Dari kota cinta, Paris, Lev dan Emily terbang menuju kota abadi, Roma. Mereka tiba di bawah sinar matahari yang hangat, jauh berbeda dengan cuaca mendung di Manchester dan Paris. Lev, dengan kamera di tangan dan semangat petualangan yang membara, merasa siap untuk menjelajahi kota yang penuh sejarah ini. Emily, dengan buku sketsanya, juga merasa antusias.
Saat mereka berjalan keluar dari stasiun, Lev menyadari sesuatu yang aneh. Kameranya terasa lebih berat dari biasanya. Ia mencoba memeriksa kamera itu, tetapi tidak menemukan sesuatu yang aneh. Ia mengabaikannya, mengira itu hanya perasaannya.
Mereka berjalan menyusuri jalanan Roma yang ramai, melewati Colosseum, Forum Romawi, dan berbagai monumen bersejarah lainnya. Lev memotret setiap sudut yang ia temukan, mencoba menangkap keindahan kota tua itu. Emily, dengan buku sketsanya, membuat sketsa beberapa monumen, mencoba menangkap arsitektur yang megah.
"Ini luar biasa," bisik Lev kepada Emily. "Aku merasa seperti kembali ke masa lalu."
"Itu karena Roma adalah kota yang penuh dengan sejarah," jawab Emily. "Setiap sudutnya punya cerita."
Di tengah-tengah kunjungan mereka, Lev melihat seorang seniman jalanan yang sedang melukis. Ia terkesan dengan lukisan seniman itu, yang menggambarkan pemandangan kota Roma dengan indah. Ia mengeluarkan kameranya dan memotret seniman itu.
Tiba-tiba, seorang pria dengan jas hitam dan topi fedora menghampiri Lev. Pria itu, dengan wajah yang dingin, berkata, "Kamu memotret apa?"
Lev merasa terkejut. "Aku... hanya memotret seniman itu."
Pria itu mengambil kamera Lev dan memeriksanya. Ia melihat foto-foto yang Lev ambil, lalu mengembalikan kamera itu. "Jangan memotret lagi," katanya, dengan nada mengancam. "Atau kamu akan menyesal."
Pria itu lalu pergi, meninggalkan Lev yang kebingungan. Emily, yang melihat kejadian itu, menghampiri Lev.
"Ada apa?" tanyanya.
"Pria itu... dia mengancamku," jawab Lev, terdengar ketakutan.
"Mengancammu? Kenapa?"
"Aku tidak tahu. Dia hanya bilang, 'jangan memotret lagi, atau kamu akan menyesal'."
Mereka berdua merasa bingung dan sedikit takut. Mereka memutuskan untuk tidak memotret lagi, dan melanjutkan perjalanan mereka. Namun, Lev merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Saat mereka berjalan, Lev menyadari sesuatu lagi. Kameranya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Ia memeriksa kamera itu, dan ia menemukan bahwa salah satu lensanya hilang. Lev merasa panik. Lensa itu adalah lensa favoritnya, lensa yang ia gunakan untuk memotret detail-detail kecil.
"Emily, lensaku hilang!" kata Lev, dengan nada putus asa.
Emily memeriksa kamera Lev, dan ia menemukan bahwa lensa itu memang hilang. Mereka berdua mencoba mencari lensa itu di jalanan, tetapi tidak berhasil. Mereka merasa ada sesuatu yang salah. Pria itu, lensa yang hilang, semuanya terasa seperti teka-teki yang tidak bisa mereka pecahkan.
Malam itu, saat mereka berjalan pulang, Lev merasa sangat sedih. Ia kehilangan lensa favoritnya, dan ia merasa tidak aman di Roma. Emily mencoba menenangkannya.
"Tenang, Lev," katanya. "Kita akan mencari tahu apa yang terjadi. Mungkin lensa itu jatuh saat kamu berlari."
Lev menggeleng. "Aku tidak merasa lensa itu jatuh. Ada sesuatu yang tidak beres."
Mereka berdua merasa bahwa Roma adalah kota yang penuh misteri. Dan misteri ini, Lev tahu, harus mereka pecahkan.
