Pagi buta di pangkalan ekspedisi, saat sebagian besar peserta masih terlelap dalam kantuk dingin, Eva dan Andriy diam-diam mengemas barang-barang mereka. Gerakan mereka sinkron dan hening, seolah telah melakukan hal ini bersama selama berabad-abad. Mereka tidak berinteraksi, namun saling memahami tanpa kata-kata. Andriy melipat jaket tebalnya dengan presisi yang sama saat ia memahat kayu, sementara Eva memasukkan peta buatan tangannya ke dalam ransel dengan sentuhan yang lembut.
Kepergian ini bukanlah pelarian dari bahaya yang nyata, melainkan dari kesendirian yang telah menekan mereka begitu lama. Mereka adalah relik, sisa-sisa dari dunia yang hilang, dan kehadiran manusia-manusia yang sibuk dengan urusan modern mereka terasa seperti kebisingan yang mengganggu ketenangan abadi mereka.
Andriy, dengan wajah serius, mendekati meja di barak. Ia meninggalkan sebuah catatan singkat. Hanya ucapan terima kasih karena telah diberi kesempatan bergabung dalam ekspedisi, tanpa penjelasan lebih lanjut. Ia tidak berutang penjelasan kepada siapa pun di sana.
"Kita akan pergi ke mana?" tanya Eva, saat mereka keluar dari barak. Salju masih turun tipis, menyelimuti pemandangan dengan lapisan putih yang lembut.
"Ada sebuah pelabuhan kecil tidak jauh dari sini," jawab Andriy, menunjuk ke arah timur laut. "Ada kapal kargo yang berlayar ke Islandia. Saya melihatnya kemarin."
Eva mengangguk. "Islandia. Sepertinya tempat yang bagus untuk memulai."
Mereka berjalan menembus badai salju kecil, langkah kaki mereka terasa ringan, berbeda dari beban yang mereka bawa selama ini. Bagi manusia, berjalan kaki menembus badai salju adalah siksaan. Bagi mereka, ini terasa seperti sebuah ritual pembersihan, sebuah langkah menuju awal yang baru. Angin dingin meniup rambut pirang Eva dan rambut hitam Andriy, tetapi keduanya tidak peduli. Mereka sudah terbiasa dengan dingin. Dingin di luar jauh lebih mudah dihadapi daripada dingin di dalam.
Perjalanan ke pelabuhan terasa jauh, tetapi percakapan mengalir di antara mereka. Mereka berbicara tentang masa lalu, tentang nama-nama yang mereka ingat, tentang hutan-hutan yang kini hanya ada dalam ingatan mereka. Andriy bercerita tentang patung-patung kayu yang ia ukir untuk mengenang orang-orang yang telah tiada. Eva bercerita tentang cara ia menyembunyikan identitasnya, tentang bagaimana ia harus beradaptasi dengan dunia yang terus berubah.
"Saya pernah melihat seseorang dengan ponsel," kata Eva, tertawa pelan. "Mereka menunjuk-nunjuk layar kecil dan berbicara dengannya. Saya pikir mereka berbicara dengan roh."
Andriy tersenyum. "Saya pernah melihat manusia membangun mesin yang bisa terbang. Mereka terbang lebih tinggi daripada burung elang mana pun."
Tawa mereka, yang telah lama terkunci di dalam, pecah. Tawa itu terdengar aneh, asing, tetapi juga menyegarkan. Mereka menyadari bahwa mereka tidak hanya berbagi rasa sakit, tetapi juga kenangan, ironi, dan sudut pandang yang unik tentang dunia.
Mereka tiba di pelabuhan kecil yang sepi. Hanya ada beberapa kapal nelayan yang berlabuh, dan sebuah kapal kargo yang berkarat terlihat di ujung dermaga. Seorang nakhoda tua sedang memuat barang-barang ke kapal. Andriy dan Eva mendekatinya.
"Tuan," kata Andriy. "Apakah ada ruang untuk kami di kapal Anda?"
Nakhoda itu menatap mereka dengan tatapan curiga. "Anda siapa? Ekspeditor?"
"Kami memutuskan untuk keluar," jawab Andriy, tenang. "Kami bersedia membayar."
Andriy mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari sakunya. Uang itu, bagi mereka, tidak berarti apa-apa. Itu hanyalah alat untuk mencapai tujuan. Nakhoda itu menimbang-nimbang, melihat Eva yang cantik dan Andriy yang terlihat misterius. Pada akhirnya, uang berbicara.
"Naiklah," katanya. "Kita berlayar ke Islandia."
Kapal kargo itu berlayar saat matahari terbit, meninggalkan Greenland di belakang mereka. Di atas kapal, Eva dan Andriy duduk di geladak, menyaksikan daratan es memudar di kejauhan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, mereka merasakan ketenangan yang berbeda. Mereka tidak lagi sendirian. Di tengah lautan es, dua elf terakhir memulai perjalanan baru, menuju masa depan yang tidak pasti, tetapi penuh dengan harapan. Di sana, di antara ombak dan angin laut, kisah baru mereka baru saja dimulai.
