Bab 19: Peta yang Salah Lagi dan Kekacauan di Terminal Mobil

Bab 19: Peta yang Salah Lagi dan Kekacauan di Terminal Mobil

Lev
0

Setelah beberapa hari istirahat di Banjarmasin, Lev dan Faruq kembali berkemas. Kali ini, tujuan mereka adalah Kalimantan Timur, dimulai dari Samarinda. Perjalanan ke sana akan memakan waktu cukup lama dengan mobil travel. Sebelum berangkat, Faruq memastikan semua sudah rapi dan tidak ada yang tertinggal. Ia melirik Lev yang sedang mengoprek ponselnya dengan wajah serius.

"Peta digital sudah aman, Lev?" tanya Faruq, dengan nada menguji.

Lev mengacungkan jempol. "Aman terkendali! Kali ini aku sudah siapkan peta cadangan. Jadi tidak akan ada lagi insiden tersesat di jalan setapak," jawab Lev dengan penuh keyakinan.

Faruq hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Terserah kamu saja, Lev. Tapi kalau ada apa-apa, jangan salahkan aku."

Mereka berdua tiba di terminal mobil yang ramai. Faruq memesan dua kursi untuk mereka, sedangkan Lev sibuk mengurus bagasi. Tanpa sepengetahuan Faruq, Lev masih merasa khawatir dengan peta digitalnya. Ia diam-diam mengunggah peta cadangan dari sebuah situs yang ia temukan secara acak. Ia yakin, peta ini lebih akurat.

"Nah, ini baru namanya persiapan matang," bisik Lev pada dirinya sendiri.

Saat mobil travel mulai bergerak, Lev membuka peta cadangannya. Faruq yang melihat tingkah Lev, hanya bisa menghela napas.

"Lev, kamu ini kenapa lagi? Peta yang tadi sudah bagus, kok," kata Faruq.

"Ini peta cadangan, Faruq. Lebih canggih, katanya bisa memprediksi jalan mana yang lebih cepat," jawab Lev dengan bangga.

Faruq hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ia memutuskan untuk tidak berdebat dengan Lev.

Setelah beberapa jam perjalanan, Lev mulai merasa ada yang aneh lagi. Peta cadangannya menunjukkan jalan yang berbeda dari jalan yang biasa mereka lewati.

"Faruq, jalan kita berbeda. Peta ini menunjukkan jalan lain," kata Lev, dengan nada ragu.

"Memang begitu, Lev. Peta ini menunjukkan jalan yang lebih cepat," jawab Lev, yang mencoba meyakinkan Faruq.

Faruq menghela napas. "Lev, kamu yakin? Peta ini terlihat aneh."

Namun, Lev sudah terlanjur yakin. Ia meminta sopir travel untuk mengikuti arahan peta cadangannya. Sopir travel itu, yang sudah hafal dengan jalanan di sana, merasa ragu. Tapi karena Lev bersikeras, ia akhirnya mengikuti.

Beberapa saat kemudian, mobil travel mereka memasuki sebuah jalan kecil yang sempit, dengan pemandangan hutan yang semakin lebat. Faruq merasa tidak enak hati.

"Lev, kamu yakin ini jalan yang benar? Jalan ini terlihat seperti jalan buntu," kata Faruq, dengan nada khawatir.

Lev mengecek peta cadangannya. "Sabar, Faruq. Sebentar lagi pasti sampai."

Namun, setelah beberapa menit, mobil travel mereka berhenti. Di depannya, terdapat sebuah sungai yang cukup lebar, tanpa jembatan. Faruq memijat pelipisnya.

"LEV!" teriak Faruq, dengan nada kesal.

Lev membelalakkan matanya. Ia menatap peta cadangannya, lalu menatap sungai di depannya. Ia merasa bodoh.

Sopir travel itu menggeleng-gelengkan kepala. "Saya sudah bilang, mas. Ini bukan jalan yang benar."

Mereka berbalik arah, dan kembali ke jalan utama. Perjalanan kembali terasa sangat panjang. Lev merasa bersalah. Ia telah membuang-buang waktu.

Saat mereka tiba di terminal mobil di Samarinda, Lev merasa lelah. Ia melihat Faruq yang sudah menunggunya.

"Maaf, Faruq. Aku sudah bikin ulah lagi," kata Lev, dengan nada menyesal.

Faruq tersenyum. "Tidak apa-apa, Lev. Namanya juga petualangan."

Mereka berdua berjalan menuju penginapan. Lev merasa lelah, tapi ia merasa bahagia. Perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default