Tahun 1999 akan selalu dikenang sebagai tahun di mana Manchester United melakukan hal yang mustahil. Dalam rentang waktu 10 hari yang mendebarkan, "Setan Merah" berhasil menyapu bersih tiga gelar paling bergengsi: Premier League, Piala FA, dan Liga Champions. Hingga saat ini, pencapaian tersebut tetap menjadi standar tertinggi kesuksesan sebuah klub di Inggris.
Gelar Pertama: Menaklukkan Premier League di Pekan Terakhir
Persaingan liga musim 1998/1999 adalah salah satu yang paling ketat dalam sejarah. United harus bersaing hingga tetes darah terakhir dengan sang juara bertahan, Arsenal.
Di pekan terakhir, United harus menang melawan Tottenham Hotspur di Old Trafford. Sempat tertinggal lebih dulu, gol dari David Beckham dan Andy Cole membalikkan keadaan. Kemenangan 2-1 tersebut memastikan gelar Premier League jatuh ke tangan United dengan selisih hanya satu poin dari Arsenal.
Gelar Kedua: Dominasi di Piala FA
Hanya enam hari setelah menjuarai liga, United menghadapi Newcastle United di final Piala FA yang berlangsung di Stadion Wembley. Berbeda dengan ketegangan di liga, United tampil sangat dominan.
Gol dari Teddy Sheringham dan Paul Scholes memastikan kemenangan 2-0. Trofi kedua berhasil diamankan, dan mata dunia mulai tertuju pada Barcelona, tempat final Liga Champions akan digelar. Manchester United berada di ambang sejarah besar.
Gelar Ketiga: Malam Keajaiban di Camp Nou
26 Mei 1999 adalah malam yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun yang mencintai sepak bola. Manchester United menghadapi raksasa Jerman, Bayern Munchen, di final Liga Champions.
United bermain tanpa dua jenderal lini tengahnya, Roy Keane dan Paul Scholes, yang terkena akumulasi kartu. Bayern mencetak gol cepat di menit ke-6 melalui Mario Basler dan mendominasi hampir seluruh pertandingan. Dua kali bola tembakan pemain Bayern membentur tiang gawang United.
Tiga Menit yang Mengguncang Dunia
Ketika ofisial pertandingan mengangkat papan tambahan waktu 3 menit, fans Bayern sudah mulai merayakan kemenangan. Namun, Sir Alex Ferguson memasukkan dua "senjata rahasia": Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer.
Menit 90+1: Tendangan sudut David Beckham menimbulkan kemelut, bola jatuh ke kaki Sheringham yang langsung menyambarnya ke gawang. Skor 1-1.
Menit 90+3: Tendangan sudut kembali dari Beckham, sundulan Sheringham diteruskan oleh sontekan tajam Solskjaer ke atap gawang. Skor 2-1.
Dalam waktu kurang dari tiga menit, United membalikkan keadaan dari kekalahan yang pasti menjadi kemenangan yang abadi. Komentator terkenal Tyldesley berteriak: "Solskjaer has won it!"
Mengapa Treble 1999 Begitu Spesial?
Banyak klub hebat di dunia, namun sangat sedikit yang bisa meraih Treble. Keberhasilan United pada 1999 bukan hanya soal taktik, melainkan tentang mentalitas "Never Say Die" (pantang menyerah) yang ditanamkan Sir Alex Ferguson.
United sering kali mencetak gol di menit-menit akhir sepanjang musim itu, yang kemudian melahirkan istilah "Fergie Time". Skuad 1999 adalah perpaduan sempurna antara pemain senior yang tangguh dan bintang muda akademi yang haus gelar.
Statistik Musim Treble 1999:
Premier League: 79 Poin (22 Menang, 13 Seri, 3 Kalah)
Piala FA: Menang 2-0 vs Newcastle United
Liga Champions: Menang 2-1 vs Bayern Munchen
Top Skor: Dwight Yorke (29 gol di semua kompetisi)
#MU2008
#TrebleWinner1999
#ClassOf92
#EraSirAlexFerguson
