Tapi juga tempat berkumpul, tempat berbagi cerita. Di sini, kita semua keluarga. Enggak ada perbedaan," jawab Pak Pensiunan, bijak.

Lev mengangguk. Ia merasa, kakeknya ingin ia belajar hal ini. Belajar tentang kebersamaan, tentang pentingnya berinteraksi sosial, dan tentang menghargai hal-hal kecil.

Saat sedang asyik mengobrol, Lev melihat Rauf sedang serius membaca buku. Lev menghampiri Rauf.

"Rauf, kok serius banget? Baca buku apa?" tanya Lev.

"Ini buku tentang sejarah Amuntai. Ternyata, di sini banyak peninggalan sejarah yang menarik. Aku jadi penasaran," jawab Rauf.

"Rauf, kamu itu harusnya santai aja, kayak bapak-bapak itu. Ngobrol, ketawa, nikmatin hidup," Lev menasihati.

"Aku juga menikmati hidup, Lev. Tapi dengan cara yang berbeda. Aku suka baca buku, suka belajar hal baru. Itu cara aku menikmati hidup," Rauf membela diri.

Lev hanya nyengir. Ia kembali ke meja bapak-bapak itu, melanjutkan obrolan.

Malam itu, mereka kembali ke penginapan dengan perasaan senang. Lev merasa, ia sudah mendapatkan pelajaran berharga lagi. Bahwa tidak semua orang menikmati hidup dengan cara yang sama. Ada yang suka ngobrol, ada yang suka baca buku. Dan itu, tidak ada yang salah.

"Rauf, aku mau catat sesuatu," kata Lev, saat mereka sudah di kamar.

"Catat apa lagi?" tanya Rauf.

"Catatan malam ini: Obrolan di warung kopi mengajarkanku tentang kebersamaan. Dan tentang cara menikmati hidup yang berbeda-beda. Enggak harus sama," Lev berkata, sambil menulis di buku catatannya.

Rauf tersenyum. "Baguslah kalau begitu. Berarti kamu sudah semakin mengerti."

Lev mengangguk. Ia tahu, petualangan ini tidak hanya mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Tapi juga mengubah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Babak ketiga, ternyata juga penuh kejutan. Dan ia, sudah tidak sabar untuk melanjutkan babak-babak selanjutnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default