Tahun 2013 – Dapur Kos Nomor 13
Jika ada satu aroma yang paling mampu mendefinisikan kehidupan mahasiswa di Jalan Hasan Basry pada tahun 2013, itu bukanlah aroma parfum refill yang menyengat, melainkan aroma bumbu mie instan yang menyeruak di udara setiap kali tanggal menunjukkan angka di atas dua puluh. Bagi Muhammad Hifni dan kawan-kawannya, akhir bulan adalah fase "hibernasi finansial"—sebuah masa di mana gengsi harus diletakkan jauh-jauh di bawah bantal dan kreativitas kuliner diuji hingga batas maksimal.
Malam itu, hujan mengguyur Banjarmasin dengan deras, membuat udara yang biasanya gerah menjadi dingin menusuk. Suasana di dalam Kos Nomor 13 terasa sunyi, sesunyi isi dompet para penghuninya.
"Hif, aku baru saja mengecek saldo di ATM. Angka di layarnya sudah tidak bergerak, sepertinya mesinnya kasihan padaku," ujar Nazib sambil masuk ke dapur dengan wajah lesu. Di tangannya hanya ada dua bungkus mie instan rasa kaldu ayam yang entah sudah berapa lama tersimpan di pojok lemari.
Amin, yang baru saja mencuci tangan setelah berkutat dengan tanaman di teras, ikut bergabung. "Tenang, Zib. Aku baru saja memanen 'emas hijau' dari balkon." Ia menunjukkan seikat kecil sawi hijau dan segenggam cabai rawit yang sudah memerah. "Ini akan menyelamatkan martabat makan malam kita."
Maka dimulailah ritual "Masak Akbar Akhir Bulan". Sebuah panci besar diletakkan di atas kompor gas satu tungku yang apinya seringkali berwarna merah, tanda gas sudah mulai menipis. Khairi, sang calon guru SD, bertugas mengiris cabai dengan penuh ketelitian seolah sedang menyiapkan alat peraga untuk murid-muridnya.
"Khairi, mengiris cabai itu jangan terlalu tipis, nanti rasanya hilang ditelan air," protes Nazib.
"Sabar, Zib. Ini teknik agar pedasnya merata ke seluruh kuah. Ilmu pendidikan itu harus diterapkan di segala aspek, termasuk urusan perut," sahut Khairi tenang tanpa menoleh.
Irvan Zidni masuk dengan membawa satu butir telur—harta karun terakhir yang ia temukan di balik tumpukan plastik. "Ini telur terakhir. Mari kita bagi lima dengan adil. Secara fikih, berbagi dalam kesulitan itu pahalanya berlipat ganda," ujar Irvan sambil tersenyum bijak.
Hifni, sebagai "Ketua Kos", bertugas mengaduk masakan tersebut. Saat aroma bumbu mulai tercium, mereka berlima duduk melingkar di atas tikar purun ruang tengah. Di tengah-tengah mereka hanya ada satu panci besar berisi mie instan yang dicampur sayuran Amin dan serpihan telur Irvan. Tak lupa, tumpukan kerupuk putih yang sudah agak melempem menjadi pelengkap.
"Bismillah..." ucap mereka serempak.
Di sinilah komedi itu muncul. Karena hanya ada satu panci, mereka harus bergantian menggunakan sendok. Nazib, dengan kelakuan kocaknya, mulai berakting layaknya seorang kritikus makanan di televisi.
"Wah pemirsa, lihatlah tekstur mie ini. Kenyalnya pas, dipadu dengan sawi organik asli 'Kebun Amin', dan aroma cabai 'Pendidikan Khairi' yang menusuk hidung. Ini adalah kuliner bintang lima dengan harga kaki lima... bahkan di bawah kaki lima," ucap Nazib sambil menyeruput kuah dengan suara nyaring.
Tawa pecah memenuhi ruangan. Rasa lapar yang tadinya menyiksa seolah hilang tergantikan oleh hangatnya kebersamaan. Hifni menatap satu per satu wajah sahabatnya. Ia tersadar bahwa momen-momen seperti inilah yang kelak akan mereka rindukan. Di tahun 2013, mereka mungkin belum punya apa-apa secara materi, tapi mereka memiliki kekayaan yang tak bisa dibeli dengan kiriman uang bulanan: solidaritas tanpa batas.
"Kalian tahu?" Hifni membuka suara setelah panci itu bersih tak bersisa hingga ke tetes kuah terakhir. "Nanti kalau kita sudah sukses, sudah punya gaji sendiri, dan makan di restoran mewah, kita harus ingat malam ini. Jangan sampai kita lupa rasanya berbagi satu butir telur untuk lima orang."
Irvan mengangguk. "Benar, Hif. Innama'al 'usri yusra. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Tapi menurutku, kemudahan itu sudah datang sekarang lewat kalian semua."
Malam itu ditutup dengan Nazib yang mencoba mencuci panci sambil bernyanyi lagu galau yang sedang hits di tahun 2013, sementara Amin kembali menghitung bibit padinya. Meski perut mereka hanya diisi mie instan, mimpi mereka tetap setinggi langit Banjarmasin. Mereka adalah pejuang, dan bagi pejuang, akhir bulan hanyalah rintangan kecil menuju kemenangan besar.
Lanjut ke Bab 9: Seminar dan Sajadah – Menyeimbangkan Organisasi dan Ibadah
