Sore di Tanjung Murung Pudak terasa teduh setelah hujan singkat di siang hari. Di kediaman Bu Lurah kompleks perumahan, suasana sudah riuh rendah oleh suara ibu-ibu berseragam Korpri yang baru pulang kantor dan langsung 'apel' di acara arisan bulanan. Ini bukan sekadar arisan biasa; ini adalah forum informal paling powerful di lingkungan PNS Tabalong, di mana gosip terbaru seputar kenaikan pangkat hingga resep bingka terenak dibahas tuntas.
Rina Rufida sudah rapi dengan baju santai rumahan, siap tempur untuk acara sosialita lokal tersebut. Hifni ditinggal di rumah dengan Khalisa, dengan tugas mulia: memastikan Khalisa sudah mandi sore dan tidak merusak tanaman hias Rina.
"Mas, aku pergi arisan sebentar ya. Tolong jagain Khalisa. Kalau ada apa-apa, telepon!" pesan Rina sambil menyambar kunci motor matic-nya.
"Siap, Bu PNS gaul. Hati-hati, jangan kalap sama gorengan pisang di sana," balas Hifni sambil melambaikan tangan.
Rina tiba di rumah Bu Lurah dan langsung disambut tawa dan sapaan hangat. "Wah, Bu Rina datang juga. Dari tadi dicariin Bu Ani tuh, mau nanyain tips ngajar Bahasa Inggris biar muridnya nggak very banar lagi," sambut Bu Lurah, mengenang cerita pagi tadi yang sudah menyebar.
Ruang tamu Bu Lurah sudah penuh sesak. Ada Bu Ani guru IPA, Bu Ida dari Dinas Kesehatan, Bu Minah dari Dinas Perkebunan, dan banyak lagi, merepresentasikan keberagaman instansi di Tabalong.
Acara dimulai dengan pembacaan notulen pertemuan bulan lalu (resmi sekali, layaknya rapat dinas), lalu masuk ke acara inti: kocok arisan. Nama Rina masuk dalam daftar paling bawah, jadi dia punya banyak waktu untuk menyerap informasi dan berinteraksi.
"Oh iya, Bu Rina, dengar-dengar ada mutasi besar-besaran di Bagian Umum lho bulan depan," celetuk Bu Ida, mendekatkan kursinya ke Rina.
Rina pura-pura terkejut. "Ah, masa sih Bu Ida? Saya malah nggak tahu. Suami saya Hifni nggak cerita apa-apa tuh."
(Padahal dalam hati Rina, ini adalah gosip paling hot yang harus dikonfirmasi Hifni nanti malam).
"Iya, serius! Katanya sih ada yang mau naik eselon IV," tambah Bu Minah, matanya melirik ke segala arah seolah ada mata-mata yang mengawasi.
Obrolan pun bergeser ke topik kenaikan pangkat, tunjangan kinerja, dan sedikit keluh kesah soal harga kebutuhan pokok di Pasar Tanjung yang belakangan ini agak naik. Di sinilah genre komedi kehidupan bermasyarakat benar-benar terasa.
Mereka bisa serius membahas inflasi, lalu semenit kemudian tertawa terpingkal-pingkal karena Bu Ani cerita pengalaman lucunya dikerjain murid di laboratorium sekolah.
Tak terasa, acara mencapai puncaknya: pengocokan arisan. Satu per satu nama dipanggil.
"Yang dapat arisan bulan ini adalah... Bu Ani!" seru Bu Lurah.
Riuh tepuk tangan memenuhi ruangan. Bu Ani bersorak kegirangan. "Alhamdulillah, bisa beli tas baru nih!"
Setelah urusan finansial selesai, acara dilanjutkan dengan sesi kuliner. Berbagai macam kue khas Banjar tersaji: Amparan Tatak, Lumpur Surga, Kokoleh, dan tentu saja, gorengan pisang legendaris.
Rina, yang sudah diingatkan Hifni, mencoba membatasi diri, tapi godaan pisang goreng hangat dengan taburan keju (sedikit modernisasi dari Bu Lurah) terlalu kuat.
"Enak banget Bu Lurah pisang gorengnya, resepnya apa nih?" tanya Rina sambil mengambil satu lagi.
"Ah, biasa aja Bu Rina, cuma pakai cinta dan sedikit penguat rasa," jawab Bu Lurah merendah.
Saat asyik makan, ponsel Rina bergetar. Panggilan dari Hifni. Rina permisi sebentar ke teras.
"Halo, Mas? Ada apa? Khalisa rewel?"
"Nggak rewel sih, Bu Guru. Tapi dia minta speaking test sama Ayah," suara Hifni terdengar panik dari seberang telepon.
"Maksudnya?" Rina bingung.
"Dia bilang, 'Ayah tell me about your job in English, no cheating!', persis kayak kamu ngomong ke muridmu tadi pagi. Ayah disuruh speaking test sekarang! Ayah bingung mau ngomong apa, bahasa Inggris Ayah kan cuma 'yes', 'no', 'okay'," Hifni mengeluh.
Rina tertawa terbahak-bahak di teras rumah Bu Lurah. Karma memang instan.
"Yaudah, kamu bilang aja 'My job is very... banar' biar kayak Budi muridku!" saran Rina, masih cekikikan.
"Rina! Ini serius!"
"Oke, oke. Bilang aja: 'I am a civil servant. I serve the community with honesty and integrity.' Simple kan? Ayo practice sekarang!"
Rina membimbing Hifni via telepon di tengah keramaian arisan. Momen itu menjadi hiburan tersendiri bagi ibu-ibu yang lewat. Mereka berbisik, "Wah, Bu Rina ini memang totalitas jadi guru, suami sendiri diajarin speaking via telepon."
Arisan selesai pukul lima sore. Rina pulang dengan perut kenyang, insight baru soal mutasi kantor, dan rasa puas karena berhasil 'mengerjai' Hifni balik.
Di rumah, Hifni menyambutnya dengan wajah ditekuk. Khalisa sudah bersih dan sedang asyik mewarnai.
"Gimana, Mas? Lolos speaking test-nya?" tanya Rina.
"Lolos sih, tapi Khalisa protes. Katanya bahasa Inggris Ayah kaku banget kayak kanebo kering," jawab Hifni pasrah.
Rina tersenyum. Kehidupan mereka memang dipenuhi interaksi lucu antara birokrasi kaku Hifni dan dunia pendidikan Rina yang fleksibel. Dan di Tanjung Murung Pudak ini, di tengah masyarakat yang Islami dan guyub, semua drama kecil itu terasa manis dan penuh berkah.
Keesokan harinya, Rina berangkat kerja dengan semangat baru. Obrolan arisan semalam memberinya banyak bahan renungan. Terutama soal mutasi yang disebut-sebut. Meskipun suaminya bekerja di bagian umum, Hifni jarang sekali membicarakan urusan kantor di rumah, kecuali jika itu hal yang sangat penting. Rina jadi penasaran, apakah ada sesuatu yang Hifni sembunyikan atau memang suaminya itu tipe yang memisahkan urusan kerja dan keluarga dengan ketat.
Di sekolah, suasana lumayan tenang. Rina mengajar seperti biasa, diselingi candaan ringan dengan murid-murid. Saat jam istirahat, ia menyempatkan diri mengobrol dengan Bu Ani, guru IPA yang semalam mendapatkan arisan.
"Bu Ani, selamat ya atas arisannya!" sapa Rina.
"Ah, terima kasih Bu Rina. Alhamdulillah rezeki anak-anak," jawab Bu Ani sumringah. "Oh ya, soal gosip mutasi semalam, saya dapat info dari teman di BKD. Katanya memang ada beberapa posisi strategis di bagian umum yang akan diisi ulang."
Rina mengangguk-angguk, pura-pura tertarik padahal hatinya sudah mulai was-was. Posisi Hifni di bagian umum cukup penting, meskipun belum eselon IV.
"Apakah ada nama-nama yang sudah pasti, Bu?" tanya Rina hati-hati.
Bu Ani menggeleng. "Belum ada daftar resminya sih. Tapi ya begitulah, kalau sudah musim mutasi, semua orang jadi tebak-tebakan. Siapa naik, siapa geser, siapa malah tergeser," katanya sambil tertawa kecil.
Rina ikut tertawa, meskipun dalam hati ia mencatat semua informasi tersebut. Pulang kerja nanti, ia harus membujuk Hifni untuk sedikit lebih terbuka soal urusan kantornya. Bukan karena Rina ingin mencampuri, tapi ia ingin tahu jika ada potensi perubahan besar yang akan mempengaruhi keluarga mereka.
Sore harinya, Rina menjemput Khalisa di penitipan anak. Khalisa langsung menyambutnya dengan cerita seru tentang kegiatannya hari itu. Mereka pulang ke rumah disambut aroma masakan Hifni. Suaminya itu memang multitalenta, bisa memasak meskipun pekerjaannya jauh dari urusan dapur.
Di meja makan, Rina mencoba membuka percakapan soal mutasi.
"Mas, semalam di arisan, ibu-ibu ramai ngomongin soal mutasi di bagian umum lho," Rina memulai.
Hifni hanya menatap Rina sejenak, lalu kembali fokus pada makanannya. "Oh ya? Gosip apa lagi?"
"Katanya ada pergeseran besar, ada yang mau naik eselon IV juga," kata Rina, mengamati reaksi Hifni.
Hifni menghela napas. "Ya, memang ada rencana mutasi. Tapi itu kan urusan kantor, Rina. Nanti juga ada surat resminya kalau memang ada perubahan."
Rina merasa sedikit kesal dengan respon Hifni yang terkesan menutup diri. "Maksudku, kalau memang ada pengaruhnya ke kamu atau ke keluarga kita, aku kan perlu tahu juga, Mas."
Hifni meletakkan sendoknya. "Rina, dengarkan. Urusan mutasi itu sensitif. Belum ada kepastian apa-apa. Nanti kalau sudah jelas, pasti aku kasih tahu. Sekarang lebih baik kita fokus sama Khalisa dan urusan rumah tangga kita, ya?"
Rina diam sejenak, mencoba memahami sudut pandang Hifni. Mungkin suaminya tidak ingin Rina khawatir berlebihan, atau memang belum ada hal penting yang perlu dibagi. Ia memutuskan untuk tidak memaksakan diri.
"Oke, Mas. Maaf kalau aku terlalu kepo," kata Rina akhirnya, tersenyum tipis.
Hifni membalas senyumnya. "Tidak apa-apa. Aku tahu kamu cuma perhatian. Sudah, habiskan makanannya, keburu dingin."
Meskipun Rina belum mendapatkan informasi detail yang diinginkannya, ia merasa sedikit lebih tenang. Hifni akan memberitahunya jika memang ada sesuatu yang krusial. Sementara itu, kehidupan mereka terus berjalan, diselingi tawa Khalisa, kesibukan Rina di sekolah, dan kerja keras Hifni di kantor. Di tengah kesederhanaan hidup mereka di Tanjung Murung Pudak, kehangatan keluarga adalah prioritas utama.
