BAB 2: Kapur Tulis dan Brosur Wedding Organizer

BAB 2: Kapur Tulis dan Brosur Wedding Organizer

Lev
0


Kantor Halida Wedding Organizer di kawasan Mabu’un sore itu mendadak terasa lebih sempit dari ukuran aslinya. Pendingin ruangan berkapasitas dua PK yang terpasang di sudut ruko seolah tidak mampu mendinginkan suasana yang telanjur memanas. Di depan meja kerja Halida yang terbuat dari kayu jati belanda minimalis, Ibu Rustina masih setia melipat tangan di dada. Gelang emas renteng yang melingkari pergelangan tangannya bergemerincing setiap kali ia menggebrak meja dengan pelan.

"Jadi begini, Mbak Halida. Saya ini sudah bayar mahal pakai paket premium. Kenapa kain tirai latar belakang pelaminannya diganti jadi putih pudar begitu? Saya mintanya warna gold yang menyala! Yang kalau kena lampu sorot, silau sampai ke tempat parkir!" tuntut Ibu Rustina dengan logat Banjar-Tanjung yang kental dan penuh penekanan.

Halida menarik napas dalam-dalam. Di dalam kepalanya, bayangan rumus fungsi kuadrat matematika kelas 8B mendadak tumpang tindih dengan palet warna kain. Sebagai guru, ia terbiasa menghadapi murid yang tidak mau mengerjakan PR. Sebagai pengusaha WO, ia harus menghadapi tipe momzilla—ibu pengantin yang tingkat stresnya melebihi sang pengantin itu sendiri.

"Ibu Rustina yang cantik, ulun (saya) paham sekali maksud Ibu," ujar Halida, senyumnya tetap terkunci rapat secara profesional. "Warna gold yang Ibu maksud itu memang sangat mewah. Tapi, mohon izin ulun jelaskan kembali berdasarkan hasil rapat dengan putri Ibu, Amalia, dua hari yang lalu. Amalia meminta konsep Syar'i Modern Minimalis. Kalau kita pakai kain gold yang terlalu mengilat, nanti gaun pengantin Amalia yang berwarna putih bertabur mutiara tidak akan kelihatan di foto. Warnanya akan 'bertabrakan', Bu."

Halida menggeser sebuah gawai tablet ke hadapan Ibu Rustina, menampilkan simulasi pencahayaan panggung pelaminan dalam format tiga dimensi yang sudah dirancang timnya.

"Nah, lihat ini, Bu. Kalau kain dasarnya putih bersih dengan tekstur kain silk premium, lalu kita beri aksen ukiran adat Banjar berwarna emas di bagian tengah dan disorot lampu warm white, hasilnya justru jauh lebih elegan. Kesannya anggun, Islami, dan mahal. Tidak silau, tapi memukau."

Ibu Rustina mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya yang dilapisi perona kelopak mata warna hijau toska menatap layar tablet dengan saksama. Detik-detik berlalu dalam keheningan yang menegangkan bagi Laras dan Dani yang mengintip dari balik sekat ruang kerja.

"Hm... begitu kah, Mbak?" Ibu Rustina mulai melunakkan nada suaranya. Ia menyentuh dagunya, seolah sedang menimbang-nimbang posisi status sosialnya di mata para undangan nanti. "Tapi apa nanti tidak kelihatan seperti dekorasi acara khitanan massal kalau terlalu putih?"

Halida menahan tawa yang hampir meledak di tenggorokannya. Khitanan massal katanya? Selera estetikaku dihantam badai, batin Halida menjerit komedi.

"Tentu tidak, Ibu Rustina sayang. Kami sudah menyiapkan rangkaian bunga melati segar seberat lima kilogram yang didatangkan langsung dari Martapura subuh besok. Wanginya akan semerbak di seluruh gedung. Begitu tamu masuk, mereka langsung tahu ini pesta pernikahan kelas atas di Tabalong," rayu Halida dengan jurus diplomasi mautnya.

Mendengar kata 'kelas atas' dan 'didatangkan langsung dari Martapura', pertahanan Ibu Rustina runtuh seketika. Senyumnya terbit, menampilkan deretan gigi yang rapi.

"Nah, kalau begitu penjelasannya, saya setuju saja. Yang penting jangan sampai memalukan keluarga kami, lah. Ya sudah, saya percaya dengan Mbak Halida. Saya mau ke Pasar Tanjung dulu, mau beli kain sasirangan tambahan untuk panitia."

Setelah mengantar Ibu Rustina sampai ke pintu depan dengan lambaian tangan yang ramah, Halida langsung merosot di kursi kerjanya. Ia memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.

"Luar biasa, Bos. Jurus 'Martapura' selalu berhasil mematikan perlawanan ibu-ibu sosialita Tanjung," puji Dani sambil membawa segelas es sirup telang hangat—minuman khas buatan kantor mereka.

"Itu bukan jurus, Dani. Itu namanya strategi bertahan hidup di dunia wedding organizer," sahut Halida sambil meminum es telang tersebut hingga tandas setengahnya. "Bagaimana persiapan tenda di lapangan? Besok pagi kru sudah harus mulai pasang rangka, kan?"

"Aman, Bos. Semua besi dan kain tenda sudah masuk ke truk. Tinggal tunggu instruksi besok subuh setelah pian selesai salat subuh," jawab Dani sigap.

Keesokan paginya, Jumat berkah, atmosfer di MTsN Tanjung terasa lebih sejuk. Angin sepoi-sepoi menjatuhkan beberapa lembar daun kering di halaman sekolah tempat para murid berkumpul untuk melaksanakan program rutin: salat duha berjamaah dan pembacaan surah Yasin.

Halida berdiri di barisan belakang saf siswi, mengawasi beberapa murid perempuan yang masih saja berbisik-bisik di tengah lantunan ayat suci. Matanya menangkap sosok Rahmat di barisan siswa seberang yang sedang asyik memainkan ujung sajadahnya, membuat gerakan seperti helikopter mini. Halida hanya bisa menggelengkan kepala, bertekad akan memberikan tugas tambahan hafalan surah pendek untuk anak itu nanti.

Setelah kegiatan keagamaan selesai, seluruh guru kembali ke ruang guru untuk menikmati sarapan pagi bersama yang disediakan pihak sekolah. Menu hari ini adalah Nasi Kuning khas Banjar lengkap dengan haruan (ikan gabus) masak habang yang menggugah selera.

Saat Halida sedang asyik menyendok nasi kuningnya, Pak kepala madrasah masuk bersama seorang pemuda asing. Pemuda itu mengenakan kemeja sasirangan rapi berwarna hijau lumut, celana kain hitam, dan menyandang tas ransel laptop. Wajahnya bersih, tipikal pemuda kuliahan tingkat akhir yang ramah dan murah senyum.

"Bapak dan Ibu sekalian, mohon perhatiannya sebentar," ujar Pak Kepala Madrasah, membuat riuh ruang guru mereda. "Mulai hari ini, sekolah kita kedatangan mahasiswa magang atau PPL dari UIN Antasari Banjarmasin. Dia akan membantu mengajar mata pelajaran matematika untuk kelas 8 selama dua bulan ke depan. Silakan perkenalkan dirimu, Nak."

Pemuda itu maju satu langkah, membungkuk takzim kepada para guru senior sebelum berbicara.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan, nama ulun Muhammad Fikri Al-Ghifari. Sifatnya ulun di sini belajar dari Bapak dan Ibu sekalian yang sudah berpengalaman. Mohon bimbingan dan tegorannya jika nanti ada khilaf atau kekurangan dalam ulun mengajar. Terima kasih banyak."

Suara Fikri yang bariton, tenang, dan menggunakan bahasa Banjar yang sangat santun langsung memikat hati para ustadzah senior di ruangan tersebut.

"Wah, pas sekali! Guru pamong untuk matematika kelas 8 kan Ustadzah Halida!" seru Ustadzah Aminah dengan volume suara yang sengaja dikeraskan, sambil melirik ke arah Halida yang mendadak tersedak tulang ikan gabus.

Halida terbatuk kecil, buru-buru meminum air mineralnya. Ia mendongak dan mendapati pandangan mata seluruh ruangan—termasuk mata Fikri—kini tertuju padanya.

"Eh, iya, Pak. Betul," jawab Halida setelah berhasil menguasai diri. Ia berdiri dan mengangguk profesional. "Selamat datang di MTsN Tanjung, Mas Fikri. Kebetulan saya yang memegang kelas 8B dan 8C. Nanti jam ketiga kita bisa langsung koordinasi di ruang kelas terkait silabus dan modul ajar."

"Baik, Ustadzah Halida. Terima kasih banyak atas kesediaannya membimbing ulun," jawab Fikri dengan senyuman tipis yang entah mengapa terlihat sangat... teduh di mata Halida.

Pertemuan pertama di kelas 8B bersama Fikri ternyata tidak berjalan se-formal yang Halida bayangkan. Begitu Halida memperkenalkan Fikri sebagai guru magang baru, kelas langsung riuh rendah seperti pasar tumpah.

"Wah! Guru baru! Masih muda, Bu!" teriak Rahmat dari bangku belakang. "Kak Fikri sudah punya istri lah? Kalau belum, pas benar dengan Bu Halida! Sama-sama jomblo matematika!"

"Rahmat! Jaga lisan kamu. Kurang lima poin nilai sikap kamu hari ini," ancam Halida dengan wajah memerah, menahan malu yang luar biasa di depan rekan magang barunya.

Fikri tidak terlihat marah atau tersinggung. Ia justru berjalan ke depan kelas, mengambil kapur tulis, dan menuliskan sebuah angka besar di papan tulis: 25.

"Adik-adik sekalian," kata Fikri, membalikkan badan menghadap murid-murid dengan santai. "Kalian tahu tidak, apa keistimewaan angka dua puluh lima dalam matematika dan kehidupan?"

Kelas mendadak hening, penasaran dengan arah pembicaraan guru baru ini.

"Dalam matematika, dua puluh lima adalah kuadrat sempurna dari lima. Dan dalam kehidupan, umur dua puluh lima adalah usia di mana Nabi Muhammad SAW menikahi Ibunda Khadijah Al-Kubra. Jadi, angka dua puluh lima itu bukan angka untuk ditertawakan atau dijadikan bahan gosip, melainkan angka kematangan berpikir dan kemandirian."

Fikri menoleh ke arah Halida, memberikan tatapan hormat yang mendalam. "Sama seperti Ustadzah Halida kalian ini. Di usia dua puluh lima, beliau sudah menjadi guru yang berdedikasi sekaligus pengusaha mandiri yang sukses. Jadi, mari kita hormati beliau dengan fokus belajar hari ini. Setuju?"

"Setujuuuu, Kak!" jawab anak-anak kelas 8B kompak, mendadak patuh seolah tersihir oleh wibawa Fikri.

Halida terpaku di sudut meja guru. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Bukan karena stres menghadapi komplain dekorasi kain tirai Ibu Rustina, melainkan karena kalimat sederhana dari seorang mahasiswa magang yang baru ia kenal beberapa jam lalu. Di dalam hati, Halida menyadari satu hal: kehidupan di usia 25 tahunnya di Kota Tanjung tampaknya akan menjadi jauh lebih rumit, berwarna, dan penuh kejutan mulai hari ini.

Bagaimana kelanjutan kisah mereka berdua? Hubungan kerja antara Halida dan Fikri baru saja dimulai. Untuk melanjutkan ke bab selanjutnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default