Bab 5: Terik Tengah Hari dan Diplomasi Biskuit Kucing

Bab 5: Terik Tengah Hari dan Diplomasi Biskuit Kucing

Lev
0
Ikuti petualangan seru keluarga Muhammad Hifni (Barabai) & Lev ℛyley (Banjarmasin) saat Ramadan di Mekah. Dari misi cari kucing gurun hingga drama belanja online! 



Matahari Mekah mulai merangkak ke titik kulminasi. Suhu udara melonjak, menciptakan fatamorgana tipis di atas aspal jalanan menuju Masjidil Haram. Bagi warga Kalimantan Selatan, panas memang bukan hal baru, tapi panas kering gurun adalah level yang berbeda. Di dalam kamar hotel yang sejuk berkat embusan AC maksimal, keluarga Muhammad Hifni dan Lev ℛyley mencoba bertahan dari godaan tidur siang yang panjang.

"Ayah... perut Khalisah bunyi," rengek Khalisah Salsabilla. Ia berbaring telentang di atas karpet, menatap langit-langit kamar. "Kucing di luar sana apa mereka puasa juga? Kasihan kalau mereka haus."

Rina Rufida mengusap rambut putrinya dengan lembut. "Kucing tidak wajib puasa, Sayang. Tapi mereka itu sabar. Lihat saja kucing-kucing di pelataran, mereka tetap tenang meski matahari terik."

Di kamar sebelah, Lev ℛyley sedang berjuang melawan rasa kantuk sambil mengawasi Anindya Putri yang justru tampak sangat bersemangat. "Pa, lihat! Di toko bawah ada diskon gamis Turki bahan cool tech. Ini pas banget buat kita pakai kalau tawaf siang-siang supaya nggak kepanasan. Aku mau live bentar ya!"

"Anin, ini jam kritis. Low batt fisik, low batt iman kalau kamu lihat barang diskon terus," keluh Lev sambil membenamkan wajahnya di bantal.

Namun, ketenangan siang itu pecah saat Ghina Qalbi masuk dengan tergesa-gesa. "Pa! Ma! Khalisah nangis di lorong! Dia mau kasih minum kucing tapi botol minumnya kosong!"

Sontak, kedua keluarga itu keluar ke lorong hotel. Benar saja, Khalisah sedang berjongkok di depan seekor kucing jalanan yang masuk ke area lobi hotel. Kucing itu tampak lesu. Khalisah, dengan kepolosan bocah lima tahun, merasa sangat bersalah karena ia sendiri sedang berpuasa dan tidak membawa air.

Rayyan Zuhayr datang membawa sebuah botol air mineral kecil yang ia temukan di tasnya. "Ini ada sisa air Zamzam sedikit, Khalisah. Kata buku cerita yang aku baca, memberi minum hewan di padang pasir itu pahalanya besar banget."

Masalahnya satu: mereka semua sedang berpuasa. Melihat air yang jernih itu di tengah kerongkongan yang kering adalah ujian berat. Aisyah Humaira segera mengambil alih situasi sebelum para orang tua ikut "tergoda" melihat air. "Sini, biar Kakak yang tuangkan ke wadah plastik bekas kurma ini."

Momen sederhana itu berubah menjadi konten yang mengharukan bagi Ghina. Ia merekam bagaimana Khalisah dan Rayyan bekerja sama memberikan minum kepada kucing gurun tersebut. Maryam Safiya pun tidak tinggal diam; ia mengeluarkan kamera sakunya, memotret cahaya matahari yang masuk lewat jendela lobi dan mengenai bulu kucing yang sedang minum dengan lahap itu.

"Lihat itu, Pak Hifni," bisik Lev sambil bersandar di dinding lobi. "Anak-anak kita lebih cepat paham esensi puasa daripada kita. Mereka nggak mikirin haus, mereka cuma mikirin gimana cara menolong."

Hifni mengangguk setuju. "Ibadah itu bukan cuma menahan lapar, Pak Lev. Tapi mengasah rasa peka. Khalisah dari Barabai cuma mau cari kucing, tapi di sini dia belajar arti kasih sayang universal."

Tiba-tiba, Anindya nyeletuk dari belakang, "Nah, karena kita sudah melakukan perbuatan baik, boleh ya habis asar nanti kita mampir sebentar ke toko gamis tadi? Buat self-reward karena sudah sabar."

Lev hanya bisa menghela napas panjang, sementara Aisyah tertawa kecil melihat tingkah ibunya. "Ma, self-reward-nya nanti saja pas buka puasa pakai kurma Sukari."

Siang itu, meski kerongkongan terasa kering dan perut mulai berbunyi nyaring, lobi hotel itu penuh dengan kehangatan. Di luar, menara jam Mekah berdentang, menandakan waktu asar akan segera tiba. Sebuah pelajaran baru tercatat di hati mereka: bahwa di tanah suci, bahkan seekor kucing pun bisa menjadi guru tentang makna pengabdian dan rasa syukur.

Lanjut ke Bab 6? Kita akan menceritakan keseruan berburu takjil gratis di pelataran Masjidil Haram dan bagaimana Lev ℛyley terjebak dalam barisan pembagian nasi boks yang super ketat.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default