Bab 5: Drama Arisan RT: Siapa yang Dapat Giliran?

Bab 5: Drama Arisan RT: Siapa yang Dapat Giliran?

Lev
0

Senin malam di Komplek Harmoni Indah selalu menjadi malam yang ditunggu-tunggu, sekaligus sedikit menegangkan. Itu adalah jadwal rutin arisan bulanan ibu-ibu RT 03. Kali ini, giliran rumah Bu Ani, istri Pak Idris Kepala Seksi Perencanaan di kantor Hifni.

Rina Rufida sudah rapi dengan gamis motif bunga-bunga kecil dan kerudung instan berwarna dusty pink. Hifni menjaga Khalisa di rumah. Meskipun lelah setelah seharian mengajar dan mengurus administrasi sekolah, Rina tidak pernah absen arisan. Baginya, ini bukan sekadar soal uang, tapi soal menjaga silaturahmi dan dinamika kehidupan bermasyarakat di komplek mereka.

"Abi, Rina berangkat dulu ya. Kalau Khalisa rewel, bilang Ummi bentar lagi pulang," pamit Rina.

"Siap, Ummi. Hati-hati. Jangan lupa nitip salam sama Bu RT," jawab Hifni sambil asyik menemani Khalisa menyusun balok kayu.

Setibanya di rumah Bu Ani, suasana sudah ramai. Aroma masakan khas Banjar—mungkin haruan (ikan gabus) masak habang—sudah tercium dari luar. Ruang tamu Bu Ani yang cukup luas dipenuhi ibu-ibu dari berbagai latar belakang: ada istri PNS, istri TNI, istri pedagang, hingga istri pensiunan seperti Bu RT.

"Assalamualaikum!" sapa Rina ceria.

"Wa'alaikumussalam, Bu Guru!" sambut Bu Ani, tuan rumah, dengan senyum lebar.

Rina mengambil tempat duduk di karpet, bergabung dengan ibu-ibu lainnya. Di sana sudah ada Bu Ida (istri Pak RT yang vokal), Bu Salma (istri Haji Saleh pemilik warung), dan beberapa ibu muda lainnya. Obrolan langsung nyambung soal kenaikan harga cabai di pasar Barabai, metode mengajar daring, hingga sinetron terbaru di televisi.

"Eh, Bu Rina. Suaminya Bu Rina kan yang di Dinas Tata Ruang itu ya?" tanya Bu Salma, pemilik warung.

"Iya, Bu Salma. Kenapa?" Rina sedikit waspada, teringat drama email Rio kemarin.

"Bukan apa-apa, Bu. Kemarin Pak Haji Saleh cerita, katanya Pak Hifni orangnya ramah sekali, rajin salat di musala komplek juga," puji Bu Salma tulus. Rina tersenyum lega dan bangga mendengar pujian untuk suaminya.

Acara inti pun dimulai. Bu Ida, selaku Ketua Seksi Arisan (jabatan tidak resmi tapi sangat penting), mulai memimpin pengocokan nama. Ada sekitar 25 nama dalam toples kaca bening.

"Oke, bismillahirrahmanirrahim. Siapa nih yang beruntung bulan ini?" kata Bu Ida dengan gaya khasnya, penuh drama.

Semua mata tertuju pada toples. Jantung beberapa ibu mulai berdebar kencang. Uang arisan bulanan ini lumayan besar, bisa untuk beli emas atau bayar uang sekolah anak.

Bu Ida mengocok toplesnya dengan semangat. Satu nama keluar.

"Jreng jreng jreng... Dan pemenangnya adalah..." Bu Ida sengaja membuat jeda, mencari perhatian. "...Bu Sri!"

Sorak sorai terdengar. Bu Sri, istri seorang TNI, bersorak kegirangan sambil beristighfar saking senangnya. Ibu-ibu lain mengucapkan selamat.

"Alhamdulillah rezeki anak sekolah, Bu Ida!" kata Bu Sri sumringah.

"Giliran saya kapan ya Allah," celetuk Bu Ani, sang tuan rumah, membuat semua orang tertawa.

Setelah urusan kocok mengocok selesai, acara dilanjutkan dengan makan malam bersama. Ini adalah bagian yang paling dinanti-nantikan. Bu Ani memang terkenal jago masak. Menu malam ini adalah soto banjar lengkap dengan perkedel dan sate ayamnya.

Di sela-sela makan, obrolan beralih ke hal yang lebih serius—atau setidaknya, dianggap serius oleh ibu-ibu komplek: rencana kerja bakti minggu depan.

"Gimana nih, ibu-ibu, bapak-bapaknya pada bisa diajak kerja bakti ndak ya?" tanya Bu Ida. "Masa kita-kita lagi yang bersih-bersih?"

Rina tersenyum. Ibu Ida memang selalu punya concern soal partisipasi bapak-bapak komplek.

"Insya Allah bisa, Bu Ida. Pak Hifni sudah saya ancam potong uang jajan kalau ndak ikut," kata Rina bercanda, mengundang tawa ibu-ibu lain.

"Nah, gitu dong, Bu Guru! PNS itu harus jadi contoh buat warga lain," puji Bu Ida.

Malam semakin larut. Sekitar pukul 21.30 WITA, acara arisan bubar. Rina berpamitan dan berjalan kaki kembali ke rumahnya yang hanya berjarak lima rumah.

Di rumah, Hifni dan Khalisa sudah tertidur pulas di sofa ruang tengah, ditemani boneka sapi lusuh Khalisa. Televisi masih menyala, menayangkan berita malam yang tak menarik perhatian siapa pun. Hifni terlihat kelelahan, tapi wajahnya damai.

Rina tersenyum melihat pemandangan itu. Ia mematikan televisi, lalu membangunkan Hifni dengan lembut.

"Abi, bangun. Pindah ke kamar yuk," bisik Rina.

Hifni menggeliat, mengerjap-ngerjap. "Ummi sudah pulang? Siapa yang dapat arisan?" tanyanya, masih setengah sadar.

"Bu Sri yang dapat. Ayo bangun, pindah ke kamar," Rina membantu Hifni berdiri.

Setelah Hifni dan Khalisa kembali tidur di kamar masing-masing, Rina duduk sebentar di tepi ranjang. Kehidupan bermasyarakat di Barabai ini memang unik. Ada drama kecil, ada gosip ringan, tapi di atas semua itu, ada rasa kekeluargaan dan gotong royong yang kuat. Arisan bukan cuma soal duit, tapi soal menjaga agar tali silaturahmi tetap kencang terikat.

Rina meraih ponselnya, membuka grup WA "Istri PNS Harmoni". Grup itu sudah ramai dengan ucapan selamat untuk Bu Sri dan diskusi resep soto banjar Bu Ani. Rina ikut nimbrung, melemparkan stiker "jempol" dan "terima kasih Bu Ani".

Menjadi bagian dari masyarakat komplek ini membuat Rina dan Hifni merasa tidak sendirian. Mereka punya tetangga yang peduli, yang siap membantu saat banjir melanda, dan siap tertawa bersama saat ada kejadian lucu seperti salah kirim email Rio.

Rina memandang suaminya yang sudah pulas. Di kota kecil ini, dikelilingi orang-orang baik, dengan pekerjaan yang bermakna sebagai abdi negara, dan seorang putri kecil yang cerdas, Rina merasa hidupnya sudah lengkap. Dia memanjatkan doa syukur dalam hati, sebelum akhirnya ikut terlelap, siap menghadapi rutinitas baru esok hari.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default