Ikuti kisah inspiratif, lucu, dan penuh makna 5 mahasiswi perantau di Banjarmasin tahun 2013. Perjuangan kuliah, persahabatan anak kos, hingga nilai-nilai Islami dalam balutan budaya Banjar.
Minggu ketiga di Banjarmasin. Bagi Rina Rufida, tantangan terbesar bukanlah panasnya cuaca Kayutangi, melainkan sebuah benda seberat dua kilogram yang harus ia tenteng setiap hari: Kamus Oxford Advanced Learner's.
Di tahun 2013, aplikasi penerjemah di ponsel pintar belum seakurat sekarang. Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris adalah "kaum otot" yang harus siap membolak-balik kertas tipis kamus setiap kali dosen melontarkan kosakata asing.
"Rin, kenapa wajahmu ditekuk seperti cucian belum kering?" tanya Eva Putri Mylin sambil asyik mengutak-atik motherboard laptop di lantai kos.
Rina menghempaskan tubuhnya di kasur tipis. "Eva, aku baru sadar. Kuliah Bahasa Inggris itu bukan cuma soal 'Yes' dan 'No'. Tadi di kelas Speaking, lidahku kelu. Logat Puruk Cahu-ku ini kuat sekali. Setiap kali aku bicara 'Good morning', teman-temanku malah tertawa. Katanya logatku seperti orang mau mengajak berkelahi."
Dina yang sedang sibuk mensterilkan alat-alat praktikum gigi (manekin mulut) ikut menimpali. "Sama saja, Rin. Tadi aku belajar anatomi mulut. Istilahnya pakai bahasa Latin semua. Maxilla, Mandibula... aku sampai bingung, ini nama tulang atau nama menu di kafe?"
Fatimah yang baru pulang dari kampus dengan membawa setumpuk naskah drama duduk di samping Rina. "Itulah indahnya perjuangan, Sahabatku. Seperti kata pepatah, 'Man jadda wajada'. Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil. Mungkin kamu perlu latihan bicara di depan cermin, atau... bicara dengan sungai!"
"Bicara dengan sungai?" Rina mengernyit.
"Iya! Orang Banjar bilang, kalau kamu bicara dengan air mengalir, bebanmu ikut hanyut," Fatimah berujar sok bijak, yang langsung disambut lemparan bantal oleh Eva.
Komedi di Laboratorium Bahasa
Keesokan harinya, Rina harus menghadapi ujian Pronunciation (pelafalan) di laboratorium bahasa yang dinginnya minta ampun. Di hadapannya, seorang dosen senior dengan kacamata yang melorot hingga ujung hidung menatap tajam.
"Rina Rufida. Please read this sentence: 'The thin thief thought they thrived through thick and thin'," ujar sang dosen.
Rina menarik napas panjang. Ia mencoba mengingat teknik yang diajarkan Eva semalam (yang sebenarnya Eva hanya asal bicara).
"The tin tip tot... eh, The thin thie-f..." Rina terjebak. Huruf 'th' adalah musuh bebuyutannya. Karena terlalu gugup, logat Barito-nya keluar dengan power maksimal.
Satu kelas terdiam, lalu tawa pecah saat Rina tanpa sengaja mengucapkan kata terakhir dengan nada bertanya khas urang hulu: "Thin-kah, Pak?"
Wajah Rina memerah. Namun, di tengah tawa itu, ia melihat Abdalia Ulfah mengintip dari balik kaca pintu laboratorium sambil memberikan jempol dan gerakan mulut: "Semangat, Rin! Kena kita makan pentol!" (Nanti kita makan pentol).
Pelajaran Hidup: Rendah Hati dan Pantang Menyerah
Sore harinya, mereka berlima berkumpul di depan Menara Pandang, siring Sungai Martapura. Angin sepoi-sepoi membawa aroma air sungai yang khas.
"Aku merasa bodoh sekali tadi," keluh Rina sambil menusuk pentol ikan yang dibelinya di pinggir jalan.
Abdalia menepuk bahu Rina. "Rin, kita ini datang ke sini untuk belajar, bukan untuk jadi hebat sejak lahir. Kamu tahu tidak? Tadi aku di jurusan PGSD juga diajari cara menulis huruf tegak bersambung. Aku yang sudah besar begini harus belajar nulis seperti anak kelas 1 SD lagi. Malu? Iya. Tapi kalau tidak begitu, bagaimana aku bisa jadi guru nanti?"
"Benar kata Lia," sambung Eva. "Aku saja tadi hampir merusak server kampus karena salah memasukkan perintah coding. Intinya, jangan takut salah. Di kos ini, kita bukan cuma teman tidur, tapi teman tumbuh."
Fatimah kemudian membuka buku catatannya. "Aku punya ide. Mulai besok, di Kamar Nomor 5, kita buat aturan: English Hour. Setiap jam 8 sampai jam 9 malam, kita wajib bicara bahasa Inggris. Siapa yang pakai bahasa Banjar atau bahasa Indonesia, denda seribu rupiah!"
"Setuju!" seru mereka kompak, kecuali Dina yang langsung pucat. "Waduh, bisa habis uang jajanku buat bayar denda!"
Malam itu, Banjarmasin tahun 2013 menyajikan pemandangan indah. Lampu-lampu dari jembatan Dewi mulai menyala. Lima sahabat itu pulang ke kos dengan hati yang lebih ringan. Mereka belajar satu hal penting hari itu: Gelar sarjana memang dikejar di ruang kelas, tapi karakter dibentuk dalam kebersamaan dan kegagalan.
Insight Menarik (Kilas Balik 2013):
FKIP ULM: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat adalah salah satu fakultas tertua dan paling bergengsi di Kalimantan. Kunjungi situs FKIP ULM.
Trend 2013: Saat itu, anak kuliah sangat gemar nongkrong di "Siring" (pinggiran sungai) Martapura sambil makan pentol atau jagung bakar.
Istilah Lokal: Mandai, Haruan, Pentol, dan logat 'kah' atau 'pang' adalah ciri khas dialek masyarakat Kalimantan Selatan yang memperkaya cerita ini.
Lanjut ke Bab 4: Aroma Haruan: Masakan Kandangan ala Abdalia (Ketika Rindu Rumah Melanda)...
Bagikan kisah ini kepada teman kuliahmu yang punya perjuangan serupa di masa lalu!
