Setelah petualangan akhir pekan yang menyenangkan di Perth dan Rottnest Island, persahabatan Lev dan Jessica semakin erat. Mereka tidak lagi canggung. Hari-hari mereka di kampus diisi dengan diskusi-diskusi yang hangat, tidak hanya tentang mata kuliah, tetapi juga tentang banyak hal lain.
Suatu sore, saat mereka duduk di bangku taman kampus, Jessica tiba-tiba bertanya, "Lev, aku mau tanya sesuatu. Tapi jangan marah, ya."
"Tentu saja. Kenapa harus marah?" jawab Lev.
"Tadi di kelas, dosen menjelaskan tentang sejarah Australia dan suku Aborigin. Dosen bilang, ada banyak sekali kepercayaan dan mitos yang diyakini oleh mereka. Kamu percaya juga, tidak?" tanya Jessica.
Lev tersenyum. Ia tahu ini adalah pertanyaan sensitif, tapi ia tidak merasa tersinggung. "Islam mengajarkan kami untuk percaya hanya kepada satu Tuhan, Allah," jelasnya dengan sabar. "Tapi itu tidak berarti kami tidak bisa menghormati kepercayaan orang lain. Kami diajarkan untuk menghargai setiap manusia, apa pun latar belakangnya."
Jessica mengangguk, menunjukkan pemahaman. "Aku senang kamu tidak tersinggung. Beberapa orang di sini terlalu sensitif jika ditanya soal agama."
"Itu karena mereka tidak mengerti," kata Lev. "Aku percaya, dengan saling bicara dan berbagi, kita bisa memahami satu sama lain. Sama seperti kita sekarang."
"Kamu benar," kata Jessica. "Aku belajar banyak hal dari kamu, Lev. Tentang Islam, tentang toleransi, dan tentang bagaimana caranya tetap kuat dengan keyakinanmu."
"Aku juga belajar banyak darimu, Jess," balas Lev tulus. "Kamu orang yang sangat terbuka dan tidak menghakimi. Itu membuatku merasa nyaman."
Percakapan mereka berlanjut tentang perbedaan budaya. Jessica bercerita tentang kebiasaan orang Australia yang suka berpesta dan minum alkohol. Lev mendengarkan dengan seksama, dan menjelaskan mengapa dalam Islam hal itu dilarang.
"Kami diajarkan untuk menjaga tubuh dan pikiran kami agar tetap bersih. Alkohol bisa membuat orang kehilangan kendali dan bisa menimbulkan banyak masalah," jelas Lev.
Jessica mengangguk setuju. "Aku mengerti. Banyak temanku yang sering minum-minum sampai mabuk. Dan ya, seringkali ada masalah yang timbul setelahnya."
"Terkadang, ada orang yang menganggap ajaran agama itu membatasi. Padahal, semua itu untuk kebaikan kita sendiri," kata Lev.
Jessica menatap Lev dengan mata berbinar. "Kamu benar, Lev. Kamu melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, tapi masuk akal."
Sore itu, mereka menghabiskan waktu dengan berbincang santai, saling berbagi cerita dan pandangan. Lev merasa nyaman berbagi tentang Islam, dan Jessica menerima setiap penjelasan dengan hati terbuka. Mereka menyadari, persahabatan mereka tidak hanya sebatas teman, tapi juga seperti jembatan yang menghubungkan dua dunia yang berbeda.
Saat senja mulai turun, Lev dan Jessica berdiri di tepi danau kampus. Langit perlahan berubah warna menjadi jingga keemasan.
"Jess," panggil Lev. "Aku berjanji, persahabatan kita akan terus selamanya. Meski nanti kita kembali ke negara masing-masing."
Jessica tersenyum, senyum yang begitu tulus. "Tentu saja, Lev. Sahabat selamanya," katanya, seraya mengacungkan jari kelingkingnya, membuat Lev sedikit bingung.
"Apa itu?" tanya Lev.
"Ini namanya pinky promise. Janji kelingking," jawab Jessica sambil mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Lev. "Ini adalah janji yang tidak boleh dilanggar. Janji persahabatan kita."
Lev tertawa kecil, terharu dengan kehangatan persahabatan mereka. Ia pun mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Jessica. "Janji kelingking. Aku suka itu," katanya.
Di bawah langit senja Perth yang mempesona, dua sahabat dari dua budaya yang berbeda membuat sebuah janji. Sebuah janji yang tidak tertulis, namun terukir dalam hati mereka. Janji bahwa persahabatan mereka akan tetap abadi, meskipun dunia terbentang luas di antara mereka.
