Setelah serangan Galbadia yang mengerikan, Balamb Garden diselimuti suasana duka. Banyak kadet dan staf yang gugur dalam pertempuran. Api masih berkobar di beberapa bagian bangunan. Tim SeeD, yang kelelahan namun bersyukur masih hidup, membantu upaya pemulihan dan evakuasi.
Di tengah evakuasi itulah, kabar mengejutkan datang. Presiden Deling, boneka Edea, telah dibunuh oleh Edea sendiri saat siaran langsung. Edea mengambil alih kekuasaan Galbadia sepenuhnya dan mendeklarasikan dirinya sebagai penguasa tunggal. Sebuah kudeta berdarah terjadi di televisi.
Lev yang mendengar kabar itu terhenyak. "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Walaupun dia jahat, tetap saja nyawa manusia itu berharga," gumamnya.
Quistis, yang berada di sebelahnya, menatap Lev. "Di sini, perang memang kejam, Lev. Kematian adalah hal biasa."
"Tapi kita tidak boleh menormalisasi kematian begitu saja. Setiap nyawa itu amanah dari Allah. Kita wajib menghormati jasadnya," jelas Lev, teringat ajaran di Banjarmasin tentang pengurusan jenazah yang benar dan sakral.
Tim SeeD berkumpul. Misi baru ditugaskan kepada mereka: menyusup ke Galbadia Garden, markas Edea yang baru, dan membunuhnya di konsernya yang akan datang. Ini adalah misi paling berbahaya dan kontroversial.
"Membunuh penyihir jahat... itu wajib. Tapi kita harus tetap menghormati jasadnya nanti. Di Banjarmasin, kita mandikan jenazahnya, kafani, shalatkan, lalu kuburkan baik-baik. Itu fardhu kifayah," Lev mencoba menjelaskan konsep pengurusan jenazah kepada timnya yang bingung.
"Fardhu kifayah? Apa itu?" tanya Zell penasaran.
"Kewajiban bersama. Kalau sebagian sudah melakukan, yang lain gugur kewajibannya. Pentingnya menghargai orang yang sudah meninggal," jawab Lev.
Squall, dengan sikapnya yang dingin, menyela. "Kita tidak punya waktu untuk ritual aneh, Lev. Misi kita adalah membunuh Edea sebelum dia menghancurkan dunia."
"Aku tahu, Squall. Tapi adab kita sebagai manusia beradab harus tetap dijaga," balas Lev tegas. Dia sadar, di dunia fantasi ini, konsep etika dan moral sangat fleksibel.
Mereka bersiap untuk misi penyusupan ke Galbadia Garden. Konser Edea akan segera dimulai. Suasana di Galbadia Garden sangat meriah, dipenuhi pendukung Edea yang mabuk kekuasaan. Tim Lev menyamar di antara kerumunan.
Di tengah konser musik rock yang hingar bingar, Edea muncul di panggung megah, dikelilingi efek sihir dan asap. Ribuan orang bersorak-sorai memujanya.
Lev melihat pemandangan itu dengan prihatin. "Mereka sudah tersesat jauh. Memuja manusia seperti ini," bisiknya.
Tembakan Irvine menandai dimulainya kekacauan. Misi pembunuhan dimulai. Tim Lev menyerbu panggung. Pertarungan sengit terjadi melawan Edea yang dibantu para pengawalnya.
Edea sangat kuat. Sihirnya brutal dan mematikan. Tim Lev harus menggunakan semua skill mereka, termasuk limit break dan junction magic terkuat. Lev sendiri sibuk membagi magic Curaga dan Life ke teman-temannya, menjaga mereka tetap hidup.
Akhirnya, setelah perjuangan panjang, Edea tumbang. Tubuhnya tergeletak lemas di atas panggung. Ribuan pendukungnya terdiam seribu bahasa.
Squall mendekati tubuh Edea yang tak bergerak. "Misi selesai."
Namun, saat mereka hendak pergi, Edea hidup kembali! Rupa-rupanya, dia tidak mati. Kekuatan sihirnya sangat besar.
"Kalian tidak bisa membunuhku semudah itu!" suara Edea menggelegar.
Pertarungan berlanjut, kali ini lebih brutal. Tim Lev terdesak. Tiba-tiba, Edea melancarkan serangan sihir terkuatnya, Ice Strike, tepat ke arah Squall.
DUAAR!
Tubuh Squall terpental dan jatuh dari panggung, menghantam lantai bawah yang keras. Dia terdiam, tidak bergerak.
"SQUALL!" teriak Rinoa panik.
Lev berlari ke arah Squall. Nadinya masih berdenyut lemah. Lev panik, dia mencoba menggunakan Phoenix Down (item revive di game), tapi tidak berefek. Dia mencoba Life magic terkuatnya, tapi nihil.
"Ya Allah, jangan ambil dia sekarang!" Lev berdoa. Dia teringat lagi konsep salat jenazah. Tapi dia tidak ingin Squall mati.
Di tengah kekacauan itu, tim Galbadia menangkap mereka. Edea yang terluka parah, berhasil diselamatkan oleh tentaranya. Misi gagal total. Lev dan teman-temannya ditangkap dan dibawa ke penjara gurun D-Prison di Galbadia.
Di Banjarmasin, Ustaz Syamsul sedang mengajarkan tata cara salat jenazah kepada anak-anak TPA. "Salat jenazah itu penting, Nak, untuk mendoakan almarhum agar diampuni dosanya...
Hajjah Halimah yang mendampingi, kembali teringat anaknya Lev. Dia berdoa, di mana pun Lev berada, dia selalu dilindungi, dan jika ajalnya tiba, ada yang menshalatkannya dengan layak.
Di penjara D-Prison yang dingin dan suram, Lev menatap Squall yang masih koma parah. Dia merasa gagal menjalankan kewajiban moralnya. Dia gagal membunuh Edea, dan gagal menyelamatkan temannya. Tragedi pembunuhan yang disaksikannya, kini berbalik menjadi tragedi yang menimpa timnya. Babak baru penderitaan Lev di dunia game dimulai.
