Malam tiba, dan kota Daha diselimuti kegelapan dan keheningan yang mencekam. Rakyat berkumpul di rumah-rumah mereka, ketakutan, menunggu nasib mereka. Tembok-tembok kota yang kokoh tidak lagi memberikan rasa aman, karena mereka tahu, di luar sana, pasukan Samudra telah mengepung mereka.
Di dalam istana, Tumenggung duduk di singgasananya, wajahnya penuh kemarahan dan frustrasi. Ia menatap para pengawalnya yang tersisa, matanya memancarkan amarah. "Kita tidak akan menyerah!" teriaknya. "Kita akan bertarung sampai akhir! Kita tidak akan membiarkan bocah itu mengambil takhta kita!"
Namun, saat ia berteriak, terdengar suara keributan di luar. Suara bentrokan senjata dan teriakan para prajurit. Tumenggung terkejut. "Apa yang terjadi?" tanyanya.
Seorang pengawal datang, wajahnya pucat pasi. "Paduka, mereka menyerang!" katanya. "Mereka menyerang dari gerbang utama!"
Samudra, dengan Gendut di sisinya, memimpin serangan ke gerbang utama. Pasukan Demak, dengan strategi yang cemerlang, berhasil menembus pertahanan gerbang. Mereka bertarung dengan semangat yang tinggi, menebas prajurit Tumenggung satu per satu.
Sangkuriang dan pasukannya juga menyerang dari arah lain, membuat kekacauan di barisan Tumenggung. Sementara itu, Bagus dan para gerilyawannya menyelinap ke dalam kota, membantu rakyat yang tertindas.
Di tengah-tengah pertempuran, Samudra melihat Tumenggung. Paman yang dulu ia hormati, kini menjadi musuh yang harus ia kalahkan. Ia tahu, pertempuran ini adalah tentang mereka berdua. Ia harus menghadapinya secara langsung.
Samudra berteriak, "Tumenggung! Hadapi aku!"
Tumenggung mendengar teriakan itu. Wajahnya memerah karena marah. "Bocah lancang!" teriaknya. Ia melompat dari singgasananya, mengambil pedangnya, dan melompat ke arah Samudra.
Pertarungan antara Samudra dan Tumenggung pun pecah. Mereka berdua adalah ahli pedang, tetapi mereka bertarung dengan gaya yang berbeda. Samudra bertarung dengan hati, dengan semangat untuk membalas dendam atas kematian ayahnya dan penderitaan rakyatnya. Tumenggung bertarung dengan ambisi, dengan keinginan untuk mempertahankan kekuasaannya.
Pertarungan itu berlangsung sengit. Keduanya saling menyerang, menghindar, dan menebas. Pedang mereka beradu, menciptakan percikan api. Namun, Samudra lebih gesit dan bersemangat. Ia berhasil menghindari serangan Tumenggung, dan akhirnya, ia berhasil menebas pedang Tumenggung. Pedang Tumenggung jatuh ke tanah, dan ia pun roboh.
Samudra mengarahkan pedangnya ke leher Tumenggung. Tumenggung, yang kini tidak berdaya, menatap Samudra dengan mata penuh kebencian. "Bunuh aku," katanya.
"Tidak," jawab Samudra, suaranya tenang. "Aku tidak akan membunuhmu. Kau akan diadili oleh rakyatmu."
Tumenggung terkejut. Ia tidak menyangka Samudra akan menunjukkan kemurahan hati.
Saat itu, Khatib Dayyan, ulama dari Demak, datang. Ia melihat Tumenggung yang tidak berdaya, dan ia melihat Samudra yang berdiri di atasnya. "Keadilan akan ditegakkan," katanya. "Semua orang akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya."
Rakyat Daha, yang telah lama menderita, akhirnya bersorak. Mereka merayakan kemenangan Samudra, pahlawan mereka. Mereka memeluk Samudra, berterima kasih kepadanya karena telah membebaskan mereka dari kekuasaan Tumenggung yang kejam.
Bab ini berakhir dengan kemenangan Samudra dan pasukannya. Daha telah jatuh, Tumenggung telah ditangkap, dan Samudra akhirnya mendapatkan kembali takhtanya. Namun, ia tahu, perjalanannya belum berakhir. Ia harus membangun kembali Daha, menyatukan kembali Banjar, dan memastikan keadilan ditegakkan. Ia harus menjadi seorang raja yang lebih baik dari yang pernah ada.
