Bab 22: Momen Haru di Balangan

Bab 22: Momen Haru di Balangan

Lev
0

Setelah menikmati pesta kenduri dan kehangatan masyarakat Tapin, Lev dan Rauf melanjutkan perjalanan menuju Balangan, kami harus kembali melewati Kandangan dan Barabai barulah sampai ke Balangan. Lev sudah tidak sabar untuk melanjutkan petualangan, meskipun ia merasa berat hati meninggalkan Tapin.

"Rauf, aku mulai paham, kenapa Kakek ngirim kita ke sini. Ini bukan cuma tentang dokumentasi, tapi juga tentang belajar. Belajar tentang hidup, tentang manusia, dan tentang tradisi," gumam Lev.

Rauf mengangguk setuju. "Memang, Lev. Di sini, kita belajar banyak hal yang enggak bisa kita dapatkan di kota."
Mereka memasuki kota Paringin, ibukota Kabupaten Balangan. Kota ini terasa lebih sepi dibandingkan Tapin, dengan deretan toko-toko kecil yang berjejer rapi di pinggir jalan. Namun, di balik itu, masih tersimpan keindahan alam yang luar biasa.

Setelah mencari penginapan, mereka memutuskan untuk jalan-jalan sore. Di sebuah jalan, mereka melihat sebuah panti asuhan. Terlihat beberapa anak-anak sedang bermain di halaman. Lev langsung terkesima.

"Rauf, mampir, yuk. Kayaknya seru main sama anak-anak," ajak Lev, bersemangat.

Rauf menolak. "Enggak, Lev. Nanti kita dikira mau nyulik anak."

"Enggak apa-apa, Rauf. Ini kan panti asuhan. Kan kita bisa kasih donasi, atau main sama mereka. Kan bisa jadi kenangan," Lev meyakinkan.

Akhirnya, dengan beberapa rayuan Lev, Rauf pun setuju. Mereka menghampiri panti asuhan itu. Terlihat ada seorang ibu paruh baya yang sedang mengawasi anak-anak bermain. Lev dan Rauf disambut dengan hangat oleh ibu itu.

"Assalamualaikum, Nak. Ada yang bisa ibu bantu?" sapanya.

"Waalaikumsalam, Bu. Kami dari Banjarmasin. Mau mendokumentasikan kehidupan di sini," jawab Rauf.

"Oalah, dari jauh-jauh. Silakan, Nak. Masuk saja. Main sama anak-anak," ibu itu mempersilakan.

Lev dan Rauf masuk ke dalam panti asuhan. Anak-anak langsung menghampiri mereka, meminta diajak bermain. Lev, yang awalnya kikuk, perlahan-lahan mulai akrab dengan anak-anak itu. Ia mengajak mereka bermain bola, petak umpet, dan berbagai permainan lainnya.

Di tengah permainan, Lev melihat seorang anak laki-laki yang duduk sendirian di sudut ruangan. Wajahnya terlihat sedih. Lev menghampirinya.

"Dek, kok sendirian? Enggak mau main sama teman-teman?" tanya Lev, ramah.

Anak itu hanya menggeleng. "Enggak, Kak."

Lev mencoba menghibur anak itu. Ia mengeluarkan permen dari sakunya, lalu memberikannya. "Ini, buat adik. Biar enggak sedih lagi."

Anak itu tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Makasih, Kak."
Lev merasa terharu. Ia merasa, ia sudah mendapatkan pelajaran berharga lagi. Bahwa kebahagiaan itu, bisa datang dari hal-hal yang sederhana. Bahkan dari sebungkus permen.

Setelah bermain dengan anak-anak, Lev dan Rauf berpamitan dengan ibu panti asuhan. Mereka memberikan donasi, dan berterima kasih atas sambutan hangatnya.

"Jangan lupa mampir lagi, Nak. Di sini, kalian sudah kami anggap keluarga," kata ibu itu, dengan senyum tulus.

Lev merasa terharu. Ia merasa, ia sudah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar foto atau cerita. Ia mendapatkan keluarga baru, dan pelajaran berharga tentang arti berbagi.

Malam itu, mereka kembali ke penginapan dengan perasaan senang. Lev merasa, ia sudah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar foto atau cerita. Ia mendapatkan pengalaman baru, dan pelajaran berharga tentang arti berbagi.

"Rauf, aku mau catat sesuatu," kata Lev.

"Catat apa lagi?" tanya Rauf.

"Catatan hari ini: Panti asuhan di Balangan mengajarkanku tentang arti berbagi. Bahwa berbagi itu bukan cuma soal uang. Tapi juga soal waktu, soal perhatian, dan soal kasih sayang. Di sini, aku belajar, bahwa kebahagiaan itu, bisa datang dari hal-hal yang sederhana," Lev berkata, sambil menulis di buku catatannya.

Rauf tersenyum. "Baguslah kalau begitu, Lev. Berarti kamu sudah semakin mengerti."

Lev mengangguk. Ia tahu, petualangan ini tidak hanya mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Tapi juga mengubah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Babak kelima, ternyata juga penuh kejutan. Dan ia, sudah tidak sabar untuk melanjutkan babak-babak selanjutnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default