Mentari Banjarmasin mulai naik, menghangatkan suasana pagi yang mulai sibuk. Setelah sarapan nasi kuning yang lezat, keluarga Levℛyley berpencar sesuai rutinitas masing-masing. Levℛyley berangkat ke kantornya di pusat kota, sementara anak-anak berangkat ke sekolah dan kampus mereka.
Aisyah mengendarai sepeda motor maticnya menuju kampus ULM di daerah Kayu Tangi. Pikirannya dipenuhi dengan rencana kegiatan BEM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan materi kuliah PGSD tentang Inovasi Pembelajaran. Di tengah perjalanannya melintasi Jembatan Kayu Tangi, ponselnya bergetar. Sebuah pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal.
"Mbak Aisyah Humaira? Ini Pak Ahmad kurir paket. Ada 3 paket besar atas nama Ibu Anindya dan 1 paket atas nama Bapak Levℛyley. Bisa terima paketnya sekarang, Mbak?"
Aisyah menghela napas. Ibunya benar, paketnya datang lebih cepat dari perkiraan. "Waduh, Pak Ahmad. Saya lagi di jalan menuju kampus ULM nih. Belum bisa pulang. Apakah bisa dititip di pos keamanan komplek dulu? Nanti saya ambil sepulang kuliah."
"Bisa, Mbak. Siap laksanakan!" balas Pak Ahmad ramah. Pak Ahmad ini sudah seperti bagian dari keluarga, hafal dengan ritme belanja keluarga Levℛyley.
Di rumah, Anindya Putri sedang sibuk dengan aktivitasnya sebagai influencer belanja Islami di Instagram. Dia sedang menyiapkan live review produk mukena terbaru yang baru saja dia beli dari toko online langganannya di Bandung. Background live nya adalah ruang keluarga yang tertata rapi, dengan aksen kaligrafi di dinding.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bunda-bunda salihah, followers kesayangan Ibu Anindya!" sapanya ceria ke kamera ponselnya yang sudah distabilkan di tripod. "Siapa bilang tampil syar'i itu ribet? Mukena ini bahannya rayon premium, adem banget untuk cuaca Banjarmasin yang kadang bikin gerah. Harganya terjangkau, dan yang penting, tokonya sudah bersertifikat halal MUI! Checkout di keranjang kuning sekarang, mumpung diskon!"
Interaksi di kolom komentar langsung ramai. Ribuan mata sedang menontonnya. Anindya memang pandai meramu kata-kata, menggunakan teknik SEO dan copywriting yang menarik perhatian ibu-ibu muslimah di seluruh Indonesia.
Maryam di SMA Islam sedang fokus dengan pelajaran seni rupa. Gurunya meminta mereka membuat karya seni bertema kearifan lokal Banjarmasin. Maryam menggambar pemandangan pasar terapung dengan sentuhan kaligrafi Arab di sudut kanannya. Di tasnya, tersembunyi sebuah buku sketsa baru yang ia beli online, karena buku lama nya sudah penuh dengan sketsa-sketsa unik.
Ghina di SMP Islam sedang istirahat. Dia dan teman-temannya sedang asyik membahas tren hijab terbaru. "Eh, kalian tahu nggak toko online yang jual hijab segi empat paris premium? Aku cari di Shopee, rating-nya bagus-bagus semua, bingung mau pilih yang mana," tanya Ghina pada teman-temannya. Obrolan anak SMP zaman sekarang, tak jauh-jauh dari review produk.
Sementara itu, Rayyan di SD Islam sedang belajar membaca iqra' di kelasnya. Satu-satunya interaksi digital Rayyan adalah ketika dia meminta ibunya membelikan buku cerita bergambar tentang kisah Nabi dan Rasul.
Kembali ke rumah, sore harinya Aisyah tiba di pos keamanan komplek. Tumpukan kardus besar menyambutnya. Dua kardus besar isinya karpet sajadah gulung, satu kardus berisi rak sepatu baru Levℛyley, dan satu paket kecil isinya skincare Anindya.
"Ya Allah, beratnya," keluh Aisyah sambil mencoba mengangkat salah satu kardus karpet. Ini bukan drama paket kecil, ini drama logistik sungguhan.
Untungnya, tetangga mereka, Bapak RT yang humoris, kebetulan lewat dan membantu Aisyah mengangkut paket-paket itu ke rumah dengan gerobak kecil.
"Bu Anindya ini, kalau belanja nggak tanggung-tanggung ya, Syah. Besok-besok Pak Ahmad kurirnya butuh truk kayaknya," canda Bapak RT sambil tertawa.
"Iya nih, Pak RT. Nanti saya sampaikan ke Ibu," balas Aisyah sambil tersenyum malu.
Sesampainya di rumah, Anindya sudah siap dengan kamera ponselnya untuk merekam momen unboxing karpet sajadah baru untuk musala komplek. "Ini dia, Bunda-bunda! Karpet sajadah Turkey premium, empuk banget, tebalnya 15 milimeter! Masya Allah, cocok nih buat kenyamanan salat berjamaah. Pahala jariyahnya dapet, diskonnya juga dapet! Link toko ada di bio ya!"
Malam itu, keluarga Levℛyley berkumpul di ruang keluarga. Ruangan itu kini dipenuhi karpet sajadah baru yang digelar sementara untuk di-review ibunya. Baunya masih khas toko baru.
"Masya Allah, Bu. Online shopping kamu ini bisa jadi ladang pahala juga ternyata," ucap Levℛyley sambil merapikan saf karpet yang miring.
Anindya tersenyum lebar. "Tentu saja, Mas. Teknologi itu netral. Tergantung kita mau pakai buat apa. Buat mudarat bisa, buat manfaat juga bisa. Yang penting niatnya lillahi ta'ala. Dan yang paling penting, tokonya harus terpercaya dan produknya halal."
Di tengah tumpukan kardus bekas unboxing, keluarga Levℛyley menemukan kebahagiaan mereka. Sebuah keluarga muslim modern di Banjarmasin, yang mencoba menyeimbangkan antara tuntutan dunia digital dan kewajiban sebagai hamba Allah, dengan sedikit bumbu komedi paket yang tak ada habisnya.
