Baca novel Islami 'Luka di Simpang Empat'. Kisah Lev ℛyley yang mengorbankan wanita tulus demi cinta sepihak, namun berakhir ngenes di Banjarbaru. Cerita slice of life sedih, komedi, dan penuh hikmah di Kalimantan Selatan. Baca 25 Bab Lengkap di sini!
Langit di atas Kota Banjarbaru sore itu tidak sedang bersahabat. Awan mendung menggantung rendah di atas Lapangan Murjani, menciptakan warna abu-abu yang serasi dengan suasana hati Lev ℛyley. Lev duduk di salah satu bangku kayu permanen, menatap deretan mobil hias yang mulai menyalakan lampu neon warna-warninya.
Di tangannya, sebuah gelas plastik berisi kopi susu sachet yang sudah mendingin menjadi saksi bisu kegelisahannya. Lev bukan pria yang buruk rupa. Wajahnya tipikal pemuda Banjar yang bersih, dengan sorot mata yang selalu terlihat tulus—atau mungkin terlalu lugu dalam urusan asmara.
“Lev, kamu sudah gila, ya?”
Suara melengking itu datang dari Fikri, sahabat karibnya sejak zaman sekolah di STM dulu. Fikri duduk di sampingnya sambil membawa dua tusuk pentol kuah pedas.
“Gila kenapa?” tanya Lev tanpa menoleh.
“Tadi pagi, Ibunya Sarah datang ke rumahmu, kan? Sarah itu kurang apa, Lev? Dia santriwati lulusan Martapura, hafal juz amma, jago masak lempeng, dan yang paling penting... dia mau sama kamu yang kerjaannya cuma desain grafis freelance dengan pendapatan tidak menentu ini!” Fikri geleng-geleng kepala sembari mengunyah pentolnya dengan lahap.
Lev menarik napas panjang, aroma aspal basah terhirup hingga ke paru-paru. “Aku sudah bilang berkali-kali, Fik. Hatiku sudah ada yang punya. Aku tidak mau memberi harapan palsu pada Sarah. Itu namanya zalim.”
“Tapi Alya belum memberi kepastian, Lev! Kalian itu cuma... apa ya istilahnya? Habbun minal fatihah? Cinta yang nggak jelas ujungnya!”
Lev terdiam. Dalam pikirannya, ia menghitung satu per satu wanita yang sudah ia “korbankan”. Pertama, Sarah yang sholehah. Kedua, Dina, teman sekantornya dulu yang rela membawakannya bekal setiap hari namun ia tolak dengan alasan ‘ingin fokus ibadah’. Ketiga, Maya, gadis ceria yang terang-terangan mengajaknya serius tapi ia abaikan demi menjaga sebuah kesetiaan abstrak kepada Alya.
Bagi Lev, mencintai Alya adalah bentuk jihad kecilnya. Ia percaya bahwa jika ia menjaga pandangan dan hatinya dari wanita lain, maka Allah akan mempermudah jalannya dengan Alya.
“Alya itu beda, Fik. Dia yang paling mengerti aku. Dia yang bilang kalau dia nyaman bicara denganku,” ujar Lev membela diri.
“Nyaman itu bukan berarti mau menikah, Lev! Kursi taman ini juga nyaman, tapi nggak ada yang mau menikah sama kursi!” celetuk Fikri ketus.
Lev hanya terkekeh hambar. Ia merogoh saku celana chino-nya, mengambil ponsel yang layarnya sudah sedikit retak di pojok. Ia berniat mengirimkan pesan singkat pada Alya, sekadar bertanya apakah gadis itu sudah shalat Ashar atau belum. Namun, sebelum jempolnya menyentuh layar, sebuah notifikasi dari grup WhatsApp alumni sekolah muncul.
Ada sebuah foto yang baru saja diunggah oleh teman mereka. Foto sebuah undangan fisik berwarna rose gold dengan pita emas yang elegan.
Lev menekan foto itu. Jantungnya mendadak berhenti berdetak selama beberapa detik.
Walimatul 'Urs
Alya Shasmira, S.Kep
&
Letda Inf. Bayu Samudera
Dunia seolah berputar lebih cepat dari kincir angin di wahana bermain anak-anak di seberang sana. Kopi di tangannya tumpah sedikit, mengenai celananya, tapi Lev tidak peduli. Panas air kopi itu tak sebanding dengan rasa terbakar yang menjalar di dadanya.
“Eh, Lev? Kamu kenapa? Muka kamu kok kayak habis liat hantu di pendopo?” Fikri melirik ponsel Lev. Seketika, Fikri berhenti mengunyah. “Astagfirullah... ini Alya yang itu? Alya-mu?”
Lev tidak menjawab. Ia mencoba mencari-cari kesalahan di layar ponselnya. Mungkin itu Alya yang lain. Mungkin itu sepupunya. Tapi foto pre-wedding yang menyusul kemudian menghancurkan sisa-sisa harapannya. Di sana, Alya tampak tersenyum sangat cantik, mengenakan jilbab satin yang anggun, bersandar di bahu seorang pria tegap berseragam TNI.
Senyum yang selama ini Lev jaga dengan cara menolak wanita-wanita tulus lainnya, ternyata sedang dipersiapkan untuk pria lain.
“Kenapa, Fik?” suara Lev bergetar, hampir hilang ditelan bunyi klakson motor yang lewat di Jalan Ahmad Yani. “Aku sudah mengorbankan perasaan orang lain demi dia. Aku menjaga diriku hanya untuk dia. Tapi kenapa dia menikahnya dengan orang lain?”
Fikri yang biasanya hobi bercanda, kali ini hanya bisa menepuk bahu sahabatnya itu dengan berat. “Lev... mungkin ini cara Allah bilang kalau doa kamu dijawab, tapi dengan cara diselamatkan dari orang yang salah. Tapi ya... tetap saja ngenes, sih.”
Gerimis yang tadi malu-malu kini berubah menjadi hujan deras. Lapangan Murjani yang tadinya ramai mendadak gaduh oleh orang-orang yang berlarian mencari tempat berteduh. Lev tetap duduk diam. Air hujan mulai membasahi rambut dan bajunya.
Di sela isak tangis yang tertahan, Lev teringat wajah Sarah yang kecewa, wajah Dina yang sedih, dan wajah Maya yang terluka saat ia tolak. Ia merasa seperti pecundang besar. Ia telah menghancurkan hati banyak orang demi sebuah dermaga yang ternyata tidak pernah mengizinkannya untuk berlabuh.
“Ayo teduh, Lev! Nanti kamu sakit! Kalau sakit siapa yang mau ngerawat? Alya? Enggak mungkin, dia lagi sibuk fitting baju pengantin!” teriak Fikri sambil menarik paksa lengan Lev.
Lev berdiri dengan langkah gontai. Di bawah guyuran hujan Banjarbaru, ia sadar satu hal: Mencintai dalam diam itu mulia, tapi terlalu percaya diri bahwa doa pasti terjawab sesuai kemauan kita adalah sebuah kekeliruan yang fatal.
