Bab 21: Tersesat dan Pesta Kenduri di Tapin

Bab 21: Tersesat dan Pesta Kenduri di Tapin

Lev
0

Perjalanan dari Amuntai menuju Balangan, kabupaten selanjutnya, memakan waktu sekitar dua jam. Lev dan Rauf sudah merasa seperti petualang sejati, tidak lagi canggung dengan jalanan yang berliku dan pemandangan yang berubah. Lev, dengan buku catatannya yang hampir penuh, sibuk menuliskan kesan-kesan terakhirnya tentang Amuntai.

"Amuntai itu kayak buku sejarah, Rauf. Banyak cerita, banyak peninggalan. Tapi, yang paling berkesan, jalinan persaudaraannya," gumam Lev.

Rauf mengangguk. "Memang. Orang-orangnya ramah, tulus, dan apa adanya. Aku jadi berpikir, di kota, kita terlalu sibuk sama diri sendiri."

Tapi karena tiba-tiba kita salah belok dan menuju arah jalan pulang, dan akhirnya sampai menuju Kabupaten Tapin karena hari sudah sore kami memutuskan untuk menginap semalam dulu. 

Memasuki kota Rantau, ibukota Kabupaten Tapin. Kota ini terasa lebih ramai dibandingkan Amuntai, dengan deretan toko-toko modern yang mulai menjamur. Namun, di balik itu, masih tersimpan nilai-nilai tradisional yang kuat.

Setelah mencari penginapan, mereka memutuskan untuk jalan-jalan sore. Di sebuah jalan, mereka melihat keramaian di sebuah rumah. Terlihat tenda-tenda didirikan, dan banyak orang yang berdatangan.

"Rauf, kayaknya ada pesta. Kita mampir, yuk," ajak Lev, bersemangat.

Rauf menolak. "Enggak, Lev. Nanti kita dikira enggak diundang."

"Enggak apa-apa, Rauf. Ini kan pesta, pasti banyak makanan. Lagipula, kan kita mau mendokumentasikan kehidupan di sini. Ini bagian dari itu," Lev meyakinkan.

Akhirnya, dengan beberapa rayuan Lev, Rauf pun setuju. Mereka menghampiri rumah itu. Terlihat ada pesta kenduri, acara syukuran untuk pernikahan anak dari pemilik rumah. Lev dan Rauf disambut dengan hangat oleh pemilik rumah.

"Silakan, Nak. Masuk saja. Jangan malu-malu," kata pemilik rumah, seorang bapak paruh baya yang ramah.

Lev dan Rauf duduk di sebuah meja, diisi oleh beberapa bapak-bapak yang sudah tua. Lev langsung memulai percakapan.

"Selamat sore, Pak. Boleh gabung?" tanyanya ramah.

Bapak-bapak itu menyambut mereka dengan hangat. Mereka memperkenalkan diri, dan Lev menceritakan tujuan mereka datang ke Tapin.

"Oalah, dari Banjarmasin. Jauh-jauh," kata salah satu bapak.
Mereka mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari cerita tentang Tapin di masa lalu, hingga cerita tentang pernikahan anak muda zaman sekarang yang lebih suka pakai adat modern. Lev mendengarkan dengan seksama, sesekali menyela dengan pertanyaan.

"Pak, kenapa pesta kenduri di sini selalu ramai?" tanya Lev, penasaran.

"Karena di sini, pernikahan itu bukan cuma menyatukan dua orang, Nak. Tapi juga menyatukan dua keluarga, dua desa. Di sini, kita semua keluarga," jawab Bapak, bijak.

Saat sedang asyik mengobrol, Lev melihat ada sekelompok pemuda yang sedang menyiapkan panggung. Terlihat ada alat musik tradisional. Lev langsung bersemangat.

"Rauf, itu pasti mau ada pertunjukan. Ayo kita lihat," bisik Lev.
Mereka beranjak dari meja, dan menghampiri panggung. Ternyata, sekelompok pemuda itu akan memainkan musik tradisional Banjar, hadrah. Lev langsung mengeluarkan ponselnya, merekam pertunjukan itu.

"Rauf, ini nih. Kekayaan budaya Banjar. Keren banget," bisik Lev.

Rauf mengangguk. "Memang. Di sini, tradisi masih dijaga dengan baik."

Setelah pertunjukan hadrah selesai, Lev kembali ke meja. Ia merasa, ia sudah mendapatkan pelajaran berharga lagi. Bahwa tradisi, tidak hanya bisa dijaga oleh orang tua. Tapi juga oleh anak muda.

Malam itu, mereka kembali ke penginapan dengan perasaan senang. Lev merasa, ia sudah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar foto atau cerita. Ia mendapatkan pengalaman baru, dan pelajaran berharga tentang tradisi.

"Rauf, aku mau catat sesuatu," kata Lev.

"Catat apa lagi?" tanya Rauf.

"Catatan malam ini: Kami tersesat tapi tersesat mempunyai banyak hikmah dengan Pesta kenduri di Tapin mengajarkanku tentang tradisi. Bahwa tradisi itu bukan cuma warisan leluhur. Tapi juga bagian dari identitas kita. Dan kita, sebagai anak muda, harus menjaganya," Lev berkata, sambil menulis di buku catatannya.

Rauf tersenyum. "Baguslah kalau begitu, Lev. Berarti kamu sudah semakin mengerti."
Lev mengangguk. Ia tahu, petualangan ini tidak hanya mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Tapi juga mengubah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Babak keempat, ternyata juga penuh kejutan. Dan ia, sudah tidak sabar untuk melanjutkan babak-babak selanjutnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default