Anatasya masih merasa pipinya memanas setelah insiden kue dan tawa Lev. Ia kembali ke mejanya dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia merasa malu. Di sisi lain, ia merasa seperti telah melihat sisi lain dari pria misterius itu sisi yang manusiawi, bahkan menyenangkan. Namun, ia juga merasa khawatir. Apakah ia akan melihatnya lagi?
Belum sempat ia memikirkan hal itu lebih jauh, teleponnya berdering. Nama Maja tertera di layar. Anatasya menghela napas, bersiap untuk kegilaan berikutnya.
"Anatasya! Aku dengar semuanya!" seru Maja dari seberang telepon, suaranya dipenuhi kegembiraan. "Gunilla menceritakan semuanya! Kekacauan yang kau buat! Pria misterius itu! Semua!"
Anatasya merasa seluruh darahnya mengalir ke kepala. "Maja! Apa Gunilla menceritakan semuanya?"
"Hanya sedikit," kata Maja, "tapi aku berhasil mengorek informasi lebih banyak. Katanya, kau menumpahkan teh dan kue di depan pria itu. Dan ia membantumu! Ia bahkan tertawa! Anatasya, kau harus mengakui, ini seperti adegan film romantis!"
"Maja, itu bukan romantis," kata Anatasya, merasa frustrasi. "Itu memalukan. Aku tersandung dua kali dalam dua hari berturut-turut. Aku seperti pelayan yang kikuk."
"Pelayan kikuk yang memikat hati pria misterius!" Maja tidak mau menyerah. "Kau tahu, ini adalah awal dari segalanya. Kau harus memanfaatkan ini. Buat dia jatuh cinta padamu."
"Apa yang harus aku lakukan?" Anatasya bertanya, lelah dengan omongan Maja.
"Kau harus membuatnya cemburu!" kata Maja, idenya mengalir deras. "Kau harus menunjukkan bahwa kau tidak hanya tertarik padanya. Kau harus membuat dia merasa bahwa dia harus berjuang untukmu."
Anatasya mendesah. Ide Maja selalu aneh, tetapi kali ini, ia merasa itu adalah ide teraneh yang pernah ia dengar. "Maja, aku tidak akan membuat orang cemburu. Itu kekanak-kanakan."
"Anatasya, dengar aku," kata Maja, dengan nada yang jauh lebih serius. "Kadang-kadang, cinta membutuhkan sedikit strategi. Kau tidak bisa hanya duduk diam dan berharap dia datang padamu. Kau harus bertindak."
Anatasya tidak yakin. Ia tidak pandai dalam hal-hal seperti itu. Ia hanya pandai dalam hal buku, dan bagaimana mengaturnya.
Keesokan harinya, Anatasya datang ke perpustakaan dengan pikiran Maja yang terus berputar di kepalanya. "Buat dia cemburu," "tunjukkan bahwa kau tidak hanya tertarik padanya," "bertindak." Ia merasa seperti sedang menjadi karakter di buku fiksi.
Ia melihat Lev Ryley sudah berada di kursinya, membaca buku seperti biasa. Anatasya mencoba untuk bersikap normal, tetapi ia merasa gelisah. Ia merasa seperti ada skenario yang sedang ia jalankan.
Lalu, ia melihat seorang pria tampan lainnya memasuki perpustakaan. Pria itu, bernama Emil, adalah seorang penulis yang sering datang ke perpustakaan untuk mencari inspirasi. Ia pernah mencoba mendekati Anatasya, tetapi Anatasya selalu menolaknya dengan halus.
Melihat Emil, ide Maja tiba-tiba terasa masuk akal. Ini adalah kesempatan yang sempurna. Anatasya harus menunjukkan pada Lev Ryley bahwa ia tidak hanya tertarik padanya. Ia harus membuat Lev cemburu.
Anatasya berjalan ke arah Emil dengan senyum ramah. "Emil! Lama tidak bertemu," katanya, dengan nada yang dibuat-buat ceria.
Emil, yang terkejut dengan sambutan Anatasya, membalasnya dengan senyum lebar. "Anatasya! Ya, lama tidak bertemu. Kau terlihat... berbeda."
"Berbeda?" tanya Anatasya, sedikit panik.
"Lebih... bersemangat," kata Emil, tersenyum. "Ada sesuatu yang terjadi?"
Anatasya melirik ke arah Lev Ryley. Lev Ryley masih membaca, tetapi Anatasya merasa ia sedang diperhatikan. Anatasya merasa pipinya memanas lagi, tetapi ia melanjutkan sandiwaranya.
"Ya, ada sedikit," kata Anatasya, dengan nada menggoda. "Ada sesuatu yang menarik terjadi di perpustakaan akhir-akhir ini."
Emil, yang tidak tahu apa yang Anatasya maksud, hanya tersenyum. "Menarik? Boleh kau ceritakan?"
Anatasya merasa terdorong. Ia melirik lagi ke arah Lev Ryley, dan ia melihat pria itu menaikkan alisnya. Anatasya merasa ada sedikit ketegangan di udara.
"Mungkin nanti," kata Anatasya, dengan nada misterius. "Aku sedang sibuk sekarang."
Emil mengangguk, lalu pergi ke arah rak buku yang ia tuju. Anatasya kembali ke mejanya, merasa puas. Ia merasa ia telah berhasil. Ia telah membuat Lev cemburu. Ia telah bertindak.
Tiba-tiba, suara tenang dan dalam terdengar dari belakangnya. "Apa yang kau lakukan?"
Anatasya berbalik, dan melihat Lev Ryley berdiri di belakangnya. Ia menatap Anatasya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa ingin tahu, tetapi juga sedikit... marah.
"Aku... aku tidak melakukan apa-apa," kata Anatasya, merasa gugup.
"Kau sedang mencoba membuatku cemburu," kata Lev Ryley, suaranya tenang, tetapi matanya tajam. "Kau tidak pandai dalam hal itu, Anatasya Karlsson."
Anatasya merasa terkejut. Bagaimana Lev Ryley bisa tahu?
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Anatasya.
"Karena kau tidak pernah tersenyum seperti itu pada siapa pun," kata Lev Ryley, matanya tetap menatap Anatasya. "Dan kau tidak bisa menyembunyikan kebohonganmu."
Anatasya merasa malu yang luar biasa. Ia merasa seperti anak kecil yang tertangkap basah. "Aku... aku minta maaf."
"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Lev Ryley.
"Aku... aku tidak tahu," kata Anatasya, suaranya pelan. "Aku hanya... mengikuti saran temanku."
Lev Ryley menghela napas, lalu tersenyum. Bukan senyum geli, tetapi senyum yang tulus. "Lain kali, Anatasya Karlsson, jangan mengikuti saran temanmu. Ikuti hatimu."
Anatasya menatapnya, dan untuk pertama kalinya, ia merasa hatinya berdebar bukan karena malu, tetapi karena... tertarik. Lev Ryley, pria misterius yang pendiam, kini terlihat jauh lebih menarik.
Dan Anatasya, yang tidak pernah pandai dalam hal cinta, merasa ia baru saja memulai pelajaran yang paling sulit. Dan ia tidak bisa berhenti.
