Sore itu, Eva duduk di kursi goyangnya, Lief meringkuk di kakinya yang terbungkus selimut. Tangannya menggenggam sebuah buku bersampul kulit yang sudah usang, halamannya menguning dan rapuh. Buku itu bukan novel, melainkan sebuah jurnal dari masa lalu Eva yang jauh masa-masa ketika dunia bergerak dengan irama yang berbeda. Masa-masa di mana ia berada di tengah-tengah lautan, merasakan percikan asin dan angin yang dingin, jauh dari kedamaian di Alaska.
Jari-jari Eva mengusap halaman yang menggambarkan sebuah sketsa kapal layar, sebuah tiga tiang yang megah dengan layar-layar yang berkibar. Di bawah sketsa itu, ada sebuah nama yang tertera dengan tulisan tangan yang gagah: Kapten Elara. Ya, itu namanya dulu. Di sampingnya, tulisan tangan lain, dengan gaya yang lebih elegan: Daniel Finch.
Flashback.
Tahun 1827. Di atas geladak kapal dagang The Serpent's Kiss, Eva (saat itu dikenal sebagai Elara) berdiri di haluan, rambut peraknya ditiup angin laut. Matanya, yang sekarang menyembunyikan ribuan tahun kenangan, saat itu dipenuhi oleh kegembiraan petualangan. Ia adalah kapten kapal itu, meskipun usianya masih tampak seperti akhir dua puluhan. Penampilannya yang awet muda selalu menjadi teka-teki bagi para awak kapal, tapi mereka tahu bahwa ia adalah kapten yang adil, tangguh, dan yang paling penting, membawa keberuntungan.
Di sampingnya berdiri Daniel Finch, seorang navigator berbakat dari keluarga bangsawan yang melarikan diri dari kehidupan yang membosankan di daratan. Daniel adalah pria yang cerdas dan penuh gairah, dengan mata cokelat yang selalu dipenuhi rasa ingin tahu. Ia adalah satu-satunya manusia di kapal yang tidak merasa terintimidasi oleh ketenangan aneh yang terpancar dari Elara.
"Kita akan tiba di Boston dalam dua minggu, Kapten," kata Daniel, suaranya dipenuhi kegembiraan.
"Begitukah? Kurasa aku akan merindukan lautan," jawab Elara, tatapannya menyapu cakrawala yang tak berujung.
"Kau bisa tinggal di Boston bersamaku, Elara. Kita bisa membangun kehidupan baru. Kau bisa membeli sebuah rumah besar, dan aku akan mengajarimu semua yang aku tahu tentang daratan." Daniel mengatakannya dengan sedikit ragu, tetapi penuh harapan.
Elara menoleh, senyum sedih terukir di bibirnya. "Daniel... kau tahu itu tidak mungkin."
Daniel memegang tangannya. "Kenapa tidak? Aku mencintaimu, Elara. Dan aku tahu kau juga mencintaiku."
Elara mencintainya. Ya, ia mencintainya. Cinta manusia yang fana ini begitu kuat, begitu intens, sehingga hampir membuatnya lupa akan takdirnya. Ia mencintai semangatnya, akalnya, dan hasratnya untuk hidup. Tapi ia tahu, seperti ombak yang akan surut, cinta ini pun akan berakhir.
Mereka tiba di Boston. Untuk beberapa tahun, Elara membiarkan dirinya tenggelam dalam kebahagiaan yang semu. Ia tinggal di sebuah rumah di Boston bersama Daniel. Ia mencoba menjalani kehidupan manusia biasa. Ia pergi ke pesta dansa, membaca buku-buku baru, dan menikmati setiap momen. Namun, ia tidak bisa mengabaikan waktu yang terus berjalan. Ia melihat kerutan kecil muncul di sudut mata Daniel. Ia melihat rambut Daniel mulai beruban. Sementara ia, tetap tidak berubah.
Suatu malam, saat Daniel sudah tua dan lemah, ia memegang tangan Elara yang masih muda. "Kau tetap sama, Elara," bisiknya, suaranya serak. "Sama seperti saat pertama kali aku melihatmu di kapal itu."
Elara tidak bisa menahan air matanya. "Aku tidak bisa... aku tidak bisa membiarkanmu pergi, Daniel."
"Kau harus," kata Daniel. "Ini adalah siklus kehidupan. Kau tahu itu. Aku bahagia. Kau membuatku bahagia."
Perpisahan terakhir mereka adalah di sebuah malam yang dingin di musim dingin. Elara duduk di samping ranjangnya, menggenggam tangan Daniel, menemaninya hingga napas terakhirnya. Setelah itu, ia meninggalkan Boston, meninggalkan rumah, dan kenangan-kenangan yang telah mereka ukir bersama. Ia berlayar ke barat, ke sebuah tempat di mana ia bisa menghilang, di mana ia bisa menyembuhkan luka yang tak pernah sembuh.
Flashback berakhir.
Eva membuka matanya, menemukan dirinya kembali di pondoknya yang hangat di Alaska. Tangannya gemetar. Lief mendongak, menyadari perubahan suasana hati Eva. Kucing itu bangkit, mengusap-usapkan kepalanya di pipi Eva, memberikan kenyamanan tanpa kata.
Itulah mengapa ia begitu hati-hati. Setiap kenangan lama yang terbuka kembali, terasa seperti luka baru yang diiris. Daniel adalah salah satu kenangan terindah sekaligus yang paling menyakitkan. Ia tidak pernah bisa melupakannya. Senyumnya, tawanya, dan cintanya. Semua itu kini hanya ada di dalam buku jurnal dan di sudut tersembunyi hatinya.
Ia tahu, pertemuannya dengan Alex adalah awal dari sebuah cerita baru, cerita yang, suatu hari nanti, akan berakhir dengan cara yang sama. Tapi ia juga tahu, ia tidak bisa terus menerus berlari dari takdirnya. Ia harus berani mencintai, meskipun konsekuensinya adalah perpisahan. Karena, seperti kata Daniel, cinta adalah bagian dari kehidupan. Dan sebagai elf terakhir, ia harus terus menjalani kehidupan ini, hingga entah kapan. Ia harus terus mengumpulkan kenangan, baik yang indah maupun yang menyakitkan. Itu adalah satu-satunya cara ia bisa merasa hidup.
