Matahari Samarinda pada pukul 05.30 WITA di bulan Desember 2025 ini tampak malu-malu, tersembunyi di balik kabut tipis yang menyelimuti permukaan Sungai Mahakam. Sementara sebagian warga Cluster Ar-Raudhah mungkin masih menarik selimut setelah shalat Subuh, Ibu Mahalini sudah siap dengan "seragam perangnya". Bukan jubah dokter seperti Raisa, bukan pula seragam cokelat PNS seperti Rossa, melainkan daster batik kencana ungu yang dilapisi jaket parka, serta sepatu karet anti-slip yang sudah teruji melintasi berbagai medan genangan.
Pagi ini, Mahalini memiliki misi khusus. Sebagai seorang wanita kantoran yang menjabat di bagian logistik perusahaan tambang, ia tahu persis bahwa efisiensi adalah kunci keberhasilan. Dan baginya, efisiensi rumah tangga dimulai dari meja dapur.
"Bu Lini! Mau ke 'medan laga' lagi ya?" sapa Pak Satpam kompleks saat Mahalini memacu motor matic-nya menuju pintu keluar.
"Iya, Pak! Hari ini harga ikan layang kabarnya lagi turun di Segiri. Saya harus jadi yang pertama sampai sebelum diserbu tengkulak!" seru Mahalini sambil melambai.
Seni Diplomasi di Pasar Segiri
Pasar Segiri di pagi hari adalah orkestra keributan yang indah. Suara klakson motor, teriakan pedagang sayur, hingga aroma khas campuran antara terasi, ikan segar, dan kopi tubruk dari warung pojok menyambut kedatangan Mahalini. Bagi orang seperti Ibu Rossa, tempat ini mungkin adalah mimpi buruk bagi sepatu branded-nya, tapi bagi Mahalini, ini adalah taman bermain di mana ia bisa melatih otot negosiasinya.
Ia berhenti di depan lapak Acil Aminah, pedagang sayur langganannya.
"Cil, kangkung dua ikat, bayam tiga. Berapa? Jangan kasih harga turis ya, saya ini warga lokal yang hafal harga pupuk," canda Mahalini dengan dialek Banjar-Samarinda yang kental.
"Aduh, Bu Lini ini... sudah cantik, pintar menawar lagi. Ya sudah, buat Ibu saya kasih harga grosir, tapi besok-besok jangan lupa bawa teman-teman Ibu yang dokter dan PNS itu belanja ke sini juga," sahut Acil Aminah sambil membungkus sayuran dengan koran bekas.
Inilah yang tidak didapatkan oleh Dokter Raisa di aplikasi belanja online-nya atau Ibu Rossa di mall: Interaksi manusia yang jujur. Di pasar, Mahalini tidak hanya bertukar uang dengan barang, tapi juga bertukar kabar, doa, dan tawa. Dalam Islam, hubungan muamalah yang baik seperti ini adalah bagian dari ibadah. Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah merahmati orang yang mudah ketika menjual, mudah ketika membeli, dan mudah ketika menagih haknya.
Tragedi Becek dan Notifikasi Grup WhatsApp
Sambil menjinjing ikan haruan (gabus) yang masih bergerak-gerak di dalam plastik, Mahalini menyempatkan diri memeriksa ponselnya. Grup WhatsApp "Tetangga Syariah" sudah ramai.
Dokter Raisa (06.15): "Bu Lini, titip bawang merah dong satu kilo kalau sempat! Tiba-tiba stok di dapur habis, mau pesan online tapi ongkirnya lebih mahal dari harga bawangnya kalau cuma beli sedkit. Hehe."
Ibu Rossa (06.20): "Bu Lini sayang, kalau ada petai yang bagus, tolong belikan ya! Suami saya minta disambalkan petai, tapi saya nggak sanggup kalau harus ke pasar pagi-pagi begini, takut seragam saya bau amis sebelum sampai kantor."
Mahalini tersenyum kecut sambil menggeleng. Inilah nasib menjadi tetangga yang paling rajin ke pasar. Ia menjadi "jasa titip" gratisan bagi kedua sahabatnya. Namun, di balik keluhannya, Mahalini merasa bahagia. Ia merasa kehadirannya membawa manfaat bagi orang lain—sebuah prinsip Khairunnas Anfa'uhum Linnas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain).
Namun, bencana kecil terjadi. Saat ia melangkah menghindari genangan air bekas cucian ikan, seorang kuli panggul melintas dengan tergesa. Mahalini menghindar, tapi kakinya terpeleset masuk ke dalam parit kecil yang becek.
"Astagfirullah!" teriaknya. Sepatu karetnya terbenam lumpur hitam.
Sejenak, ia teringat kata-kata Ibu Rossa: "Pasar itu becek, Bu Lini. Mending ke mall, lantainya bisa buat ngaca." Namun, Mahalini segera beristighfar. Ia teringat bahwa setiap langkah lelah seorang ibu dalam mengurus keperluan rumah tangga, apalagi dengan niat berhemat demi sedekah, dicatat sebagai pahala yang besar di sisi Allah.
Kembali ke Cluster Ar-Raudhah
Pukul 07.30 WITA, Mahalini sampai di depan rumahnya dengan wajah sedikit kotor tapi hati yang puas. Ia segera membagikan pesanan bawang merah untuk Raisa dan petai untuk Rossa.
"Ya Allah, Bu Lini... kok sampai belepotan begini?" tanya Raisa prihatin saat menerima bawang merahnya di pagar.
"Inilah harga sebuah perjuangan, Bu Dokter," jawab Mahalini sambil tertawa. "Tapi coba lihat ikan ini, segar sekali. Nanti sore saya masak asam pedas, kalian berdua harus mampir ya. Kita makan bareng-bareng sambil bahas persiapan arisan bulan depan."
Rossa yang baru saja keluar rumah dengan mobilnya yang mengkilap, menurunkan kaca jendela. "Siap, Bu Lini! Tapi janji ya, makannya di teras saja supaya aroma pasar nggak masuk ke dalam rumah saya yang baru saja dipel pakai karbol aroma mawar mall!"
Ketiganya kembali tertawa. Perbedaan antara beceknya pasar dan wanginya mall tidak pernah benar-benar memisahkan mereka. Justru, perbedaan itulah yang membuat persahabatan mereka di tepian Mahakam ini menjadi warna-warni dan penuh syukur.
Pesan Moral
Bab ini menekankan pentingnya menghargai setiap pilihan hidup tetangga. Meskipun Ibu Mahalini menyukai pasar, ia tetap melayani titipan teman-temannya yang lebih suka belanja di tempat lain. Dalam perspektif ekonomi Islam, berbelanja di pasar tradisional sangat dianjurkan untuk membantu perputaran uang di kalangan masyarakat bawah (UMKM).
Bagi Anda yang tinggal atau sedang berkunjung ke Samarinda, Pasar Segiri bukan hanya pusat logistik, tapi juga destinasi wisata budaya di mana Anda bisa melihat langsung denyut nadi ekonomi Kalimantan Timur. Anda bisa membaca panduan lengkap mengenai pasar-pasar di Samarinda melalui Situs Resmi Dinas Perdagangan Kota Samarinda.
Selain itu, untuk menjaga kesehatan kulit dari kuman di pasar tradisional seperti yang dikhawatirkan Ibu Rossa, Dokter Raisa menyarankan untuk selalu mencuci tangan dengan sabun antiseptik segera setelah pulang, sesuai dengan panduan kebersihan dalam Islam (An-Nazhafatu Minal Iman).
Apakah di Bab 5 nanti arisan syariah mereka akan berjalan lancar? Atau justru akan ada perdebatan tentang barang siapa yang paling mewah? Ikuti terus kisahnya!
