Bab 16: Badai Salju dan Pelangi di Hati

Bab 16: Badai Salju dan Pelangi di Hati

Lev
0
Musim dingin di Moskow mencapai puncaknya. Badai salju menerpa kota selama berhari-hari, membuat jalanan tertutup salju tebal dan aktivitas di luar ruangan menjadi terhambat. Maimunah, Yumi, dan Zainab terpaksa mengurung diri di asrama, dengan ditemani Adam yang sesekali datang membawa bahan makanan.

"Aku bosen banget!" keluh Maimunah, sambil melempar bantal ke arah Zainab yang sedang asyik membaca buku.
Zainab mendengus. "Makanya, baca buku. Daripada teriak-teriak nggak jelas."

"Aku udah baca buku yang dikasih Naufal, Zai. Udah tamat malah," Maimunah membela diri. "Aku butuh tantangan baru."

Yumi, yang sedang merajut syal, tersenyum. "Bagaimana kalau kita bikin snowman di depan asrama?"

"Asik!" Maimunah bersorak. "Tuh kan, Yumi lebih kreatif dari kamu, Zai."

Zainab hanya menggelengkan kepala.

Adam, yang baru saja datang, membawa sekantong makanan. "Aku bawain kalian sup ayam," katanya. "Biar hangat."

"Wah, Adam so sweet!" Maimunah memuji. "Dikasih sup ayam, hatiku jadi hangat."

Adam tersenyum. "Makanya, jangan terlalu sering ngeluh."
Mereka berempat makan sup ayam bersama. Sambil makan, mereka bercerita tentang masa lalu mereka, tentang harapan, dan tentang impian mereka. Maimunah merasa, ia semakin dekat dengan Yumi, Zainab, dan Adam. Mereka bukan hanya teman, tetapi juga keluarga.

Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk membuat snowman di depan asrama. Meskipun badai salju masih menerpa, mereka tetap bersemangat. Maimunah, Yumi, Zainab, dan Adam bekerja sama membuat snowman. Maimunah yang paling antusias, dia menghias snowman itu dengan syal dan topi kupluknya.

"Aku namain dia 'Naufal'," kata Maimunah. "Biar dia selalu ingat, kalau dia pernah ada di hati aku."

Zainab dan Yumi saling bertukar pandang. Adam hanya tersenyum.

Maimunah menatap snowman itu dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa, ia telah mengikhlaskan kepergian Naufal. Ia merasa, ia bisa memulai lembaran baru.

Setelah selesai membuat snowman, mereka kembali ke dalam asrama. Di dalam, mereka minum teh hangat, dan mengobrol. Maimunah merasa, ia telah menemukan kebahagiaan.

"Aku bahagia, Zai," kata Maimunah.

"Aku juga, Mun," jawab Zainab. 

"Aku juga," tambah Yumi.

Adam tersenyum. "Aku juga."

Mereka berempat duduk bersama, menikmati kebersamaan mereka. Badai salju di luar tidak lagi terasa dingin. Mereka merasa, hati mereka hangat, seperti pelangi yang muncul setelah hujan.

Namun, di tengah kehangatan itu, tiba-tiba ada suara ketukan di pintu. Maimunah membukanya, dan ia terkejut. Di depan pintu, berdiri Naufal.

"Assalamualaikum," sapa Naufal. "Aku... aku mau minta maaf."

Jantung Maimunah seakan berhenti berdetak. Ia menatap Naufal, lalu melihat ke arah Yumi, yang kini berdiri di belakang Maimunah. Yumi menatap Naufal dengan tatapan marah.

"Kamu... kamu masih hidup?" tanya Maimunah, suaranya bergetar.

"Iya," jawab Naufal, "aku nggak mati. Aku cuma kecelakaan."

Maimunah merasa, ia telah dibohongi. Ia menatap Naufal, matanya berkaca-kaca.

"Naufal," kata Maimunah, "kamu bohongin aku."

Naufal terdiam. Ia merasa, ia telah membuat kesalahan besar.

"Kenapa, Naufal? Kenapa kamu bohong?" tanya Maimunah, "Apa kamu pikir, aku masih mau sama kamu?"

Naufal terdiam. Ia menatap Maimunah dengan tatapan sendu.

"Nggak, Naufal," kata Maimunah, "aku nggak mau sama kamu lagi. Aku cuma mau fokus sama hijrahku."

Naufal merasa, ia telah kehilangan Maimunah. Ia merasa, ia telah membuat kesalahan besar.

"Maimunah," kata Naufal, "maaf. Aku... aku salah."

Maimunah tersenyum. "Nggak apa-apa, Naufal. Semoga kamu bisa nemuin jalanmu."

Setelah itu, Naufal pergi. Maimunah kembali ke dalam asrama. Ia merasa, ia telah menemukan kebahagiaan. Ia merasa, ia telah menemukan jalan pulang. Jalan pulang ke Allah.

To be continued...

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default