Pertarungan pecah di dalam kantor Argus. Serangan es Sombra, yang menyamar sebagai Luna, begitu cepat dan mematikan. Pilar-pilar es melesat seperti tombak, memecahkan perabotan dan menciptakan celah-celah di dinding. Lev, Vania, dan Anatasya segera mengambil posisi defensif, terkejut dengan kecepatan dan kekuatan musuh.
"Elemen es tidak berasal dari kegelapan," teriak Sombra, suaranya kini terdengar gema, bukan lagi lembut seperti Luna. "Ia adalah kehampaan, dan kehampaan akan menyelimuti kalian semua!"
Sombra melancarkan rentetan es ke arah Vania, bertujuan memadamkan nyala apinya. Vania dengan sigap melompat, menciptakan dinding api yang membakar es yang datang. Tetapi es itu tidak mencair, melainkan berubah menjadi uap dingin yang membuat pandangan kabur. Anatasya memanfaatkan uap itu untuk menyembunyikan diri, membentuk cambuk air yang menyerang Sombra dari sisi. Sombra, dengan lincah, menghindar dan membalas dengan tombak es yang lebih besar.
Lev, yang tadinya terkejut, kini sadar. Ia harus menggunakan kekuatannya, bukan untuk menyerang secara langsung, tetapi untuk menstabilkan dan melindungi. Ia menjejakkan kakinya ke lantai, merasakan fondasi bangunan. Dengan kekuatan yang ia kumpulkan, ia menghentikan getaran akibat serangan Sombra, membuat kantor itu tetap utuh meski terkena serangan bertubi-tubi.
"Dasar lemah!" ejek Sombra, melihat Lev hanya bertahan. "Kekuatanmu hanya untuk melindungi, bukan untuk menghancurkan!"
Lev tidak membalas. Ia tahu bahwa kekuatan buminya adalah kekuatan yang tenang, tetapi kuat. Ia melihat Anatasya yang kesulitan menangkis serangan Sombra, dan Vania yang mulai kelelahan karena harus terus-menerus menghasilkan api. Lev tahu, ia harus melakukan sesuatu.
Ia melihat ke bawah, ke lantai yang terbuat dari batu. Ia mengumpulkan kekuatannya, dan dengan satu sentakan, ia membuat lantai di bawah Sombra retak dan bergetar. Sombra terkejut, keseimbangannya hilang. Ia hampir terjatuh.
Vania melihat celah itu. "Sekarang!" teriaknya.
Vania meluncurkan bola api terbesar yang pernah ia ciptakan, sementara Anatasya menciptakan pusaran air yang kuat. Bola api dan pusaran air itu bergabung, menciptakan badai uap panas yang menyerang Sombra. Sombra, yang masih belum pulih dari serangan Lev, tidak bisa menghindar. Ia menjerit kesakitan, dan wujud Luna-nya mulai pecah, menunjukkan kabut hitam yang sebenarnya.
Sombra, yang terluka, melepaskan kekuatan esnya. Seluruh kantor membeku, dan mereka merasakan suhu dingin yang membekukan tulang. Lev, Vania, dan Anatasya hampir tidak bisa bergerak.
"Aku akan kembali," bisik Sombra, suaranya dipenuhi ancaman, sebelum menghilang dalam kepulan asap hitam.
Kantor Argus hancur, tetapi mereka berhasil selamat. Argus, yang selama ini menyaksikan pertarungan dari sudut ruangan, mendekati mereka.
"Kalian berhasil," katanya, suaranya dipenuhi penghargaan. "Kalian membuktikan bahwa kalian adalah tim yang kuat."
Lev, Vania, dan Anatasya saling berpandangan, lega. Mereka berhasil. Tetapi mereka tahu, pertempuran ini hanyalah awal. Mereka tahu bahwa Sombra akan kembali, dan ia akan lebih kuat. Mereka juga tahu bahwa Sombra akan terus mencoba memanipulasi Lev, dan Lev harus lebih kuat.
Bab ini diakhiri dengan mereka menyadari bahwa mereka harus lebih mempersiapkan diri. Pertarungan dengan Sombra bukanlah hanya pertarungan fisik, tetapi juga pertarungan mental. Mereka harus lebih kuat, lebih bersatu, dan lebih percaya pada diri mereka sendiri. Terutama Lev, yang harus menghadapi godaan kekuatan yang ia dambakan.
