BAB 5: Klien Pertama, Masalah Utama

BAB 5: Klien Pertama, Masalah Utama

Lev
0

Sinar matahari pagi di kawasan Mabu’un memantul sempurna pada kaca besar kantor Halida Wedding Organizer. Di dalam ruko, pendingin ruangan berembus pelan, mengalirkan aroma terapi melati yang menenangkan. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suara dentingan lonceng di atas pintu kaca menandakan kedatangan tamu pertama hari itu—tamu yang datang tepat dua hari setelah Halida mengaplikasikan strategi optimasi artikel SEO yang diajarkan oleh Fikri.

Sepasang muda-mudi melangkah masuk dengan ragu-ragu. Sang pria mengenakan jaket denim dengan logo komik pahlawan super terkenal di bagian punggung, sementara sang wanita tampil anggun dengan gamis abu-abu dan khimar instan yang senada.

"Selamat pagi, selamat datang di Halida Wedding Organizer. Silakan duduk," sambut Laras dengan senyuman paling ramah dari balik meja resepsionis, lalu segera mempersilakan mereka masuk ke ruang konsultasi utama di mana Halida sudah menunggu.

"Pagi, Mbak. Nama saya Hendra, dan ini calon istri saya, Nisrina," ujar sang pria memperkenalkan diri seraya menjabat tangan Halida secara isyarat—menaruh tangan di dada takzim sesuai protokol syar'i yang diterapkan di kantor tersebut.

Halida tersenyum hangat. "Selamat pagi Mas Hendra, Mbak Nisrina. Suatu kehormatan bagi kami bisa menyambut kalian di sini. Kalau boleh tahu, kalian mendapatkan informasi tentang WO kami dari mana, ya?"

Nisrina tersenyum lebar, menyenggol lengan calon suaminya sebelum menjawab. "Ini nah, Mbak. Kemarin malam saya iseng mengetik di Google pakai kata kunci 'Paket Pernikahan Syar'i Murah Kalsel' karena kami mau mengadakan acara di Gedung Serbaguna Tabalong. Nah, tulisan di blog website Mbak Halida muncul di urutan nomor satu! Isinya bagus sekali, menjelaskan tentang bagaimana menyusun konsep pernikahan islami tanpa tabarruz dan tetap hemat anggaran. Makanya subuh tadi kami langsung meluncur dari seberang kota ke sini."

Mendengar hal itu, Halida merasakan dadanya membuncah oleh rasa syukur. Masyallah, rumus SEO dari Mas Fikri benar-benar bekerja! Algoritma Google ternyata tidak berbohong, batin Halida bersorak riang dalam hati.

"Alhamdulillah, kami senang sekali tulisan itu bisa membantu kalian," ujar Halida, membuka buku catatan kerjanya. "Jadi, konsep pernikahan seperti apa yang kalian impikan untuk hari bahagia nanti?"

Hendra berdeham kecil, memperbaiki posisi duduknya dengan raut wajah yang mendadak berubah menjadi sangat serius. "Begini, Mbak Halida. Ini mungkin terdengar agak aneh. Tapi... saya ini ketua komunitas pencinta pahlawan super Avengers di Tabalong. Saya punya impian besar sejak remaja untuk menikah dengan konsep ala pahlawan super."

Halida mengangguk-angguk, masih merasa aman. "Oh, konsep modern dengan sentuhan fiksi ilmiah? Menarik sekali, Mas Hendra. Kita bisa pakai pencahayaan lampu LED biru dan dekorasi futuristik."

"Bukan cuma itu, Mbak," Nisrina menimpali dengan wajah pasrah. "Dia mau para pengiring pengantin pria atau bestman nanti memakai kostum lengkap topeng besi dan tameng kapten Amerika. Lalu, musik pengiring saat kami berjalan menuju pelaminan bukan lagu selawat atau hadrah khas Banjar, melainkan lagu instrumen tema Avengers yang megah itu."

Halida sempat tertegun sejenak. Penanya berhenti menggantung di atas kertas. "Kostum pahlawan super lengkap di acara pernikahan islami?"

"Iya, Mbak. Tapi masalah utamanya bukan di situ," Hendra menghela napas panjang, wajahnya tampak frustrasi. "Masalahnya, ayah kandung Nisrina adalah seorang pensiunan guru mengaji dan tokoh agama yang sangat dihormati di kampung kami. Beliau bersikeras kalau pernikahan kami harus seratus persen syar'i, tidak boleh ada musik yang berlebihan, tidak boleh bercampur baur antara tamu pria dan wanita (infishal), dan harus ada tradisi pembacaan selawat nabi. Sekarang kami bingung setengah mati. Dua keinginan ini seperti air dan minyak, Mbak. Mustahil disatukan. Apakah WO Mbak Halida bisa menyelesaikan masalah utama kami ini?"

Tantangan besar telah resmi mendarat di meja kerja Halida. Memadukan adat, syariat agama yang kaku, serta obsesi pahlawan super modern dalam satu malam pesta pernikahan adalah jenis teka-teki yang belum pernah ia temui selama tiga tahun mengelola bisnis ini.

Sore harinya, Halida kembali ke ruang guru MTsN Tanjung dengan pikiran yang masih bercabang. Tugas memeriksa lembar jawaban matematika murid kelas 8B menumpuk di mejanya, tetapi otaknya terus-menerus memikirkan bagaimana caranya membuat kostum Iron Man terlihat pantas berdampingan dengan tirai pembatas saf penonton syar'i.

"Ustadzah Halida, wajah pian kelihatan kusut sekali sore ini. Ada masalah di kelas kah?" sebuah suara bariton yang ramah membuyarkan lamunan Halida.
Fikri berdiri di samping mejanya, membawa dua buah pulpen cadangan dan sebuah buku jurnal mengajar.

Halida mendongak, melihat Fikri seolah melihat malaikat penyelamat. "Eh, Mas Fikri. Kebetulan sekali pian belum pulang. Bukan masalah di kelas, Mas. Ini... efek dari artikel SEO yang pian ajarkan kemarin. Kantor ulun baru saja kedatangan klien pertama hasil pencarian Google."

Fikri langsung tersenyum lebar, menaruh buku jurnalnya di meja. "Alhamdulillah! Berarti optimasi kata kuncinya berhasil, kan? Tapi kenapa wajah pian malah kelihatan seperti orang yang habis kalah taruhan?"

Halida menghela napas, lalu menceritakan dengan detail mengenai dilema pasangan Hendra dan Nisrina—tentang pertarungan idealisme pahlawan super Amerika melawan prinsip syar'i sang calon mertua.

Fikri mendengarkan dengan saksama, sesekali mengetuk-ngetuk jarinya ke meja, berpikir keras. Sifatnya yang tenang dan analitis sebagai mahasiswa matematika mulai keluar.

"Menarik sekali," ujar Fikri setelah Halida selesai bercerita. "Dalam matematika, kalau kita punya dua himpunan yang tampaknya bertolak belakang, kita tidak perlu membuang salah satunya. Kita hanya perlu mencari irisan atau intersection di antara keduanya."

"Maksud pian bagaimana, Mas?" Halida mengernyitkan dahi, kurang paham.

"Konsep pahlawan super itu intinya apa? Intinya adalah kepahlawanan, perlindungan, dan membela kebenaran, bukan? Nah, dalam Islam, konsep itu sangat selaras dengan tugas seorang suami sebagai Qawwam—pemimpin dan pelindung bagi istrinya," jelas Fikri dengan mata yang berbinar penuh ide.

"Kita bisa menyatukan keduanya tanpa melanggar syariat jua tanpa membuang impian Mas Hendra. Untuk pembatas saf tamu pria dan wanita (tirai infishal), alih-alih memakai kain putih polos yang membosankan, kita bisa mendesain tirai tersebut dengan motif siluet kota futuristik malam hari yang elegan dengan warna biru tua dan emas. Di bagian panggung pelaminan, kita tidak perlu memajang patung atau logo pahlawan super yang dilarang dalam seni islami. Kita ganti dengan kaligrafi ayat Al-Qur'an tentang sakinah, mawaddah, warahmah yang ditulis dengan gaya font tegas dan modern mirip logo Avengers!"

Halida terperangah. Matanya membelalak menatap Fikri. "Astaga... itu ide yang jenius sekali, Mas! Lalu bagaimana dengan para pengiring pengantin yang mau pakai kostum?"

"Untuk pengiring pengantin, mereka tidak perlu memakai topeng plastik yang kelihatan kekanak-kanakan," Fikri terkekeh pelan. "Mereka cukup memakai setelan jas hitam rapi, tetapi warna dasi atau sapu tangan di kantong jas mereka disesuaikan dengan warna ikonik para pahlawan super. Ada yang pakai warna merah besi, hijau tua, atau biru tameng. Saat mereka berjalan masuk mengawal pengantin pria, musik yang diputar adalah kombinasi instrumen orkestra yang megah namun aransemennya digubah sedikit agar senada dengan ketukan selawat badar. Dengan begitu, sang ayah mertua yang tokoh agama akan mendengar nada selawat yang khidmat, sementara Mas Hendra dan teman-temannya tetap merasakan aura kemegahan pahlawan super yang mereka impikan."

Halida terdiam seribu bahasa. Ia menatap pemuda di depannya dengan perasaan kagum yang sulit disembunyikan. Fikri bukan hanya menyelesaikan masalah bisnisnya, tetapi juga memberikan perspektif baru tentang bagaimana nilai-nilai Islam bisa beradaptasi dengan dunia modern tanpa harus kehilangan esensinya.

"Mas Fikri... pian ini bujuran luar biasa," puji Halida tulus, suaranya sedikit bergetar. "Ulun tidak menyangka otak matematika pian bisa se-kreatif ini kalau soal urusan dekorasi pernikahan."

Fikri mendadak salah tingkah mendengar pujian langsung dari Halida. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya agak merona di bawah lampu ruang guru yang mulai temaram. "Ah, tidak jua, Ustadzah. Ulun cuma mencoba membantu saja. Lagipula... bukankah tugas kita sebagai sesama muslim adalah saling menyempurnakan?"

Di luar jendela ruang guru, di balik rimbunnya pohon pucuk merah yang tumbuh di halaman sekolah, dua pasang mata kecil tampak mengintip dengan saksama. Rahmat dan Siti berdiri berdempetan di atas pot bunga besar, memegang ponsel pintar mereka dalam mode perekaman video.

"Nah, lihat itu, Sit!" bisik Rahmat penuh kemenangan, kamera ponselnya fokus pada wajah Fikri dan Halida yang sedang tersenyum berdua di dalam ruangan. "Kak Fikri baru saja mengeluarkan jurus 'saling menyempurnakan'. Ini sudah fiks kode level tertinggi dalam dunia taaruf! Laporan spionase kita hari ini valid seratus persen!"

Siti menahan pekikannya sambil menutup mulut dengan kedua tangan. "Aduh, romantisnya! Aku sudah tidak sabar melihat Bu Halida pakai baju pengantin warna pink di Masjid Agung Al-Abrar nanti!"

Tanpa disadari oleh Halida yang sedang berbahagia karena menemukan solusi untuk klien pertamanya, gosip tentang dirinya dan sang guru magang di lingkungan sekolah justru baru saja memasuki babak baru yang jauh lebih menegangkan.

Bagaimana kelanjutan drama pelaminan pahlawan super syar'i ini? Untuk melanjutkan ke bab berikutnya, silahkan tunggu bulan depan! 

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default