Rise of the River King". Kisah Lev Ryley, Hunter Rank E di Banjarmasin yang membangkitkan kekuatan Naga Putih Barito. Aksi, Komedi, & Drama Sedih!
Matahari baru saja mengintip di ufuk timur Banjarmasin, memantulkan cahaya keemasan di atas permukaan Sungai Martapura yang tenang. Namun, bagi Lev Ryley, keindahan itu tidak lebih dari pengingat bahwa perutnya belum terisi sejak kemarin sore.
"Satu porsi nasi kuning, pakai telur masak habang, bungkus daun pisang, Acil," ucap Lev sambil menyodorkan lembaran uang lusuh sepuluh ribu rupiah.
Acil (tante) penjual nasi kuning di pinggiran Siring itu menatap Lev dengan iba. "Hanya telur saja, Lev? Tidak pakai haruan (ikan gabus)?"
Lev tersenyum tipis, memperlihatkan wajahnya yang lelah namun tetap terlihat tangguh. "Nanti kalau sudah Level Up, Cil. Sekarang telurnya saja sudah mewah."
Lev adalah seorang Hunter Rank E. Di dunia di mana status adalah segalanya, Rank E hanyalah sebutan halus untuk "buruh kasar Dungeon". Jika Hunter Rank S seperti Anatasya dianggap kuat yang bisa membelah langit, maka Lev hanyalah semut yang bertugas memunguti batu mana sisa di zona aman.
Baru saja ia hendak menyuap nasi kuningnya, ponsel bututnya bergetar hebat. Sebuah notifikasi dari aplikasi Hunter Association Indonesia (HAI) berbunyi:
[URGENT: RAID PERMINTAAN MENDADAK]
Lokasi: Pintu Air Jembatan Barito.
Tipe: Dungeon Rank D.
Posisi Dibutuhkan: Porter (Pembawa Barang).
Upah: Rp 500.000,-
"Sial, Rank D? Itu terlalu tinggi untukku," gumam Lev. Namun, matanya tertuju pada angka 500 ribu. Itu cukup untuk membayar kontrakan kayu miliknya yang sudah nunggak dua bulan. Tanpa pikir panjang, ia menghabiskan nasi kuningnya dalam tiga suapan besar dan berlari menuju dermaga klotok terdekat.
Perjalanan Menuju Maut
Di dermaga, Lev bertemu dengan Andriy, sahabat karibnya yang merupakan Hunter Rank D tipe Tanker. Tubuh Andriy besar, namun wajahnya pucat pasi sambil memegang plastik berisi Wadai Bingka.
"Lev! Kamu ikut juga? Syukurlah, aku punya teman untuk mati bersama," rintih Andriy dramatis.
"Jangan bicara sembarangan, Ndriy. Ini cuma Rank D. Harusnya aman kalau kita di barisan belakang," sahut Lev sambil menaiki klotok (perahu motor kayu) yang akan membawa mereka ke tengah sungai, di mana sebuah portal biru raksasa melayang tepat di bawah konstruksi megah Jembatan Barito.
Di atas klotok, suasana terasa tegang. Tim raid kali ini dipimpin oleh seorang Hunter sombong dari Jakarta yang sedang melakukan "tur" di Kalimantan. Lev hanya diam, memeriksa tas punggungnya yang besar—siap diisi dengan barang-barang Hunter lain.
"Dengar ya, kalian para warga lokal," teriak sang Leader. "Tugas kalian cuma bawa barang dan jangan menghalangi jalan. Monster di dalam sini adalah Crocodile-Man (Manusia Buaya). Mereka cepat di air, tapi kita punya penyihir."
Lev melirik ke arah sudut perahu. Di sana duduk seorang gadis asing berkacamata besar yang sibuk membaca buku mantra kuno. Itu adalah Hermione, mahasiswa pertukaran yang tampak sangat tidak cocok berada di tengah sungai Kalimantan yang keruh.
Insting yang Terlambat
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam portal, udara berubah menjadi lembap dan dingin. Mereka tidak lagi berada di bawah jembatan, melainkan di sebuah labirin gua bawah air yang luas.
"Tunggu..." Lev berhenti mendadak. Bulu kuduknya merinding. "Bau ini... ini bukan bau monster Rank D."
"Lev, jangan mulai deh. Kamu cuma Rank E, penciumanmu pasti salah," cetus salah satu Hunter lain.
Namun, Lev tidak salah. Sebagai orang yang bertahan hidup dengan insting di jalanan Banjarmasin, dia tahu bau kematian. Bau amis yang tercium bukan berasal dari satu atau dua monster, melainkan ratusan.
SPLASH!
Tiba-tiba, air di sekeliling mereka meledak. Puluhan makhluk bersisik hijau dengan rahang panjang melompat dari kegelapan.
"Ini bukan Rank D! Ini Hidden Dungeon Rank B!" teriak Hermione, matanya membelalak panik.
Kekacauan terjadi. Sang Leader yang sombong tadi adalah orang pertama yang lari, meninggalkan para porter di barisan belakang. Andriy terjatuh, kakinya tersangkut akar pohon bakau purba di dalam Dungeon.
"Andriy! Bangun!" Lev mencoba menarik tubuh besar sahabatnya.
"Lari, Lev! Tinggalkan aku! Aku cuma beban!" teriak Andriy sambil melemparkan bungkusan kue Bingka-nya ke arah monster, berharap itu bisa jadi pengalih perhatian.
Lev tidak lari. Dia mengambil sebuah linggis tua dari tasnya. Di saat semua Hunter "hebat" melarikan diri menuju pintu keluar, Lev berdiri di depan Andriy.
"Aku sudah bosan lari dari kemiskinan. Aku tidak akan lari dari monster sialan seperti kalian!" teriak Lev.
Slash!
Seekor manusia buaya mencakar dada Lev. Darah segar menyembur, membasahi air gua. Lev terjatuh, pandangannya mengabur. Ia bisa merasakan dinginnya air mulai merasuk ke dalam paru-parunya. Di saat kesadarannya hampir hilang, sebuah suara mekanis yang dingin bergema di kepalanya, memecah kesunyian maut.
[Peringatan: Detak jantung subjek menurun drastis.]
[Syarat Tersembunyi: 'Keberanian Sang Pecundang' telah terpenuhi.
[Mereset Status... Menginisiasi Sistem 'Kayuh Baimbai'...]
[Apakah Anda ingin hidup kembali dan menjadi penguasa sungai?]
Lev, dengan sisa tenaga terakhirnya, menyeringai berdarah. "Tentu saja... aku belum membayar nasi kuning tadi..."
[Pilihan Diterima.]
[Selamat, Lev Ryley. Anda sekarang adalah 'Player'.]
Cahaya biru menyilaukan meledak dari tubuh Lev, mementalkan semua monster di sekitarnya. Di tengah kegelapan Dungeon Barito, sebuah legenda baru baru saja lahir.
Lanjut ke Bab 2?
