Tiga hari setelah kepergian Nikolai Petrovich, salju terus turun seolah ingin menutupi duka yang menyelimuti Chelyabinsk. Kafe Ksenia ditutup sementara. Karangan bunga dan pesan duka memenuhi trotoar di depan pintu. Bagi Ksenia dan Vera, duka itu terasa begitu nyata, sebuah lubang menganga di dalam hati mereka. Mereka tidak makan, tidak tidur, dan tidak berbicara. Mereka hanya duduk di dalam kafe yang gelap, saling berpegangan tangan, mencoba mencari kekuatan satu sama lain.
Andriy, yang telah mengalami ini ribuan kali, tahu bahwa duka manusia berbeda dengan dukanya. Duka manusia adalah api yang membakar, membakar habis semua kenangan buruk dan meninggalkan kenangan indah. Duka Andriy adalah es yang membeku, membekukan semua kenangan dan membuatnya tidak bisa merasakan apa-apa.
Andriy kembali ke toko bukunya. Ia menutup pintu, dan ia merasa seolah-olah ia telah menutup pintu untuk selamanya. Ia duduk di kursi kesayangannya, di balik meja kasir. Di meja itu, ada secangkir teh chamomile yang sudah dingin. Ia tidak menyentuhnya. Teh itu, seperti kenangan Kolya, kini terasa dingin dan tidak bernyawa.
Ia mengambil foto usang dari kotaknya, dan ia melihat wajah Pyotr. Ia tersenyum, senyum yang getir. Pyotr sudah tiada, dan kini Kolya juga pergi. Andriy merasa lelah. Ia merasa seperti ia telah hidup terlalu lama.
Ia melihat kalung perak yang ia satukan, yang dulu milik Aleksei dan Pyotr. Kalung itu terasa dingin di tangannya. Ia ingat janji yang ia buat kepada Kolya: untuk terus hidup dan mencari kebahagiaan. Tapi bagaimana ia bisa mencari kebahagiaan saat ia kehilangan orang yang ia cintai?
Tiba-tiba, pintu toko dibuka dengan keras. Vera dan Ksenia masuk, dengan wajah yang penuh amarah.
"Andriy, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ksenia, suaranya dipenuhi amarah. "Kau tidak ke pemakaman? Kau tidak datang untuk mengucapkan selamat tinggal pada Kakek?"
"Aku sudah mengucapkan selamat tinggal," jawab Andriy, dengan suara yang datar. "Aku sudah mengucapkan selamat tinggal sejak aku bertemu dengannya."
"Itu tidak adil!" teriak Vera, air mata mengalir di pipinya. "Kau tidak bisa begitu saja pergi! Kau harus berada di sana! Kita adalah keluarga!"
Andriy menatap Vera, dan ia melihat kesedihan di matanya. Ia menyadari, mereka tidak hanya marah. Mereka merasa ditinggalkan.
"Aku... aku tidak tahu bagaimana harus bersedih seperti kalian," kata Andriy, suaranya parau. "Aku sudah melupakannya."
"Melupakan?" tanya Ksenia, tidak percaya. "Kau bilang kau mencintai Kakek! Bagaimana bisa kau melupakannya begitu saja?"
"Aku tidak melupakan," jawab Andriy. "Aku hanya... terbiasa. Aku terbiasa dengan perpisahan. Aku terbiasa dengan kematian."
Ksenia dan Vera saling menatap, dan mereka merasakan kesedihan yang mendalam. Mereka menyadari, Andriy tidak berbohong. Ia benar-benar terbiasa. Itu adalah hal yang paling menyedihkan yang pernah mereka dengar.
Vera mendekati Andriy, dan ia memegang tangannya. "Andriy, kau tidak harus terbiasa. Kami ada di sini. Kami akan membantumu. Kau tidak sendirian."
Andriy menatap Vera, dan air mata mengalir di pipinya. Ia merasakan kehangatan di tangannya, kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Aku... aku minta maaf," bisik Andriy. "Aku tidak tahu bagaimana."
"Tidak apa-apa," kata Ksenia, memeluk Andriy. "Kami akan mengajarimu. Kami akan menjadi keluargamu. Kau tidak sendirian."
Mereka bertiga duduk di lantai, saling berpelukan. Di luar, salju terus turun, menutupi Chelyabinsk dengan selimut putih. Di dalam, hati mereka terasa hangat. Mereka tidak lagi merasa sendirian. Mereka punya satu sama lain. Mereka punya kenangan. Dan mereka punya janji, janji untuk terus hidup, dan untuk terus mencari kebahagiaan.
Babak baru dalam kehidupan Andriy, yang penuh dengan kesedihan, kenangan, dan harapan, telah dimulai. Ia akan terus hidup, dan ia akan terus mencari kebahagiaan, seperti yang dijanjikannya kepada Kolya. Ia tidak lagi takut pada perpisahan, karena ia tahu, kenangan yang ia jalin akan selalu hidup.
