Matahari sore di Banjarmasin memancarkan cahaya keemasan yang menenangkan, memantul di permukaan Sungai Martapura yang mengalir tenang. Bagi kebanyakan orang, pemandangan ini adalah obat penenang jiwa, sebuah lukisan alam yang tiada tanding. Tapi bagi Lev Ryley, setiap bias cahaya, setiap riak air, setiap hembusan angin membawa kembali kenangan yang menusuk, kenangan akan Vania.
Lev duduk di teras rumah panggung peninggalan orang tuanya, cangkir teh yang sudah mendingin di tangannya. Aroma kayu ulin yang basah tercium dari tiang-tiang rumah, aroma yang dulu ia sukai, kini terasa hambar. Di sampingnya, kursi kayu lain kosong. Kursi itu adalah tempat Vania biasa duduk, menemaninya menikmati senja. Terkadang, Vania akan meletakkan tangannya di pundak Lev, mengusapnya lembut sambil bercerita tentang hal-hal kecil yang terjadi di hari itu. Kini, kursi itu hanya menjadi saksi bisu, serupa patung yang membeku dalam waktu.
Sudah satu tahun berlalu sejak kecelakaan itu merenggut Vania. Satu tahun, tapi terasa seperti kemarin. Lev masih bisa mengingat dengan jelas setiap detail kejadian: panggilan telepon dari rumah sakit, wajah pucat Vania yang terbaring di ranjang, dan suara dokter yang menyampaikan berita pilu itu. Sejak saat itu, waktu bagi Lev berhenti bergerak. Setiap hari adalah pengulangan dari hari sebelumnya, sebuah siklus monoton yang diisi oleh duka dan kesendirian.
Sahabatnya, Rifqi, sering datang menjenguk. Ia selalu berusaha menghibur Lev dengan leluconnya yang khas atau ajakan untuk keluar, sekadar ke warung kopi atau bermain futsal. Namun, Lev selalu menolak dengan sopan. Ia merasa bahwa dengan pergi dan tertawa, ia mengkhianati kenangan Vania. Ia ingin tetap tinggal di museum kesedihan ini, di mana setiap sudut rumah menyimpan cerita mereka. Dinding yang kusam menyimpan tawa mereka, sofa yang sudah usang menyimpan pelukan mereka, dan taman di belakang rumah menyimpan impian mereka.
Suatu malam, saat hujan deras mengguyur Banjarmasin, Lev membuka laci meja kerjanya. Matanya jatuh pada sebuah foto yang sudah usang. Foto itu adalah potret Lev dan Vania saat mereka berlibur ke Pulau Kembang. Vania memegang seekor monyet dengan wajah bersemangat, sementara Lev tersenyum di sampingnya. Melihat senyum Vania, air mata Lev mengalir. Ia merindukan Vania, sangat merindukannya, hingga dadanya terasa sesak. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa terus seperti ini. Ia tidak bisa selamanya terpenjara dalam kenangan.
Keesokan paginya, Lev mengambil keputusan besar. Ia menelepon Rifqi, membuat Rifqi terkejut bukan kepalang.
"Rif, aku mau pindah," kata Lev dengan suara yang bergetar.
"Pindah ke mana, Lev? Ke luar kota?" tanya Rifqi bingung.
"Ke luar negeri," jawab Lev. "Ke Swedia."
Terdengar suara Rifqi yang terbatuk kaget di seberang telepon. "Swedia? Stockholm, Lev? Kamu serius?"
"Aku sudah memikirkannya matang-matang, Rif. Aku tidak bisa lagi di sini. Aku butuh tempat yang benar-benar baru, tempat di mana tidak ada kenangan yang menyakitkan."
Meskipun berat, Rifqi mengerti. Ia tahu Lev sudah terlalu lama menderita. Rifqi membantu Lev mengurus segala dokumen yang dibutuhkan, meskipun sering kali Lev membuat kekacauan dengan dokumen-dokumennya yang salah.
Terkadang, paspornya terselip di dalam tumpukan buku, atau formulir penting yang sudah diisi justru tergulung menjadi bola. Kesialan-kesialan kecil ini menjadi bumbu komedi di tengah suasana duka yang masih terasa.
Saat hari keberangkatan tiba, Rifqi mengantarnya ke bandara. Di sana, mereka berpelukan erat. "Jaga diri baik-baik, Lev," ucap Rifqi dengan mata berkaca-kaca. "Jangan lupa, dunia ini luas. Vania pasti ingin melihatmu bahagia."
Lev mengangguk, mencoba tersenyum. Sesaat sebelum memasuki ruang tunggu, Lev menoleh ke belakang, melihat kota Banjarmasin untuk terakhir kalinya. Ia tahu, ia tidak akan pernah melupakan kota ini, atau Vania. Tapi ia harus pergi, untuk memulai kembali. Ia harus menemukan arti baru dari kehidupan, meskipun itu berarti harus memulai dari nol di tempat yang asing, jauh dari semua yang ia kenal. Dengan langkah berat namun penuh tekad, Lev Ryley meninggalkan museum kesedihan itu, menuju petualangan barunya di negeri yang dingin, jauh di utara.
