Tahun 2013 – Lab Komputer dan Aroma Kafein
Jika Irvan Zidni adalah "suara langit" di Kos Nomor 13, maka Nazib adalah representasi dari kegaduhan dunia digital yang baru mulai merangkak di Banjarmasin tahun 2013. Pemuda asal Paringin, Balangan ini memiliki perawakan kurus, rambut yang sering berantakan karena jarang disisir, dan kacamata berbingkai tebal yang selalu melorot ke ujung hidung.
Di saat kawan-kawannya sibuk dengan buku-buku teks tebal, dunianya Nazib terbatas pada layar monitor cembung 14 inci yang memenuhi meja belajarnya. Sebagai mahasiswa Ilmu Komputer, Nazib adalah orang yang paling sering "begadang" dengan alasan yang bagi teman kosnya terdengar seperti bahasa planet lain.
"Zib, belum tidur? Sudah jam dua subuh," tanya Hifni yang terbangun karena ingin ke kamar mandi.
"Belum, Hif. Ini sedikit lagi... tinggal cari satu semicolon (;) yang hilang. Gara-gara satu titik koma ini, programku error total. Hidupku rasanya ikut hang," jawab Nazib sambil terus memelototi barisan kode Pascal dan C++ di layarnya.
Tahun 2013 adalah masa di mana kecepatan internet di Banjarmasin masih menjadi ujian kesabaran yang luar biasa. Untuk mengunduh satu file tugas saja, Nazib harus rela nongkrong di warnet (warung internet) di Jalan Kayu Tangi hingga pagi, memanfaatkan paket "begadang" yang lebih murah.
"Kalian enak, kuliahnya baca buku. Aku? Kuliahku ini melawan mesin," keluh Nazib suatu siang saat mereka makan bersama di warung nasi kuning langganan. "Laptopku ini sudah seperti setrikaan, panasnya minta ampun. Kalau kupakai lama sedikit, bunyinya sudah seperti pesawat klotok mau karam di Sungai Martapura.
Meskipun sering mengeluh, Nazib adalah sosok yang paling menghidupkan suasana kos dengan humor-humor cerdasnya. Ia sering menyamakan kehidupan nyata dengan istilah komputer. Jika Amin sedang lelet saat diajak pergi, Nazib akan berseru, "Ayo cepat, Min! Prosesormu itu masih Pentium 1 ya? Loading-nya kelamaan!" Atau jika mereka sedang bokek di akhir bulan, ia akan berkata, "Saldo dompetku lagi '404 Not Found', alias tidak ditemukan."
Namun, di balik sifat konyolnya, Nazib membawa beban besar dari Paringin. Ayahnya adalah seorang petani karet yang tidak terlalu paham apa itu 'coding', namun percaya bahwa anaknya akan menjadi orang hebat yang bisa memperbaiki segala hal yang berhubungan dengan listrik.
"Orang di kampung itu mikirnya kalau kuliah komputer, aku bisa benerin kulkas, TV, sampai pasang parabola," bisik Nazib pada Irvan suatu malam. "Padahal, aku cuma tahu caranya bikin tulisan 'Hello World' muncul di layar."
Tantangan terberat Nazib di tahun pertama adalah saat ia harus menghadapi mata kuliah Algoritma dan Struktur Data. Ia hampir menyerah saat ujian tengah semester (UTS). Namun, persahabatan di kos nomor 13 itulah yang menguatkannya. Hifni sering meminjamkan bahunya untuk tempat Nazib mengeluh, sementara Irvan selalu mendoakannya di setiap sujud.
Satu hal yang membuat Nazib paling disegani di kos adalah kemampuannya "membobol" Wi-Fi tetangga atau mencari celah agar mereka bisa mendapatkan koneksi internet gratis—sebuah keahlian yang sangat berharga bagi anak kos di tahun 2013.
"Zib, internetnya kok kencang sekali malam ini?" tanya Amin heran.
Nazib hanya mengedipkan sebelah mata sambil nyengir. "Ssst... jangan berisik. Anggap saja ini sedekah sinyal dari tetangga sebelah untuk pejuang pendidikan seperti kita."
Bagi Nazib, kode-kode yang ia ketik bukan sekadar syarat kelulusan. Ia punya mimpi besar: suatu saat nanti, ia ingin membangun sebuah sistem informasi yang bisa membantu para petani karet di Balangan agar tidak lagi dipermainkan oleh tengkulak. Di tengah bisingnya kipas CPU dan remang lampu kos, Nazib sedang merajut masa depan digital dari sebuah gang sempit di Banjarmasin.
Lanjut ke Bab 5: Kapur dan Papan Tulis – Khairi Kandangan, sang calon guru SD
