Kedatangan Pangeran Samudra bersama rombongan dari Demak disambut dengan gegap gempita. Para pengikutnya berkumpul di tepi sungai, mata mereka berbinar melihat barisan prajurit Demak yang tegap, dengan seragam rapi dan senjata yang canggih. Kehadiran pasukan dari Jawa ini, yang dipimpin oleh seorang panglima berpengalaman, memberikan harapan baru bagi mereka yang selama ini hanya bisa bertarung secara gerilya.
Samudra memperkenalkan Khatib Dayyan kepada semua pasukannya. Khatib Dayyan adalah sosok yang tenang dan berwibawa, mengenakan jubah putih yang bersih, wajahnya memancarkan ketenangan. "Khatib Dayyan akan membimbing kita semua," kata Samudra, suaranya lantang. "Beliau akan membawa kita pada jalan yang benar."
Khatib Dayyan pun memulai misinya. Ia tidak memaksa, tetapi mengajak para pengikut Samudra untuk mempelajari ajaran Islam. Ia mengajarkan tentang persatuan, tentang keadilan, dan tentang kekuatan spiritual. Pelan-pelan, hati para gerilyawan dan perompak yang keras mulai luluh. Mereka menemukan kedamaian dalam ajaran Islam, sebuah kedamaian yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Mereka belajar tentang persaudaraan, dan mereka melihat bahwa Islam tidak membedakan antara yang kaya dan yang miskin, antara bangsawan dan rakyat biasa.
Para prajurit Demak juga mulai melatih pasukan Samudra. Mereka mengajarkan taktik perang yang lebih terstruktur, menggunakan tombak, pedang, dan busur yang lebih modern. Para gerilyawan Bagus dan perompak Sangkuriang mempelajari teknik-teknik baru dengan cepat. Mereka menggabungkan pengetahuan mereka tentang medan perang di hutan dan sungai dengan taktik baru yang mereka pelajari dari pasukan Demak. Hasilnya, sebuah pasukan yang tangguh dan cerdas terbentuk, siap untuk menghadapi pasukan Tumenggung.
Di tengah semua ini, Samudra juga mempelajari Islam dengan tekun. Ia menghabiskan waktu berjam-jam bersama Khatib Dayyan, mendengarkan ceramah-ceramahnya, dan bertanya tentang hal-hal yang tidak ia mengerti. Ia menemukan kedamaian dalam ajaran Islam, dan ia merasa bahwa ini adalah jalan yang benar. Ia merasa bahwa ia tidak hanya berjuang untuk takhta, tetapi juga untuk sebuah tujuan yang lebih besar.
Suatu hari, ketika pasukan sedang berlatih, seorang pengintai datang dengan kabar buruk. "Pangeran, pasukan Tumenggung bergerak ke arah kita," katanya. "Kali ini mereka membawa prajurit lebih banyak, dan mereka dipimpin oleh panglima yang lebih berpengalaman."
Samudra tidak panik. Ia sudah menduga ini akan terjadi. Ia mengumpulkan para panglimanya, Bagus, Sangkuriang, dan panglima dari Demak. Mereka merencanakan strategi.
"Kita tidak akan menunggu mereka," kata Samudra. "Kita akan menyerang mereka lebih dulu. Kita akan menyerang di tempat yang tidak mereka duga. Di sungai."
"Tapi, Pangeran," kata Bagus, "mereka sudah tahu kita menguasai sungai."
"Mereka tahu kita menguasai sungai dengan cara gerilya," jawab Samudra. "Tapi mereka tidak tahu bahwa sekarang kita memiliki pasukan Demak, yang terampil dalam pertempuran laut. Kita akan menggunakan taktik yang berbeda. Kita akan menggunakan kekuatan gabungan kita."
Sangkuriang tersenyum lebar. "Ini akan menjadi pertempuran yang seru," katanya.
Malam itu, pasukan Samudra bergerak dalam senyap. Mereka menyusuri sungai, menaiki perahu-perahu kecil, dan menyembunyikan diri di balik hutan bakau yang lebat. Mereka tahu, ini adalah pertempuran yang menentukan. Kemenangan akan membawa mereka lebih dekat ke Daha, sementara kekalahan akan menghancurkan semua yang telah mereka bangun.
Di tengah kegelapan malam, Samudra memandang pasukannya. Mereka bukan lagi sekelompok orang buangan. Mereka adalah sebuah kesatuan, sebuah keluarga. Mereka berjuang untuk tujuan yang sama, di bawah panji yang sama. Dan mereka memiliki pemimpin yang percaya pada mereka, seorang pemimpin yang telah tumbuh dari seorang pangeran yang ketakutan menjadi seorang panglima yang berani.
Bab ini berakhir dengan pasukan Samudra yang bersiap untuk pertempuran. Mereka berada di tepi sungai, menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Langit gelap, bulan bersinar, dan angin malam membawa bisikan-bisikan dari masa lalu, dari cerita-cerita tentang perang, pengkhianatan, dan harapan. Semangat baru telah bangkit di Tanah Banjar, dan ia siap untuk mengubah takdir.
