Aroma khas apam barabai hangat dan gurihnya bingka yang dijajakan di pinggir jalan raya seolah menjadi bahan bakar utama bagi Kota Tanjung di pagi hari. Matahari baru saja mengintip malu-mudi di balik rimbunnya pohon-pohon karet Tabalong, namun jalanan di sekitar Monumen Tanjung Puri—atau yang lebih akrab disebut warga lokal sebagai Tugu Obor—sudah mulai menggeliat. Api abadi di puncak tugu itu menyala konstan, seolah menjadi simbol semangat membara para penduduknya.
Di antara deretan kendaraan yang memadati aspal pagi itu, sebuah sepeda motor matic putih melaju dengan kecepatan sedang namun pasti. Pengendaranya adalah seorang wanita muda berhijab instan syar'i berwarna merah marun, lengkap dengan gamis batik khas guru madrasah. Namanya Halida Ratna Sari. Di atas motor, bibirnya berkomat-kamit. Bukan sedang menghafal wirid pagi, melainkan sedang merapal daftar belanjaan kain satin dan negosiasi harga sewa tenda rader untuk akhir pekan.
"Kain organza silk dua puluh meter di toko kain Pasar Tanjung, beli bunga melati segar dari Martapura yang datang subuh besok, lalu... Astagfirullah! Soal ulangan harian matematika kelas 8B belum aku fotokopi!"
Halida mengerem mendadak di lampu merah. Ia menepuk jidatnya yang tertutup khimar. Klakson mobil di belakangnya berbunyi sekali, membuyarkan lamunan rumit yang bercampur aduk di kepalanya.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-25. Bagi sebagian wanita urban, angka dua puluh lima adalah gerbang menuju krisis seperempat abad (quarter-life crisis). Bagi Halida, angka dua puluh lima terasa seperti alarm digital berkekuatan tinggi yang berbunyi tepat di samping telinganya setiap detik. Di lingkungan sosialnya di Tabalong, umur 25 bagi seorang wanita tanpa cincin di jari manis adalah sebuah prestasi yang... mengundang banyak pertanyaan dalam setiap pengajian kampung.
"Umur dua puluh lima, Halida. Targetmu tahun ini punya kantor WO sendiri sudah tercapai di Mabu'un. Tapi target punya buku nikah sendiri? Hilal-nya bahkan belum kelihatan di ufuk barat," gumamnya pada diri sendiri sambil kembali menarik gas saat lampu berubah hijau.
Tepat pukul tujuh pagi, Halida memarkirkan motornya di halaman Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Tanjung. Suasana sekolah sudah riuh. Suara langkah kaki para murid yang berlarian menghindari gerbang yang hampir ditutup, bunyi bel masuk yang melengking, serta sayup-sayup lantunan selawat dari pengeras suara musala saling bersahutan.
Baru saja Halida melangkah koridor sekolah menuju ruang guru, sebuah suara melengking yang sangat familiar menghentikan langkahnya.
"Ustadzah Halida! Nah, panjang umur! Baru saja digosipkan, orangnya sudah muncul!"
Halida menoleh dan mendapati Ustadzah Aminah, guru Akidah Akhlak senior yang terkenal sebagai pusat informasi (baca: biang gosip) internal sekolah, sedang berjalan cepat ke arahnya sambil membawa segelas teh hangat.
"Selamat pagi, Ustadzah Aminah. Waduh, pagi-pagi begini kok saya sudah jadi trending topic di ruang guru?" canda Halida, berusaha mencairkan suasana sambil memberikan senyum terbaiknya.
Ustadzah Aminah menepuk bahu Halida pelan. "Bukan begitu, Da. Ini nah, pian kan hari ini ulang tahun yang ke-25, kalo? Tadi Ibu lihat di status WhatsApp mamah pian. Selamat ulang tahun, lah. Semoga barakah umur, cepat dapat jodoh. Tapi bujur jua pang, Da ae. Pian ini mengurus pernikahan anak orang terus lewat Wedding Organizer pian itu, sampai pelaminan sendiri kada terurus. Jangan terlalu pemilih, Da. Kena kelaunan (nanti kemalaman)."
Halida menghela napas dalam hati, namun senyumnya tidak pudar. Ini baru pukul tujuh lewat lima menit, dan ia sudah menerima "hadiah" ulang tahun berupa khotbah pranikah tanpa teks.
"Amin, mudahan doa pian terkabul, Jannah," jawab Halida santun menggunakan bahasa Banjar halus. "Ulun tidak memilih yang muluk-muluk kok, Bu. Yang penting saleh, bertanggung jawab, dan yang paling penting... tidak takut kalau saya ajak menghitung anggaran belanja WO setiap malam."
Ustadzah Aminah tertawa renyah. "Dasar jua pian ini, otak bisnis tarus yang jalan. Ya sudah, lekas masuk kelas. Itu nah, anak-anak kelas 8B sudah mulai konser pakai meja kelas."
Membuka pintu kelas 8B sama saja seperti membuka kotak pandora yang berisi energi hiperaktif remaja usia 14 tahun. Begitu Halida melangkah masuk, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Rahmat—murid paling jahil yang hobi duduk di bangku paling belakang—sedang berdiri di atas meja sambil memegang sapu, berlagak seperti vokalis band rok papan atas.
"Rahmat! Turun dari meja sebelum meja itu meminta haknya untuk patah!" seru Halida, meletakkan tas kerja dan tumpukan buku matematika di atas meja guru dengan dentuman yang cukup menarik perhatian.
Seketika kelas menjadi hening. Rahmat langsung turun dengan wajah tanpa dosa, nyengir kuda memperlihatkan giginya yang berpagar kawat. "Eh, Bu Halida. Selamat pagi, Bu. Kami lagi pemanasan biar fokus belajar fungsi kuadrat, Bu."
"Pemanasan kamu itu hampir membuat Ibu jantungan, Rahmat. Sekarang, duduk di bangkumatan dan keluarkan buku paket halaman empat puluh dua," perintah Halida tegas namun tetap menyisipkan nada jenaka.
Saat Halida berbalik untuk menuliskan rumus di papan tulis, ia mendengar bisik-bisik dari barisan tengah.
"Eh, bujuran kah hari ini Bu Halida ulang tahun?" bisik Siti kepada riri.
"Iya, aku melihat di IG Story kakaknya semalam. Umur sidin (beliau) 25 tahun sudah."
"Wah, berarti sudah pantas kawin lah? Kenapa Bu Halida belum kawin jua jua, lah? Padahal sidin bungas (cantik), punya usaha WO besar lagi di Mabu'un."
Tangan Halida yang sedang memegang kapur tulis mendadak berhenti di udara. Ya Allah, batinnya, bahkan murid MTsN pun sekarang merangkap jabatan menjadi tim pengawas jodoh nasional.
Halida membalikkan badannya perlahan, menatap kedua murid perempuan itu dengan mata yang disipitkan, pura-pura galak. "Siti, Riri. Rumus matematika di papan tulis ini lebih butuh perhatian kalian daripada status pernikahan Ibu. Kalau nilai ulangan kalian di bawah KKM minggu depan, Ibu hukum jadi kru angkat-angkat piring prasmanan di WO Ibu hari Sabtu nanti. Mau?"
"Kada mau, Bu!" jawab mereka kompak sambil langsung menunduk dan pura-pura sibuk menulis. Satu kelas pun meledak dalam tawa.
Siang harinya, begitu jam sekolah usai dan kewajibannya sebagai guru madrasah tuntas, Halida langsung berganti peran. Di dalam mobil dinas operasional WO-nya—sebuah mobil van putih yang ditempeli stiker besar berlogo "Halida Wedding Organizer: Amanah & Estetik"—ia berkendara menuju kawasan Mabu'un, pusat pertumbuhan ekonomi baru di Tabalong.
Di sinilah dunianya yang lain berada. Sebuah ruko dua lantai dengan cat putih bersih dan jendela kaca besar yang menampilkan contoh gaun pengantin muslimah bergaya modern di manekinnya. Begitu membuka pintu kantornya, gemerincing loncek angin menyambutnya, berpadu dengan aroma terapi esensial lavender yang menenangkan.
"Selamat ulang tahun, Bos Halida!"
Suara letusan confetti kertas warna-warni mengejutkannya. Dua orang staf kepercayaannya, Laras (bagian administrasi) dan Dani (tim logistik lapangan), berdiri di dekat meja resepsionis sambil membawa sebuah kotak berisi martabak manis yang ditancapi lilin angka 25.
"Astaga, kalian ini ada-ada saja. Kantor baru dibersihkan, ini kertasnya malah berserakan," omel Halida, walau matanya berkaca-kaca menahan haru.
"Ah, Bos mah begitu. Bukannya tiup lilin dulu sambil doa biar cepat sah, malah mikirin sapu," gerutu Laras sambil menyodorkan martabak manis itu.
Halida tersenyum, lalu memejamkan mata sejenak. Ya Allah, di umur yang ke-25 ini, lancarkanlah usahaku, berkahilah rezeki murid-muridku, dan jika Engkau izinkan... dekatkanlah ia yang tertulis di Lauhul Mahfuzh untukku. Setelah meniup lilin, Halida langsung memotong martabak tersebut.
Namun, momen manis itu tidak bertahan lama. Baru saja kunyahan pertama martabak mendarat di mulut Halida, pintu kaca kantor WO terbuka dengan kasar. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian serba glamor dan perhiasan emas yang berkerincing di pergelangan tangannya masuk dengan wajah merah padam.
"Mbak Halida! Ini bagaimana ceritanya?! Kenapa konsep dekorasi pelaminan anak saya diubah sepihak?!" seru wanita itu tanpa salam. Ia adalah Ibu tiri dari calon pengantin wanita yang akan menikah tiga hari lagi.
Halida langsung menelan martabaknya dengan susah payah, mengisyaratkan Laras untuk mengambilkan air minum, lalu memasang "mode CEO" andalannya: tenang, profesional, dan penuh senyuman Islami.
"Selamat siang, Ibu Rustina. Mari silakan duduk dahulu, Bu. Kita bicarakan pelan-pelan dengan tenang sambil minum air hangat ya, Bu. Insya Allah, semua ada solusinya," ujar Halida dengan suara selembut sutra, meski di dalam hatinya ia tahu: drama bridezilla versi orang tua telah resmi dimulai, dan target umur 25 tahunnya baru saja memberikan ujian pertama di sore hari yang panas ini.
Bagaimana kelanjutan dinamika kehidupan Halida?
