Setelah seharian menghabiskan waktu di dapur kecil toko buku, yang berakhir dengan terciptanya pirozhki kuno dengan aroma buah-buahan yang sudah langka, malam akhirnya tiba di Chelyabinsk. Salju kembali turun dengan lebat, menambah lapisan keheningan di jalanan. Andriy duduk di dekat jendela besar tokonya, memandangi kepingan salju yang jatuh perlahan.
Ksenia, dengan laptop di pangkuannya, duduk di sofa tua yang nyaman. Ia sibuk mengedit video vlognya. Terkadang, ia tertawa sendiri saat melihat ekspresi cemberut Andriy di dalam video. Andriy sesekali melirik Ksenia, melihat semangatnya yang membara untuk sebuah hobi yang, menurut Andriy, terlalu rumit.
"Andriy," panggil Ksenia, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Kau harus membuat akun media sosial. Untuk toko buku. Atau bahkan untuk dirimu sendiri. Aku bisa membantumu."
Andriy mendengus. "Untuk apa? Aku sudah hidup ribuan tahun tanpa media sosial. Aku tidak butuh itu. Itu hanya membuang-buang waktu."
"Tidak! Kau tidak mengerti. Media sosial itu penting. Kau bisa menjangkau lebih banyak orang. Kau bisa menjual buku-bukumu secara online. Kau bahkan bisa memamerkan koleksi langkamu. Itu akan meningkatkan penjualan, Andriy!" jelas Ksenia, dengan nada seperti seorang pebisnis muda yang antusias.
Andriy hanya menggelengkan kepalanya. "Aku menjual buku karena aku mencintai buku. Aku tidak menjualnya karena uang. Lagi pula, aku tidak butuh uang sebanyak itu. Hidupku sederhana. Aku punya tempat tinggal, toko, dan teh chamomile. Aku tidak butuh hal-hal lain."
Ksenia meletakkan laptopnya dan menatap Andriy dengan serius. "Andriy, ini bukan tentang uang. Ini tentang terhubung. Dunia berubah, kau tidak bisa terus hidup di masa lalu. Kau harus beradaptasi. Jika kau terus bersembunyi, kau akan semakin terisolasi."
"Aku sudah terisolasi, Ksenia," jawab Andriy dengan suara yang lebih lembut. "Itu harga dari keabadian."
Ada jeda hening di antara mereka, yang diisi oleh suara salju yang jatuh. Ksenia menghela napas. "Baiklah. Kalau begitu, mari kita bicarakan hal lain. Bagaimana jika kau membantuku mengedit videonya? Ada bagian di mana ekspresimu terlihat seperti baru saja melihat hantu."
Andriy akhirnya tersenyum. "Kau terlalu dramatis. Tapi baiklah, aku akan melihatnya."
Andriy mendekati Ksenia dan melihat laptopnya. Kesenjangan usia yang terbentang di antara mereka terasa sangat nyata. Ksenia, dengan segala kegairahan akan teknologi baru, dan Andriy, dengan keengganannya untuk beradaptasi. Andriy melihat rekaman video itu, dan ia harus mengakui, ekspresinya memang sedikit aneh.
"Itu karena Ogon mencuri ikan sardenku," kata Andriy, membela diri.
Ksenia tertawa. "Ogon itu sebuah berkah. Ia memberimu ekspresi yang otentik. Para penonton pasti menyukainya."
Malam semakin larut. Ksenia akhirnya selesai dengan editingnya. Andriy menemani Ksenia berjalan pulang ke kafe, yang kini menjadi rumahnya juga. Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya kuning yang redup, membuat salju terlihat seperti berlian yang berkilauan. Andriy berjalan di samping Ksenia, merasakan hawa dingin yang menusuk, tetapi hatinya terasa hangat.
Saat mereka sampai di depan kafe, Ksenia memeluk Andriy dengan erat. "Terima kasih, Andriy. Malam ini sangat menyenangkan."
Andriy membalas pelukannya, merasakan kehangatan dari tubuh manusia yang fana. "Sama-sama, Ksenia."
"Sampai besok, Andriy. Jangan terlalu banyak melamun," kata Ksenia, lalu melepaskan pelukannya dan berjalan masuk ke dalam kafe.
Andriy berdiri di depan kafe, melihat jejak kaki mereka di salju. Jejak kaki Ksenia yang bersemangat, dan jejak kakinya yang lebih lambat dan penuh keraguan. Ia tahu, jejak kaki itu akan hilang ditutupi oleh salju yang terus turun. Seperti persahabatan yang ia jalin, yang suatu hari nanti akan lenyap.
Ia kembali berjalan pulang ke toko bukunya. Di sepanjang jalan, ia melihat pasangan muda yang tertawa riang, keluarga yang sedang berjalan-jalan, dan orang tua yang berjalan dengan tongkat. Ia melihat kehidupan manusia, yang terus berlanjut, meskipun ada perpisahan.
Saat ia sampai di tokonya, ia duduk kembali di kursi kesayangannya. Ia melihat salju yang semakin lebat, dan ia merasa kesepian. Ia telah melihat ribuan musim dingin, tapi musim dingin kali ini terasa berbeda. Ada rasa kesepian yang baru, yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia menyadari, ia tidak hanya takut pada perpisahan. Ia takut pada kenyataan bahwa ia akan terus hidup, sementara semua orang yang ia cintai akan meninggalkannya. Ia takut pada keheningan yang akan datang setelah tawa Ksenia menghilang. Ia takut pada teh chamomile yang akan ia minum sendiri, tanpa Kolya di sampingnya.
Ia mengambil buku tua dari rak, dan membacanya. Buku itu bercerita tentang seorang pengelana yang mencari arti hidup. Andriy membaca buku itu, mencoba mencari jawaban. Tapi ia tidak menemukan jawaban. Yang ia temukan hanyalah bahwa hidup, baik bagi seorang elf atau manusia, adalah tentang menemukan arti dalam perjalanan itu sendiri.
Malam itu, Andriy tidak hanya merasakan dinginnya Chelyabinsk. Ia merasakan dinginnya keabadian, dan ia tahu, ia harus belajar untuk hidup dengan itu. Sendirian, atau tidak. Dengan media sosial, atau tanpa media sosial. Dengan teh chamomile, atau tanpa teh chamomile. Ia harus belajar untuk menerima, bahwa hidup, bagi seorang elf, adalah tentang perpisahan yang tak berkesudahan, dan kenangan yang takkan pernah pudar.
