Setelah kejadian di kafetaria, Jessica menepati janjinya. Ia mengendarai mobilnya, sebuah hatchback mungil berwarna merah, menuju sebuah restoran halal di daerah pinggir kota. Lev duduk di sebelahnya, merasa kagum dengan bagaimana Jessica dengan lihainya mengemudi di jalanan Perth yang ramai.
"Kamu terlihat nyaman sekali mengemudi di sini," komentar Lev.
Jessica tertawa. "Ini kota kelahiranku, Lev. Aku hapal jalanan di sini lebih dari hapal pelajaran Sejarah Australia," candanya. "Bagaimana di Banjarmasin? Apa kamu juga mengemudi mobil?"
"Tidak," jawab Lev. "Di sana, kebanyakan orang naik motor. Ada juga ojek online, tapi aku lebih suka naik angkutan umum atau sepeda. Pemandangan di sepanjang sungai lebih terasa saat kita tidak terburu-buru."
Jessica mengangguk, membayangkan kota yang diceritakan Lev. “Menarik. Kelihatannya kotamu sangat damai dan santai.”
Setibanya di restoran, sebuah tempat kecil tapi ramai dengan tulisan "Kebab Halal" yang mencolok, Lev merasa seperti menemukan oase. Aroma rempah-rempah yang familiar langsung menyambutnya. Ia dan Jessica memesan dua porsi kebab dengan porsi yang berbeda. Lev dengan porsi besar, Jessica dengan porsi kecil.
Saat makanan diantar, Lev kembali melakukan kebiasaannya: membaca doa makan. Jessica memperhatikannya dengan senyum tipis.
"Jadi itu doa yang kamu baca di kampus tadi?" tanyanya.
"Iya," jawab Lev sambil tersenyum. "Ini cara kami bersyukur atas rezeki yang diberikan."
"Aku suka itu," kata Jessica tulus. “Sepertinya kamu sangat dekat dengan Tuhanmu.”
“Ya, kami diajarkan untuk selalu mengingat Tuhan dalam setiap langkah,” jawab Lev. Ia melihat Jessica yang mulai melahap kebabnya dengan lahap. Sebuah senyum merekah di wajah Lev. "Enak, kan?"
"Sangat!" seru Jessica dengan mulut penuh. "Pedasnya pas. Bumbu dagingnya terasa. Ini jauh lebih enak dari burger yang biasa aku makan."
Melihat Jessica yang menikmati makanan itu, hati Lev dipenuhi kebahagiaan. Ia merasa senang bisa berbagi sedikit dari dunianya, meskipun itu hanya sebatas makanan. Selama makan, mereka mengobrol tentang banyak hal. Lev bercerita tentang kehidupannya di Banjarmasin, tentang kebiasaan berpuasa, tentang Hari Raya Idul Fitri, dan tentang masjid di kampungnya.
"Apakah kamu tidak takut di sini? Maksudku, dengan semua perbedaan itu?" tanya Jessica dengan hati-hati.
Lev terdiam sejenak. "Awalnya, ya. Sedikit takut. Tapi, aku yakin Allah akan selalu menjagaku," jawabnya. "Dan lagi, aku tidak sendirian. Aku punya teman-teman baru yang baik, seperti kamu," tambahnya dengan tulus.
Mendengar itu, Jessica tersenyum, senyum pertama yang benar-benar lepas dan tulus yang dilihat Lev darinya. "Aku senang kamu menganggapku teman," katanya.
Setelah makan, mereka berjalan-jalan sebentar di sekitar restoran. Ada sebuah toko buku kecil di seberangnya yang menarik perhatian Jessica. Mereka masuk dan Lev menemukan beberapa buku tentang sejarah Islam yang ia butuhkan untuk tugasnya. Jessica melihat-lihat buku-buku lain, dan mereka kembali berinteraksi dengan cara yang santai dan natural.
“Aku baru tahu kalau Islam ternyata punya sejarah yang panjang,” kata Jessica sambil melihat-lihat buku.
“Ya, dan itu bukan cuma tentang perang,” timpal Lev, menanggapi dengan sedikit humor. “Ada banyak penemuan dan ilmu pengetahuan yang berasal dari peradaban Islam.”
Jessica mengangguk, menunjukkan ketertarikannya. “Aku harus baca lebih banyak tentang itu.”
Saat mengantar Lev kembali ke asrama, Jessica menatapnya dengan penuh arti. "Senang bisa kenal kamu, Lev. Kamu orang yang lucu, dan... unik."
Lev tertawa. "Kamu juga, Jess. Kamu teman pertama yang paling kocak."
Setelah Jessica pergi, Lev berdiri di depan asrama, merasa hangat. Ia menyadari bahwa perjalanannya di Australia tidak akan sesulit yang ia bayangkan. Ia telah menemukan sebuah persahabatan yang tulus, yang membantunya melewati masa-masa awal adaptasi yang sulit. Senyum Jessica yang lepas dan tawa mereka di restoran kebab menjadi tanda bahwa di tengah perbedaan, ada ikatan persahabatan yang bisa tumbuh dengan indah. Dan ini hanyalah permulaan.
