Bab 6: Esensi Pohon Kehidupan dan Ancaman Peningkatan Level Manusia

Bab 6: Esensi Pohon Kehidupan dan Ancaman Peningkatan Level Manusia

Lev
0

Pohon Kehidupan di hulu sungai Evergreen adalah pemandangan yang menakjubkan. Akarnya yang masif membentuk gua alami yang diterangi oleh cahaya biru lembut. Udara di sekitarnya terasa hidup, dipenuhi energi murni alam. Trio monster mendekati altar alami di pusat gua, tempat sebuah kristal besar berisi cairan keemasan bersinar—Esensi Alam.

"Profesor Owa benar," bisik Spinner penuh kekaguman. "Ini dia experience points (XP) kita."

Mereka berdiri di hadapan kristal tersebut. Tiba-tiba, cairan keemasan di dalamnya bergerak dan memecah menjadi tiga bola cahaya yang melayang ke arah masing-masing monster.
Bola cahaya menyerap ke dalam tubuh Bumble, Leo, dan Spinner. Mereka merasakan sensasi aneh—denyutan energi baru, insting yang lebih tajam, dan pemahaman baru tentang kekuatan mereka.

Leo merasakan cakarnya menjadi lebih keras dan tajam, matanya bersinar dengan kemampuan baru: Cakar Bayangan. Dia kini bisa menghilang dalam bayangan dan muncul kembali di tempat lain untuk serangan mendadak.

Bumble merasakan sengatnya berdenyut dengan energi listrik yang terkonsentrasi. Kemampuan barunya, Sengatan Berantai, memungkinkannya melumpuhkan beberapa target sekaligus dalam satu serangan sengat listrik.

Spinner merasakan benang sutranya menjadi lebih kuat dan tahan panas. Jaring Titanium miliknya kini bisa menahan beban yang lebih berat dan bahkan memblokir serangan energi rendah.

"Wow," dengung Bumble, mencoba kemampuan barunya dengan menyengat batu kecil yang langsung terbelah dua. "Ini baru namanya kekuatan DPS sejati!"

"Level kita meningkat," kata Leo puas, mencoba menghilang dan muncul kembali di sisi lain gua.

"Sekarang kita siap," ujar Spinner. "Kita punya peta dari flash drive, kita punya kemampuan baru, dan kita tahu dalangnya adalah Tuan Arsitek. Kita kembali ke Batu Bundar untuk merencanakan serangan ke Markas Besar Fase 2."

Di saat yang sama, di kamp PMC, Pak Budi, manajer lapangan, sedang bertelekonferensi dengan bosnya, Tuan Arsitek, melalui layar hologram yang dipasang di tenda komando. Tuan Arsitek adalah seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal, ekspresi wajah dingin, dan mata yang hanya melihat angka keuntungan.

"Jadi, Budi, jelaskan padaku mengapa produksi kita tertunda tiga hari dan kerugian mencapai miliaran Rupiah?" tuntut Arsitek, suaranya terdengar datar namun mengancam.

Pak Budi berkeringat dingin di balik topi kuningnya. "Maaf, Tuan Arsitek. Kami mengalami... gangguan operasional tak terduga. Monster. Kucing raksasa, lebah, dan laba-laba. Mereka merusak mesin dan membuat kekacauan di malam hari. Air sungai juga sempat tercemar, tapi kembali bersih secara misterius."

Tuan Arsitek menyeringai sinis. "Monster? Di zaman teknologi seperti ini, kau bercerita dongeng anak-anak, Budi? Aku tidak peduli kau menghadapi dinosaurus atau peri kecil. Aku mau pekerjaan selesai."

"Tapi Tuan, mereka nyata! Mereka punya kemampuan aneh!"

"Cukup, Budi," potong Arsitek. "Aku akan tiba di lokasi Markas Besar Fase 2 besok lusa. Aku sudah mengirimkan tim keamanan baru. Bukan sekadar penjaga biasa, tapi tentara bayaran elit dengan peralatan canggih. Mereka punya drone pengintai, jaring listrik, dan senjata penenang berkaliber tinggi. Kali ini, tidak akan ada 'gangguan operasional'. Aku akan memastikan proyek ini berjalan lancar."

Hologram mati. Pak Budi menghela napas lega karena percakapan berakhir, namun merasa lebih tertekan karena ancaman baru akan datang.

Di Hutan Evergreen, trio monster merasakan perubahan suasana. Energi positif dari Pohon Kehidupan masih terasa, tetapi ada ketegangan baru di udara.

"Mereka meningkatkan level juga," kata Spinner, setelah mengirim beberapa laba-laba kecil pengintai kembali dari perbatasan. "Manusia mengirim bala bantuan. Kali ini, mereka datang dengan tentara bayaran dan teknologi militer."

Leo mendengus. "Bagus. Semakin besar tantangannya, semakin besar kehormatannya saat kita mengalahkan mereka. Ini akan menjadi pertarungan bos yang sesungguhnya."

Bumble sedikit gemetar, tapi tekadnya kuat. "Aku punya Sengatan Berantai sekarang! Aku siap menyengat drone-drone terbang itu dari udara!"

Trio monster itu kini tidak hanya bersenjata lengkap dengan kemampuan baru, tetapi juga memiliki intelijen tentang kedatangan bos besar: Tuan Arsitek. Mereka tahu lokasi markas besar rahasia manusia, dan mereka tahu kapan waktu terbaik untuk menyerang.

Matahari terbenam untuk kedua kalinya dalam petualangan mereka, dan Hutan Evergreen bersiap untuk pertempuran yang akan menentukan nasibnya. Ini bukan lagi sekadar sabotase kecil-kecilan. Ini adalah perang untuk bertahan hidup, dengan taruhan yang semakin tinggi, dan trio pahlawan kita siap untuk pertarungan hidup atau mati.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default