Perjalanan kembali ke "Rumah Batu Berukir" terasa jauh lebih lama daripada perjalanan berangkat di pagi hari. Hutan, yang sebelumnya terasa seperti rumah yang hidup, kini terasa seperti labirin bayangan yang diawasi oleh mata tak terlihat. Tim pemburu Suku Aru bergerak dalam keheningan yang tegang, setiap orang dari mereka sadar bahwa ancaman yang mereka hadapi bukanlah sekadar binatang buas biasa, melainkan entitas yang menunjukkan kecerdasan dan taktik.
Liku memimpin barisan, langkahnya cepat dan pasti. Pikirannya berpacu. Makhluk itu, atau apa pun itu, sengaja meninggalkan bangkai babi hutan di sana. Itu adalah demonstrasi kekuatan, sebuah pernyataan wilayah yang brutal. Itu berarti, wilayah perburuan tradisional mereka di hulu Barito yang subur ini tidak lagi aman.
Saat mereka tiba di gua pada tengah hari, matahari bersinar terik di luar, tetapi di dalam gua, suasana terasa suram saat berita disampaikan. Rara, adik Liku, berlari menyambutnya, tetapi Liku hanya memberinya senyuman singkat sebelum bergabung dengan pertemuan dewan darurat yang segera diadakan oleh Balan.
Dewan suku berkumpul di sekitar perapian utama. Di era 8000 SM, di mana pengambilan keputusan bersifat komunal, pertemuan ini sangat penting. Balan berdiri di tengah, janggut putihnya bergerak saat dia menjelaskan temuan mereka: jejak kaki besar, bulu hitam misterius, dan yang paling mengganggu, bangkai yang ditinggalkan dengan sengaja.
"Ini bukan harimau," kata Balan, suaranya mantap meskipun ada kekhawatiran di matanya. "Harimau akan mengambil buruannya. Pemangsa ini... bermain-main dengan kita."
Wajah Bano, yang biasanya dipenuhi arogansi, kini menunduk. Pengalamannya sendiri di lokasi penemuan telah meredam keraguannya sebelumnya. "Dia benar," aku Bano, suaranya serak. "Makhluk itu tahu persis apa yang dilakukannya. Aroma itu... masih tercium di hidungku."
Para anggota suku lainnya mendengarkan dengan saksama. Beberapa wanita mulai menangis pelan, memeluk anak-anak mereka lebih erat. Ketakutan akan yang tidak diketahui adalah ketakutan paling primal dari manusia purba.
Liku melangkah maju, memegang tombak batunya erat-erat. "Kita tidak bisa tinggal di sini," ujarnya, suaranya tegas. "Wilayah ini telah ditandai oleh entitas lain. Jika kita bertahan, kita menantang maut secara langsung. Sumber air kita mungkin diracun, jalur perburuan kita mungkin menjadi jebakan."
Usulan Liku adalah radikal. "Rumah Batu Berukir" adalah satu-satunya tempat yang mereka ketahui, satu-satunya tempat di Kalimantan Selatan kuno yang menawarkan perlindungan memadai dari unsur alam dan bahaya. Meninggalkan gua berarti migrasi, sebuah perjalanan ke arah hilir Sungai Barito yang luas dan belum dipetakan, menuju wilayah rawa yang belum pernah mereka jelajahi.
Seorang tetua wanita bernama Ina, yang bertanggung jawab atas pengumpulan tanaman obat dan pengetahuan herbal, angkat bicara. "Tetapi hilir... daerah itu adalah rawa tak berujung. Lumpur hisap, penyakit baru, dan suku lain yang mungkin tidak ramah. Di sini, kita tahu di mana akar beracun berada, kita tahu di mana tempat berlindung saat hujan badai."
Perdebatan berlangsung selama berjam-jam. Ini adalah dilema klasik masyarakat nomaden: tetap di tempat yang aman namun berisiko menghadapi ancaman baru, atau berpindah ke tempat yang tidak diketahui dengan risiko yang berbeda pula.
Akhirnya, Balan mengangkat tangannya, meminta keheningan. "Naluri Liku benar. Ancaman ini cerdas, dan tampaknya lebih kuat dari kita. Kita adalah Suku Aru, Suku Sungai. Nadi Barito adalah rumah kita, dari hulu hingga muara. Jika hulu menolak kita, kita ikuti alirannya."
Keputusan telah dibuat. Suku Aru akan bermigrasi.
Malam itu, di bawah langit Borneo yang dipenuhi bintang-bintang yang terasa begitu dekat, Liku duduk di samping api unggun. Rara tertidur lelap di sebelahnya. Suasana di gua kini bukan lagi tentang ketakutan pasif, melainkan tentang persiapan aktif. Para pria mengasah alat-alat batu mereka, para wanita mengemas kulit binatang dan makanan kering (sagu dan talas yang diawetkan).
Liku menatap api, merenungkan perubahan drastis dalam hidupnya. Dari seorang pemburu yang mengkhawatirkan babi hutan harian, kini dia menjadi pemimpin yang mengemban takdir seluruh sukunya. Dia tahu perjalanan ke hilir akan brutal. Mereka harus menghadapi medan rawa gambut yang belum pernah mereka injak, dan mungkin bertemu suku-suku lain yang menguasai lahan basah tersebut.
Di kejauhan, di luar mulut gua, auman rendah dan parau terdengar, lebih dekat dari sebelumnya. Itu bukan auman biasa. Itu adalah suara teritorial, peringatan. Sang 'Mawas Raksasa' telah kembali untuk mengklaim wilayahnya. Liku hanya mengepalkan tombaknya lebih erat. Keesokan paginya, saat fajar menyingsing untuk terakhir kalinya bagi mereka di 'Rumah Batu Berukir', Suku Aru akan memulai babak baru dalam sejarah panjang prasejarah Kalimantan Selatan mereka.
