Dari Samarinda, perjalanan Lev dan Faruq berlanjut ke kawasan yang berbeda: area pertambangan di Kutai Kartanegara. Mereka ingin mendokumentasikan sisi lain kehidupan masyarakat yang berada di tengah industri besar ini. Perjalanan kali ini menggunakan kendaraan sewaan yang lebih tangguh, untuk menghadapi medan jalan yang berat.
"Lev, kali ini tidak ada peta digital yang salah, ya?" Faruq menyindir, sambil memandang Lev yang hanya tersenyum.
"Tenang, Faruq. Aku sudah belajar. Kali ini aku mengandalkan insting," balas Lev.
Mereka melewati jalan yang berdebu dan penuh dengan truk-truk besar. Pemandangan hijau hutan perlahan berganti dengan bukit-bukit yang gundul dan lubang-lubang besar bekas galian tambang. Lev merasakan suasana yang berbeda, jauh dari desa-desa yang damai yang ia kunjungi sebelumnya.
"Di sini, banyak orang yang mencari rezeki, Lev. Hidup mereka keras, tapi mereka punya semangat yang kuat," kata Faruq.
Lev mengangguk. Ia melihat para pekerja tambang, wajah-wajah mereka terlihat lelah, tapi mata mereka memancarkan harapan. Ia mengeluarkan kameranya, ingin mengabadikan setiap momennya.
"Aku mau memotret perjuangan mereka, Faruq," bisik Lev.
Faruq tersenyum. "Ide bagus."
Mereka tiba di sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan. Warung itu ramai dengan para pekerja tambang yang sedang beristirahat. Lev merasa, ini adalah tempat yang tepat untuk memulai.
"Assalamualaikum," sapa Lev dan Faruq.
"Waalaikumsalam, ayo masuk, nak," sapa pemilik warung, seorang pria paruh baya yang terlihat ramah.
Mereka duduk di kursi kayu panjang. Lev memesan kopi hangat, dan Faruq memesan teh manis.
"Pak, apa di sini banyak yang bekerja di tambang?" tanya Lev.
Pemilik warung tersenyum. "Hampir semua, nak. Di sini, kami hidup dari tambang. Tapi kami tidak melupakan agama kami. Kami tetap shalat, dan kami tetap bersyukur."
Lev merasa kagum. Ia melihat, bagaimana agama bisa menjadi penopang hidup di tengah kerasnya kehidupan. Ia merasa terinspirasi.
Setelah minum kopi, Lev mulai memotret. Ia memotret wajah-wajah para pekerja tambang, ia memotret warung kopi, ia memotret suasana di sekitar warung. Ia merasa senang, ia mendapatkan banyak foto yang bagus.
Saat ia sedang asyik memotret, seorang pekerja tambang datang menghampirinya. Pria itu terlihat kekar, dengan wajah yang penuh debu.
"Mas, foto apa?" tanya pekerja tambang itu.
"Saya sedang mendokumentasikan kehidupan di sini, mas. Boleh saya foto mas?" tanya Lev.
Pekerja tambang itu tersenyum. "Silakan, mas. Tapi jangan foto wajah saya, ya. Nanti istri saya marah."
Lev tertawa. "Tidak, mas. Saya akan foto punggung mas saja."
Pekerja tambang itu mengangguk. Lev memotret punggung pria itu, ia melihat, di balik punggung yang kekar itu, terdapat beban yang berat.
Setelah selesai memotret, Lev berterima kasih kepada pekerja tambang itu. Mereka berdua terlibat dalam perbincangan ringan. Pria itu bercerita tentang kehidupannya, tentang pekerjaannya, dan tentang keluarganya.
"Mas, bekerja di tambang itu berat. Tapi saya harus melakukannya, untuk keluarga. Saya ingin anak-anak saya bisa sekolah tinggi, dan tidak harus bekerja seperti saya," kata pekerja tambang itu.
Lev merasa terharu. Ia merasa mendapatkan pelajaran berharga. Ia merasa, di balik setiap perjuangan, pasti ada harapan.
Setelah berpamitan dengan pekerja tambang itu, Lev dan Faruq melanjutkan perjalanan mereka. Lev melihat ke belakang, ia melihat warung kopi itu, ia melihat para pekerja tambang. Ia merasa, ia sudah lebih mengerti tentang kehidupan.
Perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.
