Misi di Timber selesai, tetapi dengan hasil yang pahit. Rinoa diculik oleh pasukan Galbadia, dan tim SeeD kembali ke markas Forest Owls dengan rasa bersalah. Mereka harus menyelamatkan Rinoa dan menggagalkan rencana Edea selanjutnya.
Di tengah kekacauan strategi dan rasa khawatir, Lev mencoba menenangkan diri. Dia tahu alur cerita ini. Dia tahu ada jalan keluar. Pikirannya melayang ke salah satu momen paling unik dalam Final Fantasy VIII: kilas balik (flashback) ke masa lalu Laguna Loire.
Saat tim beristirahat, fenomena aneh terjadi. Kesadaran mereka, termasuk Lev, terlempar ke masa lalu, ke dalam tubuh tentara Galbadia bernama Laguna, Kiros, dan Ward. Mereka berada di sebuah kafe di desa Winhill.
Lev, yang kini berada dalam tubuh Laguna, melihat sekeliling. Lingkungannya terasa damai, jauh dari hiruk pikuk perang atau intrik politik. Laguna adalah sosok tentara yang ceroboh, lucu, dan punya impian menjadi jurnalis. Kontras sekali dengan Squall yang pendiam dan serius.
"Wah, ini Laguna. Sosok ayah Squall nih," pikir Lev, merasa geli berada di dalam tubuh karakter yang punya peran penting di masa depan.
Dalam tubuh Laguna, Lev merasakan sensasi yang aneh. Sosok ini terasa lebih hangat, lebih ceria. Dia melihat Kiros dan Ward, dua sahabat setia Laguna. Mereka bertiga sedang santai setelah misi yang gagal di hutan.
"Hei, Laguna, berhentilah melamun. Kita harus cari kerja sambilan untuk bayar sewa penginapan," kata Kiros, yang kini dirasuki oleh kesadaran Squall. Wajah Squall (dalam tubuh Kiros) tetap datar, tapi kata-katanya penuh urgensi.
"Santai, Kiro! Masih ada waktu. Lihat nih, ada bartender cantik," jawab Lev, dengan suara Laguna yang ceria, mencoba menggoda NPC bartender bernama Julia Heartilly—ibunda Rinoa di masa depan.
Adegan itu penuh komedi. Lev (sebagai Laguna) mencoba bersikap cool, tapi malah tersandung kabel gitar dan jatuh terguling, membuat Julia tertawa. Kelakuan Lev/Laguna ini mengingatkannya pada salah satu pamannya di Banjarmasin yang suka melucu tapi seringkali garing.
"Paman Udin banget nih gayanya," batin Lev sambil tertawa dalam hati.
Di masa lalu itu, Lev menyadari pentingnya momen-momen kecil, persahabatan, dan impian. Laguna, meski ceroboh, punya hati yang tulus. Kilas balik itu memberikan jeda yang sangat dibutuhkan dari ketegangan misi utama.
Di sela-sela petualangan dalam kilas balik, Lev (sebagai Laguna) sempat mampir ke gereja di Winhill. Dia melihat suasana gereja yang damai. Meskipun berbeda keyakinan, Lev menghargai ketenangan tempat ibadah itu. Dia berdoa secara pribadi di sudut gereja, memohon agar misi di masa depan berjalan lancar dan Rinoa selamat.
"Ya Allah, semoga kita bisa menyelamatkan Rinoa. Jauhkan kami dari bahaya sihir Edea," bisiknya dalam hati.
Kilas balik berakhir, dan kesadaran mereka kembali ke markas Forest Owls di Timber. Wajah-wajah tim SeeD terlihat lebih segar, seolah momen singkat di masa lalu Laguna memberikan mereka energi baru.
"Laguna itu... orang yang aneh," komentar Squall, kembali ke tubuhnya sendiri. Ada sedikit senyum tipis di bibirnya, sesuatu yang sangat jarang terjadi.
"Tapi dia lucu dan baik," tambah Rinoa, yang baru saja berhasil diselamatkan oleh tim SeeD (cerita penyelamatan Rinoa terjadi di antara bab 7 dan 8, sebagai bagian dari alur FF8 yang cepat).
Lev menatap Squall. Dia tahu bahwa Laguna adalah ayah biologis Squall, sebuah plot twist besar dalam game. Lev merasa koneksi emosional yang aneh dengan Laguna. Sosok yang konyol tapi penuh cinta, mirip pamannya di Banjarmasin.
"Mungkin kita harus lebih santai kayak Laguna," saran Lev. "Hidup ini jangan tegang terus, Squall. Kayak Paman Udin gue, banyak becanda, tapi hatinya baik."
Squall tidak menanggapi, tapi dia tidak terlihat semarah biasanya.
Kilas balik Laguna tidak hanya berfungsi sebagai narasi cerita, tetapi juga sebagai refleksi bagi Lev. Di dunia nyata Banjarmasin, pamannya, Paman Udin, sedang sibuk menghibur Hajjah Halimah yang masih bersedih karena kehilangan Lev. Paman Udin, dengan segala kekonyolannya, adalah pilar kekuatan keluarga.
Lev sadar, di dunia game ini, dia menemukan figur 'paman' dalam diri Laguna. Momen itu mengajarkan Lev bahwa kepahlawanan bisa datang dalam berbagai bentuk, tidak harus selalu serius seperti Squall, tapi juga bisa melalui kehangatan, humor, dan ketulusan, seperti Paman Udin dan Laguna Loire.
