Bab 21: Canberra, Ibu Kota yang Tenang

Bab 21: Canberra, Ibu Kota yang Tenang

Lev
0

Setelah petualangan di Blue Mountains yang sejuk dan menyegarkan, Lev dan Jessica kembali ke jalan raya, mengemudi menuju Canberra, ibu kota Australia. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Sydney, tapi suasananya jauh berbeda. Saat memasuki kota, Lev langsung merasakan perbedaan itu. Jalanan tidak seramai di Sydney atau Melbourne, dan gedung-gedung pemerintahan yang megah mendominasi pemandangan.

"Selamat datang di Canberra, kota para politikus!" seru Jessica dengan nada dramatis. "Di sini, semuanya tenang, tertata, dan ... sedikit membosankan."

"Membosankan?" Lev mengerutkan kening. "Menurutku tidak. Aku suka suasana yang tenang. Lagipula, ini ibu kota. Pasti banyak hal menarik di sini."

Mereka menginap di sebuah motel kecil yang sederhana tapi bersih. Setelah menaruh barang-barang, mereka langsung mengunjungi Parliament House, gedung parlemen Australia. Arsitekturnya yang modern dan megah membuat Lev terkesima. Mereka berkeliling di dalam gedung, melihat ruang-ruang rapat, dan mendengarkan penjelasan dari seorang pemandu wisata.

"Aku jadi berpikir, Jess," kata Lev. "Di sini, semua hal diatur dengan sangat teratur. Ada sistem, ada aturan. Di Banjarmasin, kami juga punya aturan, tapi tidak seformal ini."

"Itu karena Canberra memang dirancang untuk menjadi pusat pemerintahan," jawab Jessica. "Beda dengan kota-kota lain yang tumbuh secara alami."

Setelah mengunjungi Parliament House, mereka berjalan-jalan di sekitar Lake Burley Griffin, danau buatan yang menjadi pusat kota Canberra. Angin sejuk menerpa wajah mereka. Mereka duduk di sebuah bangku di tepi danau, menikmati pemandangan.

"Tenang sekali di sini," kata Lev. "Aku suka. Rasanya seperti sedang berada di taman raksasa." 

"Di sini memang banyak taman, Lev," kata Jessica. "Dan juga banyak museum. Kita bisa kunjungi museum-museum itu besok."

Keesokan harinya, mereka mengunjungi beberapa museum, seperti National Museum of Australia dan Australian War Memorial. Di National Museum, Lev belajar banyak tentang sejarah Australia, dari masa prasejarah hingga masa modern. Ia melihat artefak-artefak dari suku Aborigin, dan ia merasa terhubung dengan budaya mereka.

Di Australian War Memorial, mereka melihat pameran tentang perang-perang yang pernah melibatkan Australia. Lev, yang diajarkan untuk mencintai perdamaian, merasa sedih melihat betapa banyak nyawa yang hilang karena perang.

"Perang itu tidak pernah membawa kebaikan, Jess," kata Lev. "Hanya membawa penderitaan."

"Aku setuju, Lev," kata Jessica. "Tapi aku percaya, dengan belajar dari masa lalu, kita bisa menciptakan masa depan yang lebih baik."

Lev mengangguk setuju. "Itu juga yang diajarkan dalam Islam. Kami diajarkan untuk selalu mengupayakan perdamaian. Islam itu artinya damai."

Jessica tersenyum. Ia merasa bangga dengan persahabatannya dengan Lev. Lev tidak hanya mengajarkannya tentang Islam, tapi juga tentang kebijaksanaan, kedamaian, dan kemanusiaan.

Di Canberra, kota yang tenang dan teratur, Lev dan Jessica menemukan banyak pelajaran berharga. Mereka belajar bahwa di balik ketenangan, ada banyak cerita yang bisa ditemukan. Mereka juga belajar bahwa perbedaan tidak menghalangi mereka untuk saling belajar dan menghargai. Canberra menjadi saksi bisu dari persahabatan yang semakin dewasa dan bijaksana. Mereka siap melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya, Brisbane.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default