Kesepakatan tercapai, namun bukan berarti semua masalah selesai. Kael, Lyra, dan Brokk berdiri di antara bebatuan runcing pegunungan, tiga sosok yang sangat berbeda, di bawah langit yang mulai diwarnai senja. Masing-masing merasa waspada, menjaga jarak satu sama lain. Kael masih merasa cemas; meskipun Brokk telah setuju membantu, ia tahu permusuhan antar fraksi telah mengakar selama berabad-abad. Ia bisa merasakan kebencian yang samar, seperti api yang belum sepenuhnya padam, dari gema kartu-kartunya.
Lyra berjalan dengan langkah ringan, tetapi ia selalu menjaga pandangan ke arah Brokk. Tatapannya masih dipenuhi keraguan. Ia tidak bisa melupakan kerusakan yang disebabkan Neander terhadap hutan mereka di masa lalu. Brokk, di sisi lain, menggerutu. Kekuatan fisiknya yang luar biasa kini terikat oleh perjanjian dengan dua makhluk yang ia anggap lemah. Ia lebih suka memukul-mukul batu daripada berjalan bersama mereka.
"Jadi, kemana kita?" tanya Brokk dengan suara yang berat. "Jika kalian mencari Heart of the Sanctuary di wilayah kami, itu buang-buang waktu."
"Kami tahu," jawab Lyra. "Kami mendapatkan petunjuk dari peta kuno milik Brokk. Itu menunjukkan jalan ke lokasi yang lebih tersembunyi, sebuah tempat di mana semua fraksi bertemu."
Kael melihat ke arah Brokk. "Peta itu... apakah itu benar?"
Brokk mengangguk, masih dengan wajah cemberut. "Itu adalah peta leluhurku. Itu menunjukkan lokasi tersembunyi, jauh dari fraksi mana pun. Konon, para pendahulu kami menggunakan tempat itu sebagai lokasi pertemuan rahasia."
"Tempat itu pasti dilindungi," kata Lyra. "Tidak mungkin mudah untuk masuk."
"Tentu saja tidak," jawab Brokk, kini dengan nada bangga. "Hanya yang terkuat yang bisa masuk. Dan itu hanya Neander."
"Bukan lagi," Kael memotong. "Sekarang kita bertiga."
Ketegangan muncul. Brokk tidak suka dengan gagasan kerja sama, dan Lyra tidak suka dengan keangkuhan Brokk.
"Dengar," kata Kael, mencoba menengahi. "Kita semua memiliki tujuan yang sama. Menemukan Elara dan mengakhiri konflik ini. Kita harus belajar saling memercayai, meskipun sulit. Ingat, ada kekuatan yang lebih besar yang memanipulasi kita."
Brokk dan Lyra saling pandang, lalu mengangguk dengan enggan. Mereka tahu bahwa Kael benar. Mereka tidak punya pilihan selain bekerja sama.
Malam itu, mereka berkemah di sebuah gua kecil yang hangat. Kael mengeluarkan kartu-kartunya, dan gema dari kartu Elara terasa semakin kuat. Ia tahu bahwa ia semakin dekat. Lyra mengeluarkan sebuah peta yang ia ambil dari hutan, dan mulai membandingkannya dengan peta kuno milik Brokk. Brokk hanya duduk di pojok, mengasah kapaknya.
"Di sini," kata Lyra, menunjuk sebuah titik di peta kuno Brokk. "Pintu masuknya ada di sini. Di perbatasan wilayah Mortii. Kita harus bergerak dengan sangat hati-hati."
"Mortii," geram Brokk. "Aku akan menghancurkan mereka semua."
"Bukan waktunya untuk balas dendam, Brokk," kata Kael. "Kita harus berhati-hati. Jangan sampai mereka tahu kita datang."
Lyra menatap Kael dengan heran. "Sejak kapan kau menjadi seorang ahli strategi?"
Kael tersenyum kecil. "Aku hanya pembuat kartu. Tapi aku tahu bagaimana kekuatan bekerja. Dan aku tahu kapan harus menggunakannya."
Mereka bertiga tahu bahwa perjalanan mereka tidak akan mudah. Mereka harus menghadapi bahaya dari alam liar, dan juga bahaya dari fraksi mereka sendiri. Tetapi dengan gema kartu Elara yang membimbing mereka, mereka memiliki harapan. Harapan yang bisa menyatukan tiga fraksi yang saling bermusuhan, dan mengakhiri perang yang sudah berlangsung terlalu lama. Mereka berjanji untuk bergerak maju, bersama, untuk sebuah tujuan yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Dapatkan novel fantasi Deck Heroes Legacy dan ikuti petualangan epik Kael dan kawan-kawan setiap minggunya! Jangan lewatkan kisah seru, konflik mendalam, dan intrik antar fraksi yang akan membawa Anda ke dunia yang penuh sihir dan bahaya. [Link Pre-Order / Baca Sekarang].
Or with my my Facebook
