Suasana di rumah dinas Muhammad Hifni di Murung Pudak mendadak berubah menjadi panggung drama pada Selasa pagi. Penyebabnya bukan karena laporan kantor Hifni yang hilang, melainkan karena si Jagau tertangkap basah sedang mencoba menyeret seekor ikan haruan (gabus) besar dari atas meja dapur—ikan yang rencananya akan dimasak Rina menjadi Gangan Asam untuk makan siang.
"Jagau! Put it down! That’s for our lunch!" teriak Rina Rufida sambil mengayunkan serbet dapur.
Si Jagau, dengan insting "preman pasar Mabu’un" yang masih melekat kuat, tidak langsung menyerah. Ia sempat menatap Rina dengan pandangan menantang sebelum akhirnya menjatuhkan ikan itu ke lantai semen dan melesat keluar lewat jendela samping.
Khalisah Salsabilla yang baru saja bangun tidur hanya berdiri di ambang pintu dapur, mengucek matanya yang masih mengantuk. "Bunda, Jagau cuma mau bantu cek apakah ikannya sudah segar atau belum," ucapnya polos sambil menghampiri ikan haruan yang kini sudah penuh bekas gigitan.
"Cek segar atau tidak itu tugas Abah di pasar, Khalisah, bukan tugas kucing," sahut Rina sambil mendesah lelah. "Lihat ini, Bunda harus cuci lagi berkali-kali. This cat is getting out of control."
Tepat saat itu, Muhammad Hifni masuk ke dapur dengan seragam PNS yang sudah rapi, namun wajahnya tampak sedikit tegang. Di tangannya ada sebuah ponsel yang terus bergetar.
"Bun, Dokter Dina telepon," ucap Hifni dengan nada yang ia buat sedatar mungkin. "Katanya Naura mogok makan karena Snowee sedang sakit perut. Dia minta tolong apakah Khalisah bisa datang ke rumahnya sore ini? Naura bilang, Snowee hanya mau bangun kalau ada Khalisah."
Rina menghentikan aktivitas mencuci ikannya. Ia menatap suaminya dengan tatapan menyelidik. "Sakit perut? Bukannya kemarin baru makan salmon premium?"
"Mungkin Snowee kaget dengan udara luar kemarin," jawab Hifni cepat.
Sore harinya, keluarga Hifni kembali meluncur menuju perumahan elit di Tanjung. Khalisah tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa "ramuan rahasia" yang ia klaim bisa menyembuhkan segala penyakit kucing: seikat rumput teki yang ia cabut dari halaman belakang rumah dinas mereka.
"Kata Jagau, kalau perut sakit, kita harus makan rumput," bisik Khalisah kepada ibunya di mobil.
Sesampainya di rumah besar dengan pagar putih itu, mereka disambut oleh drg. Dina Yulianti yang tampak cemas. Di dalam kamar Naura yang ber-AC dan penuh dengan boneka, Naura Salsabilla duduk di lantai sambil memeluk Snowee yang tampak lemas. Kucing putih itu hanya berbaring, matanya setengah tertutup, mengabaikan makanan basah di piring kristalnya.
"Snowee tidak mau makan, Khalisah," isak Naura. "Bunda bilang mungkin dia kuman-kuman dari luar."
Khalisah mendekat. Ia duduk bersila di samping Naura—sebuah pemandangan dua anak kecil dengan nama belakang sama yang kembali membuat Hifni dan Dina yang berdiri di pintu kamar saling pandang dengan canggung.
"Snowee, ini rumput dari rumahku. Ini namanya rumput sakti," ucap Khalisah sambil meletakkan rumput teki itu di depan hidung Snowee.
Keajaiban terjadi, atau mungkin sekadar insting alami. Snowee yang selama ini hanya mengenal makanan kaleng, mulai mengendus-endus rumput hijau itu. Tak lama kemudian, kucing bangsawan itu mulai mengunyah ujung-ujungnya dengan pelan. Beberapa menit setelahnya, Snowee berdiri, meregangkan tubuhnya, dan mengeluarkan bunyi "Meow" yang nyaring.
"Bunda! Snowee bangun! Rumput Khalisah berhasil!" teriak Naura kegirangan. Ia langsung memeluk Khalisah dengan erat.
Dina menghela napas lega. "Luar biasa. Kadang kita yang terlalu 'steril' ini lupa bahwa mereka tetaplah binatang yang butuh alam." Ia menoleh ke arah Rina dan Hifni. "Terima kasih banyak ya. Sebagai rasa terima kasih, kalian harus ikut makan malam di sini. Saya sudah pesan Sate Itik khas Alabio yang paling enak di Tanjung."
Makan malam itu menjadi momen "diplomasi meja makan" yang tak terduga. Di tengah aroma sate itik yang menggugah selera, Rina Rufida mulai melancarkan serangan pertanyaan yang sudah ia siapkan sejak pagi.
"Dokter Dina, saya penasaran sekali. Kenapa Dokter memberi nama 'Salsabilla' juga untuk Naura? Rasanya jarang ada kebetulan seperti ini di kota sekecil Tanjung," tanya Rina sambil tersenyum manis, namun matanya tetap tajam.
Dina terdiam sejenak, melirik Hifni yang mendadak sangat sibuk mengunyah bumbu kacang satenya.
"Dulu, waktu saya kuliah kedokteran gigi di Banjarmasin, saya punya sahabat yang sangat saya kagumi," jawab Dina pelan. "Dia selalu bilang kalau punya anak perempuan, dia ingin memberi nama yang menyejukkan. Salsabilla. Saya pikir, itu adalah janji yang indah. Jadi saat Naura lahir, saya memutuskan untuk menggunakan nama itu sebagai penghormatan atas masa muda yang... penuh semangat."
Rina mengangguk-angguk. "Oh, jadi semacam janji lama ya? Wah, beruntung sekali sahabat Dokter itu namanya diingat sampai sekarang."
Hifni hampir tersedak air minumnya. "Eh, kuahnya sedikit pedas ya, Dok," ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Sementara orang dewasa itu terjebak dalam teka-teki kata, di bawah meja makan, Khalisah dan Naura sedang sibuk berbagi potongan daging itik untuk Snowee—yang kini sudah kembali lincah.
"Naura, besok aku ajari Jagau pakai kalung yang kamu beli ya," bisik Khalisah. "Tapi kita harus hati-hati, Jagau itu kalau pakai kalung suka merasa seperti harimau."
Naura tertawa. Persahabatan mereka di Bumi Saraba Kawa ini semakin erat karena bulu-bulu kucing, melampaui rahasia-rahasia lama yang mungkin saja suatu hari akan terungkap di bawah hangatnya mentari Tabalong.
Info Penting untuk Pemilik Kucing:
Seperti Snowee, kucing terkadang memakan rumput untuk membantu pencernaan mereka atau mengeluarkan hairball. Pastikan rumput yang dimakan kucing Anda tidak terkena pestisida. Untuk menjaga kesehatan pencernaan kucing ras, Anda bisa memberikan suplemen khusus yang tersedia di Lazada atau berkonsultasi dengan dokter hewan melalui aplikasi Halodoc.
Jika Anda berada di wilayah Tabalong dan memerlukan bantuan darurat untuk hewan peliharaan, jangan ragu untuk menghubungi Puskeswan Tabalong melalui informasi di Situs Resmi Kabupaten Tabalong.
