BAB 4: Aroma Haruan dan Air Mata yang Hanyut di Martapura

BAB 4: Aroma Haruan dan Air Mata yang Hanyut di Martapura

Lev
0
Ikuti kisah inspiratif, lucu, dan penuh makna 5 mahasiswi perantau di Banjarmasin tahun 2013. Perjuangan kuliah, persahabatan anak kos, hingga nilai-nilai Islami dalam balutan budaya Banjar.

Memasuki bulan kedua di tahun 2013, euforia menjadi mahasiswa baru mulai terkikis oleh rutinitas yang melelahkan. Bagi Abdalia Ulfah, rindu rumah (homesick) adalah penyakit yang lebih menyiksa daripada tugas makalah yang menumpuk.

Pagi itu, suasana di Kamar Nomor 5 terasa lesu. Hujan rintik-rintik membasahi atap seng kos, menciptakan simfoni yang justru membuat siapa pun ingin menarik selimut lebih tinggi.

"Aku rindu Abah... rindu Mama," gumam Dina sambil menatap foto keluarganya di Amuntai yang tertempel di dinding lemari.
Rina yang biasanya tegar pun hanya diam, memandangi kamus Inggrisnya dengan tatapan kosong. Perjalanan dari Puruk Cahu ke Banjarmasin itu jauh, bukan sekadar jarak kilometer, tapi juga jarak rindu.

Melihat suasana yang mendung, Abdalia Ulfah bangkit. "Sudah, jangan sedih terus. Hari ini hari Minggu. Aku punya kejutan. Kita ke pasar pagi, aku mau masak sesuatu yang spesial dari Kandangan!"

Perburuan Ikan Haruan di Pasar Tradisional

Dengan semangat yang dipaksakan, kelimanya menaiki angkot kuning menuju pasar tradisional. Di tahun 2013, pasar tradisional masih menjadi jantung kehidupan Banjarmasin. Bau rempah, suara tawar-menawar yang sengit dalam bahasa Banjar, hingga aroma ikan segar menjadi latar belakang perjalanan mereka.

"Pian (Anda) cari apa, Nak?" tanya seorang pedagang ikan dengan logat Banjar yang kental.

"Ikan Haruan (Gabus) yang paling besar, Paman," jawab Abdalia sigap. Di antara mereka berlima, Abdalia adalah yang paling ahli dalam urusan dapur. Sebagai orang Kandangan (Hulu Sungai Selatan), memasak adalah bahasa cintanya.

Setelah mendapatkan ikan haruan segar, kelapa untuk santan, dan bumbu-bumbu rahasia, mereka kembali ke kos. Di dapur sempit itu, Abdalia mulai beraksi. Ia membuat Ketupat Kandangan dan Ikan Haruan Masak Habang.

Aroma bawang merah yang ditumis bersama cabai merah kering yang sudah dihaluskan (bumbu habang) mulai memenuhi seisi kos. Wanginya begitu menggoda, sampai-sampai penghuni kos dari kamar sebelah ikut mengintip.

"Wanginya sampai ke kamar sebelah, Lia!" seru Fatimah sambil membantu memeras santan.

Keajaiban di Meja Makan: Obat Rindu Paling Ampuh

Saat hidangan siap, mereka duduk melingkar di lantai. Abdalia menyajikan ketupat yang disiram kuah santan kental berbumbu, dengan potongan ikan haruan yang empuk.

"Ini rahasianya," kata Abdalia sambil menyodorkan piring. "Di Kandangan, kita makan ketupat pakai tangan langsung, lalu dihancurkan ketupatnya sedikit demi sedikit agar menyatu dengan kuahnya. Silakan coba."

Begitu suapan pertama masuk ke mulut, keheningan melanda. Bukan karena tidak enak, tapi karena rasa itu membawa mereka kembali ke dapur ibu mereka masing-masing.

"Rasanya... seperti di rumah," bisik Eva yang biasanya cuek. Ia makan dengan lahap, melupakan sejenak tugas coding yang membuatnya begadang semalaman.

Rina Rufida tersenyum kecil. "Terima kasih, Lia. Ternyata benar, obat rindu itu bukan cuma telepon, tapi juga makanan yang dimasak dengan kasih sayang."

Sisi Islami: Syukur dalam Kesederhanaan

Selesai makan, mereka tidak langsung beres-beres. Sesuai kebiasaan mereka, Fatimah akan membacakan satu atau dua potong ayat Al-Qur'an atau hadits singkat untuk direnungkan bersama.

"Tahu tidak?" Fatimah memulai dengan nada lembut. "Rasulullah SAW bersabda bahwa keberkahan itu turun di tengah-tengah makanan. Itulah kenapa kita disunnahkan makan bersama dalam satu wadah atau bersama-sama. Lihat kita sekarang, meski cuma makan di lantai kos, rasanya lebih nikmat daripada makan di restoran cepat saji di mal, kan?"

Mereka mengangguk serentak. Di tahun 2013, tren makan di mal memang mulai menjamur di Banjarmasin seiring populernya Duta Mall, tapi bagi mereka, kehangatan Kamar Nomor 5 tak tergantikan.

"Lia," panggil Rina. "Minggu depan, ajari aku masak sambal goreng mandai ya? Aku mau kirim resepnya ke Mama di Puruk Cahu, biar beliau tahu kalau anaknya di sini sudah bisa mandiri."

Abdalia tertawa kecil. "Tentu, Rin. Asalkan kamu jangan menyerah belajar bahasa Inggris. Ingat, nanti kalau kamu jadi guru sukses di luar negeri, jangan lupakan rasa Ikan Haruan ini."

Malam itu, mereka tidur dengan perut kenyang dan hati yang tenang. Rindu tetap ada, tapi kini mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian menghadapi Banjarmasin yang luas. Ada sahabat yang siap memasakkan makanan hangat saat dunia terasa dingin.

Tips Wisata  (Kilas Balik Banjarmasin):

Kuliner Wajib: Ketupat Kandangan adalah ikon kuliner dari Hulu Sungai Selatan. Jika Anda berkunjung ke Kalsel, pastikan mencoba yang otentik. Daftar kuliner Banjar terpopuler.

Aktivitas Minggu Pagi: Tahun 2013, kawasan Siring Sudirman dan Siring Tendean mulai ditata menjadi objek wisata unggulan (Pasar Terapung buatan).

Pesan Moral: Persahabatan anak kos mengajarkan tentang toleransi budaya dan pentingnya saling mendukung dalam keterbatasan ekonomi.

Lanjut ke Bab 5: Perawat Gigi yang Takut Gigi: Dilema Dina Selvina (Tragedi di Ruang Praktikum)...

Apakah Dina berhasil mengatasi ketakutannya pada darah dan gigi yang goyang? Simak terus kelanjutannya!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default