Bab 6: Insiden Jersey Hilang, Misi Pencarian Panik, dan Teori Konspirasi Adam

Bab 6: Insiden Jersey Hilang, Misi Pencarian Panik, dan Teori Konspirasi Adam

Lev
0

Hari Minggu pagi seharusnya menjadi waktu santai di rumah keluarga Al-Fatih, setelah ketegangan match day semalam. Namun, ketenangan itu terusik oleh suara teriakan panik dari lantai atas.

"Aisyah! Zayn! Zoya! Jersey keramat Abi hilang! Hilang!"

Haris berlari menuruni tangga dengan wajah pias. Di tangannya, hanya tersisa gantungan baju kosong. Jersey Manchester United musim 1999 yang legendaris—saksi bisu kemenangan treble winner—raib dari lemari pakaiannya.

Seketika, rumah Brent berubah menjadi lokasi operasi pencarian darurat. Aisyah, yang sedang merapikan dapur, langsung mematikan kompor gas. Zayn dan Zoya yang sedang asyik bermain game langsung terlonjak kaget.

"Hilang bagaimana, Yah? Semalam kan Abi pakai pas nonton bola," tanya Aisyah, mencoba menenangkan suaminya yang sudah panik level dewa.

"Iya, semalam aku pakai. Terus aku gantung di belakang pintu kamar mandi sebelum tidur. Pagi ini sudah tidak ada!" jelas Haris, mulai mengacak-acak sofa ruang tamu.

Zayn, dengan insting detektif mudanya, langsung memeriksa tempat sampah dan mesin cuci. Nihil.

"Mungkin Abi lupa, kali? Ditaruh di gudang belakang?" usul Zoya.

"Gak mungkin! Jersey ini kan sakral. Gak mungkin aku taruh sembarangan," tegas Haris.

Kepanikan meningkat. Bagi Haris, jersey itu bukan sekadar pakaian. Itu adalah jimat keberuntungan, simbol loyalitas, dan warisan sejarah klub. Hilangnya jersey itu sama tragisnya dengan MU gagal masuk zona Champions.

Adam dan Hana, yang sedang sarapan sereal, memperhatikan drama orang tua dan kakak-kakaknya.

"Mungkin dicuri, Abi," celetuk Adam polos.

"Dicuri siapa, Nak? Pintu rumah terkunci rapat," jawab Haris, mulai frustrasi.

"Mungkin mata-mata dari Arsenal, Yah. Mr. Davies yang waktu itu," Zayn melontarkan teori konspirasi dengan serius. Haris dan Zayn memang sering kali terjebak dalam delusi persaingan sepak bola yang berlebihan.

Aisyah menggelengkan kepala. "Astaghfirullah, Zayn. Jangan begitu. Mana mungkin tetangga kita mencuri jersey bekas?"
Hana, si paling logis, mulai menganalisis situasi. "Oke, mari kita rekonstruksi kronologinya. Abi pakai jersey dari jam 5.30 sore sampai jam 8 malam. Lalu digantung di kamar mandi. Antara jam 8 malam sampai pagi, siapa yang masuk kamar mandi lantai atas?"

Semua terdiam, berpikir.

"Aku cuma masuk sebentar buat cuci muka," kata Zoya.

"Aku pipis doang," Zayn ikut mengaku.

"Abi dan Umi juga pakai mandi malam," tambah Haris.
Pencarian berlanjut ke seluruh pelosok rumah. Lemari es diperiksa (siapa tahu nyelip), di bawah kasur, bahkan di dalam oven Aisyah (ide konyol dari Haris yang panik).

Akhirnya, titik terang datang dari Adam. Si bungsu itu menghilang ke taman belakang selama pencarian berlangsung. Tiba-tiba, dia kembali dengan senyum lebar dan tangan kotor.

"Ini dia jersey Abi!" seru Adam, mengangkat jersey merah keramat yang basah dan sedikit berlumpur.

"Lho, kok bisa di taman?!" Haris langsung merebut jerseynya dengan lega, tapi juga kaget melihat kondisinya.

Adam menjelaskan dengan polos, "Semalam kan Adam buang sampah ke tempat sampah luar. Adam lihat ada kain merah nyangkut di pagar. Adam kira lap kotor biasa, jadi Adam lempar ke taman biar bersih kena embun pagi."

Ternyata, jersey itu tersangkut di jendela kamar mandi yang sedikit terbuka, lalu jatuh ke taman belakang karena angin malam London.

Haris menatap jerseynya yang kotor, lalu menatap Adam, dan akhirnya tertawa terbahak-bahak. Kepanikan yang melanda seisi rumah selama satu jam lenyap seketika. Aisyah dan kakak-kakaknya ikut tertawa lega.

"Ya Allah, Dam. Kamu ini ada-ada saja. Untung bukan lap dapur beneran," kata Haris sambil mengelus kepala Adam.
Meskipun sedikit kotor, jersey keramat itu selamat. Misi pencarian selesai dengan damai. Haris segera mencuci jerseynya dengan tangan, penuh kasih sayang.

Kejadian insiden jersey hilang itu menjadi cerita lucu keluarga Al-Fatih selama berminggu-minggu. Ini mengingatkan mereka bahwa terkadang, hal yang paling berharga bisa ditemukan di tempat yang paling tidak terduga, dan solusi terbaik seringkali datang dari kepolosan si bungsu. Dan yang pasti, mata-mata Arsenal ternyata tidak seberbahaya yang mereka kira.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default