Mentari sore di Banjarmasin perlahan meredup, memantulkan bias jingga di permukaan Sungai Martapura. Di sebuah kafe modern yang terletak tak jauh dari landmark megah Masjid Raya Sabilal Muhtadin, empat kepala sedang berkumpul dengan ekspresi beragam.
Ada Lev Ryley (25), si tokoh utama yang sedang didera krisis eksistensial. Tatapannya kosong menembus jendela kafe, seolah-olah hiruk pikuk kota seribu sungkai yang dulu ia cintai kini terasa hambar. Kaos polos dan celana jinsnya kontras dengan suasana hatinya yang kusut. "Sampai kapan kita begini-begini aja, Ris? Banjarmasin cuma kerja, macet, makan, tidur lagi," keluhnya, menyesap es teh manisnya dengan ogah-ogahan.
Di seberangnya duduk Faris (26), pemuda santai dengan kamera DSLR yang selalu menggantung di lehernya. Senyum tipis terukir di wajahnya. "Santai, Lev. Hidup itu proses. Mungkin kita cuma butuh perspektif baru. Atau kopi baru?" tawarnya sambil tertawa kecil. Faris adalah penengah alami, jago bernegosiasi dengan preman pasar hingga ibu-ibu penjual nasi kuning.
Di samping Faris, ada Aisyah (24), si perencana ulung yang hijabnya selalu rapi jali. Di depannya terbentang buku catatan tebal penuh coretan checklist dan peta Kalsel. Wajahnya sedikit kaku, tapi matanya memancarkan semangat. "Kita butuh tujuan, bukan cuma perspektif. Kita bisa ubah kegelisahan ini jadi sesuatu yang produktif, insyaAllah."
Dan yang paling heboh, Zahra (23). Gadis ceria, spontan, dan sumber kekacauan komedi yang tiada habisnya. Saat ini dia sedang sibuk merekam vlog dengan kamera ponselnya, berbicara dengan penuh energi kepada penonton imajinernya. "Halo guys! Zahra di sini! Lagi meeting penting sama geng motor syar'i kita! Stay tune buat petualangan gokil kita!" celetukannya disambut tatapan horor dari Aisyah dan tawa renyah dari Faris.
"Geng motor syar'i apaan, Zahra? Kita mau road trip naik mobil sewaan, bukan konvoi ninja," protes Aisyah, sedikit kesal.
Lev akhirnya angkat bicara, idenya yang semula hanya angin lalu kini mulai mengakar kuat. "Gue serius. Kita butuh perjalanan. Jauh dari Banjarmasin. Keluar dari zona nyaman kita. Gimana kalau kita jelajahin semua pantai terkenal di Kalimantan Selatan? Ada 25 pantai kalau gue hitung."
Seketika, semua mata tertuju pada Lev. Faris langsung antusias. "Wah, ide bagus! Spot foto keren pasti banyak!"
Aisyah langsung membuka buku catatannya. "25 pantai... itu butuh perencanaan matang. Logistik, rute, penginapan, dan yang paling penting, jadwal salat dan makanan halal. Qiyamul lail juga harus masuk jadwal."
Zahra malah makin heboh. "Wah, 25 episode vlog dong! Pasti viral! Kita bisa challenge makan ikan bakar terbanyak di pantai, atau prank Lev pura-pura kesasar di hutan bakau!"
Gelak tawa pecah di kafe itu. Ide gila Lev yang didasari kejenuhan, perlahan berubah menjadi sebuah rencana konkret yang dibungkus dalam niat baik. Niat untuk tadabbur alam, mencari hikmah di setiap jengkal tanah Kalimantan Selatan, dan mempererat persahabatan mereka dalam bingkai Islami.
Mereka sepakat. Perjalanan ini bukan sekadar liburan, tapi sebuah hijrah kecil dari rutinitas yang melenakan menuju pencarian makna hidup yang lebih dalam. Malam itu, di bawah bayang-bayang menara Sabilal Muhtadin yang menjulang, petualangan "Jejak Hikmah di Zamrud Khatulistiwa" resmi dimulai. Banjarmasin, kota yang dulu terasa sempit, kini menjadi titik tolak menuju cakrawala baru yang penuh harapan.
