Perjalanan melintasi trans-Kalimantan ternyata tidak semulus unggahan story Instagram Anindya Putri. Memasuki wilayah perbatasan Tapin dan Hulu Sungai, sinyal ponsel mulai timbul tenggelam seperti harapan palsu. Bagi keluarga Lev ℛyley, ini adalah bencana nasional skala kecil.
"Yah, sinyalnya E! Aku nggak bisa upload video review pentol di Rantau tadi!" keluh Ghina Qalbi sambil menggoyang-goyangkan ponselnya ke arah jendela, seolah-olah sinyal bisa ditangkap dengan jaring tak kasat mata.
Anindya pun sama gelisahnya. "Aduh, padahal Ibu Rina tadi share location rumah barunya. Kalau sinyal mati begini, kita bisa nyasar ke kebun karet, Yah."
Lev hanya tersenyum simpul, matanya tetap fokus pada aspal jalanan yang mulai bergelombang. "Inilah namanya detoks digital, Bun. Di Mekah kemarin kita fokus ke langit, sekarang di jalan ke Tanjung kita fokus ke aspal dan pemandangan. Lagipula, Ayah sudah unduh peta offline. IT Guy selalu punya backup plan."
Sementara itu, di kursi tengah, Maryam Safiya tampak tenang. Jemarinya menari di atas kertas, mengabadikan deretan pohon karet yang berjajar rapi di sepanjang jalan menuju Tabalong. "Lihat deh, Kak Aisyah. Pohon-pohon ini kayak lagi baris nunggu kita lewat," gumam Maryam.
Aisyah Humaira mengangguk, sambil sesekali membetulkan posisi tidur Rayyan yang sudah terlelap dengan mulut sedikit terbuka. "Itu namanya ketenangan, Mar. Sesuatu yang mahal di Banjarmasin."
Dua jam kemudian, sebuah gapura megah menyambut mereka. Tulisan "SELAMAT DATANG DI KABUPATEN TABALONG - BUMI SARABA KAWA" terpampang gagah. Lev sengaja memelankan laju mobilnya. Udara di sini terasa lebih sejuk dan bersih, jauh dari hiruk-pikuk pelabuhan Trisakti.
"Kita sampai, Guys!" seru Lev membangunkan Rayyan.
"Mana untanya, Yah? Mana?" igau Rayyan yang langsung tegak duduk begitu mendengar kata 'sampai'.
Mobil memasuki kawasan Murung Pudak. Perumahan di sini tampak asri dengan pohon-pohon rindang. Tak lama, Lev menghentikan mobil di depan sebuah rumah dengan halaman luas yang dipenuhi tanaman hias dan... beberapa ekor kucing yang sedang bersantai di atas pagar.
Di teras rumah, Muhammad Hifni sudah berdiri tegak dengan senyum khasnya yang kebapakan. Di sampingnya, Ibu Rina Rufida melambaikan tangan dengan penuh semangat. Namun, yang paling menarik perhatian adalah seorang gadis kecil yang berlari keluar dari balik pintu sambil menggendong kucing persia putih.
"Keluarga Banjarmasin datang!" teriak Khalisah Salsabilla kegirangan.
Begitu pintu mobil terbuka, Rayyan adalah yang pertama melompat keluar. Bukannya menyalami Pak Hifni, ia justru berlari ke arah Khalisah. "Lihat! Unta putihnya lucu banget!"
Khalisah langsung mendekap kucingnya erat-erat, wajahnya cemberut. "Ini bukan unta, ini Salju! Dia kucing Tanjung, bukan unta Arab!"
Lev dan Pak Hifni hanya bisa tertawa lebar sambil bersalaman erat. "Baru sampai sudah ada 'perang' spesies, Pak Hifni," canda Lev.
"Ayo masuk, ayo. Kebetulan drg. Dina dan Naura juga sudah di jalan menuju ke sini. Kita selesaikan urusan 'Salsabilla' ini di dalam sambil makan siang," ajak Pak Hifni ramah.
Saat mereka melangkah masuk, aroma bumbu Paliat yang gurih dan tajam langsung menusuk hidung. Anindya Putri seketika melupakan masalah sinyalnya. Ia tahu, konten kali ini akan sangat luar biasa: Reuni Rasa di Jantung Tabalong.
