Bab 20: Jalinan Persaudaraan

Bab 20: Jalinan Persaudaraan

Lev
0

Malam di Amuntai terasa semakin hangat setelah Lev dan Rauf menghabiskan waktu di warung kopi. Obrolan dengan para warga lokal membuat mereka merasa diterima layaknya keluarga sendiri. Setelah kembali ke penginapan, Lev dan Rauf masih melanjutkan diskusi mereka di teras sambil menikmati teh hangat.

"Rauf, aku merasa, di sini, aku menemukan sesuatu yang hilang dari kota besar," ujar Lev, suaranya pelan.

"Apa itu?" tanya Rauf.

"Jalinan persaudaraan. Di sini, orang-orangnya enggak sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka peduli sama orang lain, bahkan sama orang asing kayak kita," jawab Lev.

Rauf mengangguk setuju. "Memang. Mereka menyambut kita dengan tangan terbuka. Enggak ada curiga, enggak ada prasangka."

Obrolan mereka berlanjut tentang perbedaan kehidupan di kota dan di pedesaan. Lev menyadari, di kota, ia seringkali merasa sendirian meskipun dikelilingi oleh banyak orang. Namun, di Hulu Sungai, ia merasa hangat dan nyaman meskipun baru mengenal orang-orangnya.

"Kakekku benar, Rauf. Perjalanan ini bukan cuma tentang mendokumentasikan. Tapi juga tentang belajar. Belajar tentang kehidupan, tentang manusia, dan tentang arti persaudaraan," gumam Lev.

Keesokan paginya, sebelum meninggalkan Amuntai, mereka menyempatkan diri untuk berpamitan dengan beberapa warga yang mereka temui. Mereka mendatangi warung kopi tempat mereka mengobrol semalam, dan bertemu lagi dengan Pak Pensiunan dan teman-temannya.

"Wah, Nak. Sudah mau pulang?" tanya Pak Pensiunan.

"Iya, Pak. Kami mau lanjut ke kabupaten selanjutnya," jawab Rauf.

Pak Pensiunan dan teman-temannya menyalami Lev dan Rauf satu per satu. Mereka mendoakan Lev dan Rauf agar selamat di perjalanan, dan agar misi mereka berhasil.

"Jangan lupa mampir lagi, Nak. Di sini, kalian sudah kami anggap keluarga," kata Pak Pensiunan, dengan senyum tulus.

Lev merasa terharu. Ia merasa, ia sudah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar foto atau cerita. Ia mendapatkan keluarga baru.

Mereka juga menyempatkan diri untuk berpamitan dengan Ibu Salmah, tukang anyam purun yang membuat Lev kerepotan. Ibu Salmah memberikan mereka beberapa buah manggis dari kebunnya sebagai bekal perjalanan.

"Ini, Nak. Dimakan di jalan. Biar enggak bosan," kata Ibu Salmah.

Lev dan Rauf berterima kasih. Mereka merasa, kebaikan warga Amuntai tidak ada habisnya.

Di dalam mobil, dalam perjalanan menuju kabupaten selanjutnya, Balangan, Lev tidak heboh seperti biasanya. Ia sibuk merenungkan semua kejadian di Amuntai. Tentang warung kopi yang ramai, tentang tukang anyam yang sabar, dan tentang jalinan persaudaraan yang tulus.

"Rauf, aku mau catat sesuatu," kata Lev.

"Catat apa lagi?" tanya Rauf.

"Catatan hari ini: Persaudaraan itu bukan cuma soal darah. Tapi juga soal hati. Soal bagaimana kita saling peduli, saling berbagi, dan saling menerima. Di Amuntai, aku belajar, bahwa jalinan persaudaraan itu bisa datang dari mana saja. Bahkan dari orang-orang yang baru kita kenal," Lev berkata, sambil menulis di buku catatannya.

Rauf tersenyum. "Baguslah kalau begitu, Lev. Berarti kamu sudah semakin mengerti."

Lev mengangguk. Ia tahu, petualangan ini tidak hanya mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Tapi juga mengubah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Babak ketiga, ternyata juga penuh kejutan. Dan ia, sudah tidak sabar untuk melanjutkan babak-babak selanjutnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default