Bab 16: Kekhawatiran Alex

Bab 16: Kekhawatiran Alex

Lev
0

Hubungan Alex dan Eva terus berkembang, tetapi di baliknya, kecemasan Alex semakin tumbuh. Setelah pesta musim panas yang meriah dan percakapan filosofis di kedai kopi, Alex mulai memperhatikan detail-detail kecil yang selama ini ia abaikan. Eva tidak pernah sakit, kulitnya selalu tampak sempurna, dan cara ia berbicara tentang masa lalu—begitu akrab, begitu penuh detail seperti ia benar-benar ada di sana.

Malam itu, Alex mendapati dirinya tidak bisa tidur. Ia bangkit dari tempat tidur, mengambil sketsa Eva yang ia buat. Ia menatap mata Eva di sketsa itu. Mata itu, yang begitu tua, begitu penuh dengan cerita, tetapi berada di wajah yang begitu muda. Itu adalah teka-teki yang tidak bisa ia lupakan.

Keesokan harinya, Alex pergi ke toko antik Eva. Eva sedang sibuk menata sebuah guci porselen yang indah, yang ia klaim berasal dari Cina, dari masa Dinasti Ming.

"Guci yang indah," kata Alex.

"Ya," jawab Eva. "Aku mendapatkannya dari seorang pedagang di China. Dia sangat jujur, tidak seperti beberapa orang yang kukenal."

"Pernahkah kau berpikir untuk menikah?" tanya Alex, tiba-tiba.
Eva terkejut. Pertanyaan itu datang begitu saja. Ia meletakkan guci itu dengan hati-hati. "Aku... tidak pernah memikirkannya."

"Kenapa tidak?" tanya Alex. "Kau begitu cantik, kau pasti punya banyak pria yang mengagumimu."

Eva tersenyum pahit. "Karena... aku akan hidup lebih lama dari mereka. Aku akan menyaksikan mereka menua, dan aku akan menyaksikan mereka pergi. Aku tidak bisa melakukan itu pada siapa pun."

Alex terdiam. Ia mengerti. Ia telah mendengar ceritanya tentang Daniel Finch dan Pierre. Ia tahu, cinta bagi Eva adalah sebuah kutukan, bukan anugerah.

"Tapi... apakah itu adil untukmu?" tanya Alex, suaranya pelan. "Apakah adil bagimu untuk hidup sendiri selamanya, hanya karena kau tidak ingin melihat orang yang kau cintai pergi?"

"Itu adalah takdirku, Alex," jawab Eva.

"Takdir tidak menentukan segalanya," kata Alex, mengulangi kata-katanya dari malam itu. "Kau yang menentukan. Kau bisa memilih untuk mencintai, Eva. Kau bisa memilih untuk bahagia, meskipun itu hanya untuk sementara."

Eva tidak menjawab. Ia kembali menata guci itu, tangannya sedikit gemetar.

"Aku takut," kata Alex, suaranya bergetar. "Aku takut akan jatuh cinta padamu, Eva. Dan aku takut... aku tidak akan bisa menerima takdir itu."

Eva menatap Alex, matanya berkaca-kaca. Ia melihat ketakutan di mata Alex. Ketakutan yang sama yang pernah ia rasakan, ribuan tahun yang lalu. Ketakutan akan perpisahan.

"Aku tidak memintamu untuk jatuh cinta padaku, Alex," kata Eva, suaranya lembut.

"Aku tidak bisa mengendalikannya," kata Alex. "Itu terjadi begitu saja. Kau... kau begitu memesona. Kau begitu misterius. Kau begitu... sempurna. Dan itu membuatku takut. Karena aku tidak sempurna. Aku fana."

Alex mengambil napas dalam-dalam. "Aku ingin kau jujur padaku, Eva. Aku tidak peduli tentang masa lalumu. Aku hanya ingin tahu... kapan kau akan pergi? Kapan kau akan menghilang, seperti yang kau lakukan pada semua orang?"

Eva tidak bisa menjawab. Ia tidak bisa berbohong lagi. Ia tidak bisa mengatakan ia tidak akan pergi. Karena ia tahu, ia akan. Ia akan pergi, ketika waktunya tiba.

"Aku... tidak tahu," jawab Eva, suaranya pecah.

Alex mengangguk, matanya dipenuhi kesedihan. Ia mengerti. Ia mengerti bahwa Eva adalah entitas yang abadi, yang akan selalu berjalan sendirian, sementara ia, dan semua orang yang ia kenal, akan menjadi debu.

Alex meninggalkan toko Eva, meninggalkan Eva sendirian lagi dengan kesedihan yang ia coba lupakan. Eva memandang guci itu, dan ia merasa, ia tidak lagi memiliki tempat di dunia ini. Ia hanyalah sebuah kenangan, yang menunggu untuk pergi. Dan kali ini, ia tahu, ia telah menyakiti seseorang yang tulus. Dan itu, adalah hal yang paling menyakitkan dari semuanya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default