Bab 6 dari novel Islami Khalisah dan Rabiatun membawa Anda ke pantai Ksamil di Albania, yang dijuluki "Maladewa Eropa". Temukan keindahan pulau-pulau kecil, privasi, keramahan negara mayoritas Muslim, dan pengalaman berpiknik yang tak terlupakan.
Bab 6: Keindahan Tersembunyi Ksamil, Albania
Setelah merasakan keramaian dan pesona klasik Italia di Amalfi, Khalisah dan Rabiatun mencari ketenangan di destinasi selanjutnya: Ksamil di Albania Selatan. Albania adalah negara mayoritas Muslim di Balkan, yang memberikan rasa nyaman tersendiri bagi kedua sahabat itu. Ksamil sering dijuluki "Maladewa Eropa" karena air lautnya yang luar biasa jernih, pasir putih, dan tiga pulau kecil menawan yang berada tepat di seberang pantai utama.
Perjalanan darat dari perbatasan Yunani ke Ksamil terasa lancar. Pemandangan pedesaan Albania yang hijau dan perbukitan yang ditutupi pohon zaitun menemani perjalanan mereka.
"Rasanya kayak pulang kampung, ya, Khal. Udaranya, suasananya, beda banget sama negara-negara Eropa Barat kemarin," ujar Rabiatun, merasa familiar dengan suasana negara Balkan yang kental dengan budaya Islam.
Mereka menginap di sebuah vila keluarga lokal yang dikelola oleh keluarga Muslim yang ramah. Sambutan hangat mereka rasakan sejak kedatangan, bahkan mereka disuguhi byrek (pai gurih khas Balkan) halal buatan sendiri.
Keesokan paginya, setelah shalat Subuh yang khusyuk di vila, mereka langsung menuju pantai Ksamil. Pantai utamanya memang sedikit ramai, tetapi fokus mereka adalah tiga pulau kecil di seberang sana. Privasi dan ketenangan adalah kunci untuk menikmati keindahan alam secara maksimal bagi muslimah seperti mereka.
Mereka memutuskan untuk menyewa perahu kecil dengan nahkoda wanita lokal, seorang ibu bernama Shqipe (dibaca: Sy-kip-e), yang juga seorang muslimah. Ini adalah nilai tambah yang luar biasa bagi mereka.
"Bisa santai dan lebih leluasa kalau nahkodanya ibu-ibu begini," kata Khalisah lega.
Shqipe membawa mereka berkeliling sebentar sebelum menurunkan mereka di salah satu pulau kecil yang paling sepi. Pulau itu terasa seperti milik pribadi mereka. Airnya sangat jernih, bahkan lebih jernih dari Cala Conta. Di sini, mereka bisa berenang dengan burkini mereka tanpa perlu khawatir ada pandangan aneh dari turis lain.
Mereka menggelar tikar di area berpasir, jauh dari pandangan umum, dan mengeluarkan bekal piknik yang sudah disiapkan Khalisah: kebab ayam panggang halal, salad Yunani, dan roti pita.
"Piknik di pulau pribadi sambil renang di 'Maladewa Eropa'. Siapa kita?" canda Rabiatun, matanya berbinar bahagia.
Unsur komedi terjadi saat Rabiatun mencoba menangkap ikan kecil dengan tangan kosong di air dangkal. Tentu saja, ia gagal total, malah membuat dirinya basah kuyup dan ditertawakan oleh Shqipe dan Khalisah.
"Ikannya pintar, Bun. Dia nggak mau jadi lauk piknik kita," ledek Khalisah.
Shqipe, si nahkoda wanita, ikut bergabung dengan mereka saat makan siang. Mereka berbincang tentang kehidupan di Albania, transisi negara tersebut setelah era komunis, dan bagaimana Islam kembali berkembang pesat di sana. Shqipe bercerita tentang toleransi beragama yang tinggi di Albania, di mana masjid dan gereja sering kali berdiri berdampingan.
Interaksi kehidupan bermasyarakat ini sangat berharga.
Mereka belajar bahwa identitas Muslim bisa berjalan seiring dengan identitas nasional dan koeksistensi damai dengan agama lain.
Menjelang sore, Shqipe membawa mereka berkeliling ke pulau lain. Pemandangannya menakjubkan, dengan vegetasi hijau subur yang kontras dengan pantai putih dan air biru kehijauan. Shqipe juga menunjukkan situs arkeologi Butrint yang terkenal, yang bisa dilihat dari kejauhan.
Hari di Ksamil terasa cepat berlalu. Mereka kembali ke pantai utama saat matahari mulai terbenam, menciptakan siluet indah dari tiga pulau kecil di kejauhan. Hati mereka penuh dengan rasa damai dan syukur.
Khalisah merangkum pengalaman mereka di Ksamil dalam jurnalnya:
Review & Tips Ksamil Albania:
*Julukan "Maladewa Eropa" memang pantas disematkan.
*Penyewaan perahu dengan nahkoda wanita (jika diminta) tersedia, sangat ramah muslimah.
*Negara mayoritas Muslim, makanan halal sangat mudah ditemukan.
*Cocok untuk mencari privasi dan ketenangan.
*Kehidupan bermasyarakatnya sangat toleran dan ramah.
*Jangan mencoba menangkap ikan dengan tangan kosong (khusus untuk Rabiatun).
Ksamil memberikan mereka energi positif dan kenyamanan. Mereka merasa seperti di rumah sendiri di negara yang indah ini. Petualangan mereka berlanjut, kembali ke Portugal untuk menjelajahi keajaiban laguna biru dan gua-gua laut yang tersembunyi.
