Bab 22: Makanan Prancis Halal

Bab 22: Makanan Prancis Halal

Lev
0

Malam di Paris sering kali identik dengan makan malam romantis di restoran-restoran mewah. Namun, bagi Lev Ryley dan Emily, pencarian kuliner mereka adalah petualangan yang tidak terduga. Setelah insiden salah pesan escargot, mereka berdua lebih berhati-hati dalam memilih restoran. Tentu saja, itu tidak menghentikan Emily untuk sesekali menggoda Lev dengan lelucon tentang keong.

"Jadi, malam ini kita makan apa, Emily?" tanya Lev sambil memeriksa aplikasi peta di ponselnya. "Aku harap bukan keong lagi."

Emily tertawa. "Tenang saja, Lev. Aku sudah punya target. Ada sebuah restoran Prancis yang menyajikan makanan halal, dan aku sudah memastikan menunya."

Mereka berjalan menyusuri jalanan kecil yang dipenuhi kafe dan restoran. Lev, dengan kameranya, memotret suasana malam Paris yang ramai. Ia melihat pasangan-pasangan yang sedang makan malam romantis, keluarga-keluarga yang sedang berkumpul, dan teman-teman yang sedang tertawa.

Mereka tiba di sebuah restoran kecil yang terlihat sederhana, tetapi ramai. Di dalamnya, suasana terasa hangat dan nyaman. Pelayan menyambut mereka dengan senyum ramah, dan Emily, yang kini lebih percaya diri, memesan dengan bahasa Inggris yang lancar.

"Lihat," bisik Emily kepada Lev. "Aku sudah belajar dari kesalahanku. Kali ini, tidak ada keong."

Lev tersenyum. "Syukurlah."

Mereka memesan beberapa hidangan Prancis yang terkenal, seperti steak frites dan crème brûlée. Lev, yang terbiasa dengan kebab Turki dan kari India, merasa penasaran dengan rasa masakan Prancis.

Saat makanan datang, Lev langsung terkesan dengan presentasinya yang elegan. Ia mengeluarkan kameranya dan memotret hidangan-hidangan itu, mencoba menangkap keindahan dari setiap piring.

"Kamu ini, mau makan atau mau memotret?" Emily menggoda lagi.

"Aku akan melakukan keduanya," jawab Lev, sambil memotret hidangan dengan cermat. "Makanan juga bagian dari cerita, Emily."

Mereka makan dengan lahap, menikmati setiap suapan. Daging steak frites yang empuk, kentang goreng yang renyah, dan crème brûlée yang manis membuat Lev merasa sangat bahagia. Ia menyadari bahwa makanan Prancis, meskipun tidak seperti yang ia bayangkan, juga bisa menjadi makanan yang membuatmu bahagia.

Di tengah makan, Lev menyadari sesuatu. Ia melihat Emily sedang memandangnya dengan tatapan aneh.

"Ada apa?" tanya Lev, dengan mulut penuh makanan.

"Aku hanya... melihatmu makan," jawab Emily, dengan senyum jahil. "Kamu terlihat sangat senang."

"Tentu saja," kata Lev. "Aku kan makan makanan yang enak."

Emily lalu mengeluarkan ponselnya dan memotret Lev yang sedang makan dengan lahap. Lev, yang kaget, mencoba menutupi wajahnya, tetapi Emily sudah berhasil mengambil fotonya.

"Ini akan menjadi kenangan yang tak terlupakan," kata Emily, sambil tertawa. "Seorang fotografer profesional yang suka makan."

Lev pura-pura cemberut. "Aku akan membalas dendam."

Mereka menghabiskan malam itu dengan berbincang, tertawa, dan makan makanan yang lezat. Lev merasa bahwa Paris jauh lebih dari sekadar Menara Eiffel dan museum. Paris juga tentang makanan enak, tawa yang tulus, dan persahabatan yang hangat.

Dan dengan Emily di sisinya, ia tahu bahwa setiap petualangan akan menjadi lebih berwarna dan menyenangkan, bahkan jika itu adalah makan malam di restoran yang salah.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default