"Kenapa kita ke sini?" tanya Sofia sambil menunjuk sebuah bangunan megah berwarna putih dan biru. Kubah berwarna emasnya berkilauan tertimpa sinar matahari musim dingin.
"Ini masjid," jawab Lev dengan senyum sumringah. "Sudah waktunya shalat Jumat."
Sofia mengangguk-angguk, mengamati arsitektur bangunan itu dengan penuh kekaguman. "Indah sekali. Jauh berbeda dengan katedral Ortodoks yang sering saya lihat."
Lev mengantar Sofia ke pintu masuk terpisah untuk para jamaah wanita. "Tunggu di sini ya. Nanti saya temani kamu melihat-lihat setelah shalat."
Sofia terdiam sejenak. "Bisakah... saya ikut?"
"Ikut? Tapi ini untuk shalat pria," Lev bingung.
"Tidak. Maksud saya, saya ingin lihat bagaimana kalian shalat. Saya ingin tahu lebih banyak," jelas Sofia. Ada nada tulus dalam permintaannya.
Lev berpikir sejenak. Ia tidak yakin apakah boleh membawa non-Muslim ke dalam, tapi melihat keingintahuan Sofia yang besar, ia memutuskan untuk mencari tahu. Ia menghampiri seorang pengurus masjid. Setelah menjelaskan situasinya dengan bahasa Inggris yang patah-patah, pengurus masjid itu tersenyum ramah.
"Tentu saja boleh. Kami senang jika ada yang ingin belajar tentang Islam. Silakan masuk, Nona. Ada tempat khusus untuk pengunjung yang ingin mengamati," kata pengurus itu dalam bahasa Rusia. Lev buru-buru menerjemahkannya untuk Sofia.
Sofia mengikuti Lev dengan antusias. Mereka masuk ke dalam masjid. Sebuah kubah besar yang dihiasi kaligrafi indah memenuhi langit-langit. Karpet tebal yang bersih terhampar di lantai. Ada beberapa jamaah pria yang sudah datang, duduk bersila sambil membaca Al-Qur'an.
"Semua sangat bersih dan tenang," bisik Sofia.
Lev mengangguk. "Ya. Shalat itu butuh konsentrasi. Kebersihan adalah bagian dari iman."
Pengurus masjid mengantar Sofia ke sebuah area khusus yang memungkinkan dia mengamati dari balik partisi, tanpa mengganggu para jamaah yang sedang shalat. Lev berpamitan sebentar kepada Sofia, lalu bergegas mengambil wudu.
Dari tempatnya, Sofia melihat Lev mengambil air wudu dengan telaten, menggosok-gosok wajah, tangan, dan kakinya. Ia melihat Lev bersiap, memakai peci yang ia bawa dari Banjarmasin. Lalu Lev bergabung dengan jamaah lainnya yang telah berbaris rapi.
Azan berkumandang, mengalunkan nada yang asing tapi indah di telinga Sofia. Lalu, imam memimpin shalat. Sofia memperhatikan setiap gerakan shalat. Gerakan yang berulang, teratur, dan khusyuk. Mereka berdiri, membungkuk, lalu bersujud. Sofia melihat bagaimana dahi para jamaah menyentuh lantai. Ada ketulusan dan kepasrahan yang luar biasa di sana.
Sofia tidak mengerti apa yang mereka ucapkan, tetapi ia bisa merasakan getaran dari setiap gerakan. Ia melihat betapa tenang dan khusyuknya Lev. Wajah Lev terlihat damai, seolah-olah ia sedang berbicara dengan seseorang yang sangat penting. Sofia merasa tersentuh. Ia tak pernah melihat orang beribadah sedalam itu.
Setelah shalat usai, Lev menghampiri Sofia. "Bagaimana?"
"Indah sekali," jawab Sofia, matanya masih berkaca-kaca. "Gerakan kalian... sangat teratur dan damai. Saya bisa merasakan ketenangan di sini."
"Itu karena kami sedang berbicara dengan Tuhan," jelas Lev, dengan nada yang begitu tulus.
Mereka berdua berjalan-jalan di sekitar masjid. Lev menjelaskan sedikit tentang makna shalat, tentang kiblat, dan tentang kaligrafi yang menghiasi dinding. Sofia mendengarkan dengan seksama. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang cerdas, menunjukkan bahwa ia benar-benar tertarik.
"Dalam Islam, kami percaya bahwa ada satu Tuhan yang menciptakan segalanya. Dan shalat adalah cara kami untuk berhubungan langsung dengan-Nya. Tanpa perantara," jelas Lev.
"Menarik," gumam Sofia. "Di sini, ada banyak orang yang tidak beragama, termasuk saya. Banyak yang berpikir agama itu kuno. Tapi melihat kamu, dan melihat orang-orang di sini... saya jadi berpikir ulang."
Lev tersenyum. "Keyakinan itu bukan masalah kuno atau modern. Itu masalah hati. Itu masalah mencari makna hidup."
Tak lama kemudian, beberapa jamaah lain menghampiri Lev dan Sofia. Mereka bertanya dalam bahasa Rusia. Lev yang sudah mulai bisa mengerti sedikit-sedikit, mencoba menjawab. Sofia membantu menerjemahkan. Mereka adalah bagian dari komunitas Muslim Perm. Mereka menyambut Lev dengan hangat, mengajak makan siang bersama di dekat masjid.
Lev memperkenalkan Sofia, dan menjelaskan bahwa Sofia adalah teman baiknya yang non-Muslim. Reaksi dari komunitas itu sungguh di luar dugaan. Mereka menyambut Sofia dengan ramah, tidak ada sedikitpun kecurigaan atau ketidaknyamanan. Salah satu dari mereka, seorang pria bernama Mikhail yang sudah lama menjadi Muslim, berkata, "Kedamaian Islam itu untuk semua orang. Kami senang jika ada yang ingin tahu lebih banyak."
Makan siang pun diwarnai dengan tawa dan obrolan hangat. Lev merasa sangat terharu. Ia merasa diterima. Ia merasa menemukan keluarga baru di Perm. Dan yang paling penting, ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana toleransi itu benar-benar ada, bahkan di tempat yang paling tidak terduga.
Sofia, di sisi lain, juga merasa terkejut dan senang. Ia melihat sisi lain dari Islam yang selama ini tidak pernah ia ketahui. Bukan dari media atau berita, melainkan dari interaksi langsung dengan orang-orangnya. Ia melihat kebaikan, ketulusan, dan toleransi yang nyata. Senyum Sofia yang tadi kecil, kini mengembang lebar. Ia merasa mendapatkan pelajaran berharga hari ini.
Setelah makan siang, Lev dan Sofia berpamitan dengan komunitas Muslim Perm. Sambil berjalan pulang, Lev berterima kasih pada Sofia.
"Terima kasih sudah mau menemani," ucap Lev.
"Terima kasih juga, Lev. Kamu membuka mataku. Aku melihat sesuatu yang berbeda hari ini. Sesuatu yang indah," jawab Sofia, tulus.
Lev merasa hatinya menghangat. Misinya untuk memperdalam iman dan menunjukkan sisi baik Islam kepada dunia kecilnya ternyata sudah dimulai, dengan cara yang paling sederhana dan paling indah. Ia tidak hanya menjelajahi tempat, tetapi juga hati.
