Bab 4: Rapat Pemda yang Tegang dan Diplomasi Anggrek di Ruang Rapat

Bab 4: Rapat Pemda yang Tegang dan Diplomasi Anggrek di Ruang Rapat

Lev
0

Hari Selasa di Kandangan biasanya membawa hawa yang lebih panas dari biasanya, seolah matahari sedang memberikan ujian kesabaran bagi mereka yang harus mengenakan seragam PDH cokelat yang tebal. Di kantor Pemerintah Daerah (Pemda) Hulu Sungai Selatan, suasana tampak lebih sibuk dari hari-hari sebelumnya. Pak Ahmad Subarjo tampak berlari kecil di selasar kantor dengan dahi yang berkeringat, sementara di tangannya mendekap erat sebuah map biru berisi draf proyek "Taman Sehati" yang akan dipresentasikan di depan Bupati.

Di tempat lain, di sebuah ruang kelas Madrasah yang plafonnya sesekali bergetar akibat suara kipas angin tua, Pak Rahman Hakim sedang menarik napas panjang. Hari ini adalah hari penyerahan hasil ujian matematika, dan seperti biasa, ia harus menghadapi berbagai macam ekspresi murid—mulai dari yang bersyukur hingga yang merasa dunia kiamat karena nilai lima yang bulat.

Namun, di tengah kesibukan profesional itu, pikiran keduanya tetap tertambat pada kejadian di Gang Taqwa. Pak Ahmad merasa berhutang budi atas penyelamatan mawarnya kemarin, sementara Pak Rahman merasa lega karena beban sertifikasinya telah terangkat berkat bantuan jari-jemari cekatan Pak Ahmad di atas keyboard laptop.

Ketegangan di Kantor Pemda

"Saudara Ahmad, saya sudah membaca draf Anda. Konsep 'Kota Mawar' ini memang indah, tapi apakah Anda sudah memikirkan biaya perawatannya? Kita ini di Kalimantan, bukan di Eropa. Mawar butuh perhatian ekstra, atau nanti hanya akan jadi semak berduri yang kering di pinggir jalan," ujar Kepala Dinas Tata Kota dengan nada skeptis di tengah rapat.

Pak Ahmad terdiam sejenak. Jika ini terjadi seminggu yang lalu, ia mungkin akan membela mawarnya dengan berapi-api. Namun, bayangan Pak Rahman yang telaten mengobati jamur di kebunnya kemarin tiba-tiba melintas. Ia teringat kata-kata Pak Rahman: “Keindahan itu harus berkelanjutan, bukan sekadar mencolok di awal.”

Pak Ahmad berdehem, lalu dengan tenang ia membuka halaman tambahan di presentasinya—halaman yang ia susun terburu-buru tadi subuh setelah berdiskusi singkat di balik pagar ulin dengan Pak Rahman.

"Izin, Pak Kadis. Saya telah melakukan revisi kecil. Bagaimana jika kita melakukan konsep 'Simbiosis Estetika'? Di tiang-tiang lampu jalan dan pohon peneduh yang sudah ada, kita tempelkan Anggrek hutan asli Kalimantan Selatan—Anggrek Meratus. Mereka mandiri, tahan cuaca, dan merupakan identitas lokal. Sedangkan Mawar, kita tempatkan secara eksklusif di taman-taman pusat kota sebagai point of interest. Ini akan memangkas biaya perawatan karena Anggrek tidak butuh banyak air dan pupuk kimia seperti mawar."

Ruang rapat mendadak hening. Pak Kadis mengangguk-angguk kecil. Strategi "Diplomasi Anggrek" yang dipinjam Pak Ahmad dari filsafat hidup Pak Rahman ternyata membuahkan hasil. Konsep itu dianggap jauh lebih masuk akal dan ramah anggaran.

Kejadian di Madrasah

Sementara itu, di sekolah, Pak Rahman sedang menghadapi seorang murid yang menangis karena nilainya jatuh. Murid itu adalah seorang remaja yang rajin, namun belakangan konsentrasinya pecah karena ayahnya kehilangan pekerjaan. Pak Rahman tidak marah. Ia justru teringat bagaimana Pak Ahmad selalu terlihat ceria meskipun sering mendapat tekanan dari atasan di kantor Pemda.

"Nak," ujar Pak Rahman lembut sembari menyodorkan selembar tisu. "Hidup itu seperti Anggrek. Terkadang kita butuh waktu lama untuk mekar. Tidak apa-apa jika sekarang kamu belum terlihat 'berbunga' seperti teman-temanmu yang lain. Yang penting, akarmu harus tetap kuat mencari ilmu. Belajarlah dari mawar tetangga Bapak; dia punya duri agar tidak mudah dipatahkan orang, tapi dia tetap harum bagi yang bersedia menjaganya."

Si murid berhenti menangis, menatap gurunya dengan tatapan heran namun merasa sangat dikuatkan. Pak Rahman sadar, sedikit "semangat mawar" dari Pak Ahmad ternyata berguna juga untuk memotivasi muridnya yang terlalu melankolis.

Komedi Sore Hari

Sore harinya, saat kedua pria itu bertemu lagi di Gang Taqwa, suasana terasa sangat cair. Pak Ahmad membawakan sekantong Dodol Kandangan rasa durian yang paling premium sebagai tanda terima kasih.

"Pak Guru! Presentasi saya tembus! Anggrek Bapak secara tidak langsung menyelamatkan muka saya di depan Bupati!" seru Pak Ahmad sambil tertawa lepas, masih dengan seragam Pemda yang kini sudah agak lecek.

Pak Rahman yang sedang menyiram anggreknya dengan air bekas cucian beras—resep rahasia agar daun tetap hijau—hanya tersenyum lebar. "Alhamdulillah, Pak Ahmad. Itu namanya berkah bertetangga. Tapi omong-omong, kalau nanti proyeknya jalan, pastikan petugasnya diajari cara menempel anggrek yang benar. Jangan dipaku ke pohon! Itu namanya penyiksaan, bukan pelestarian."

"Siap, Pak Guru! Nanti Bapak saya usulkan jadi konsultan ahli taman kabupaten!" balas Pak Ahmad sambil mencicipi dodolnya sendiri.

Tiba-tiba, suara Zaskia terdengar dari dalam rumah, "Ayah! Itu mawar yang kemarin diobati Pak Rahman kok sekarang malah dikencingi kucing? Katanya mawar itu punya duri buat pelindung diri!"

Kedua bapak itu serentak menengok ke kebun mawar. Benar saja, seekor kucing oranye gemuk milik warga sekitar tampak dengan tenang meninggalkan "jejak" di bawah rumpun mawar termahal Pak Ahmad.

"Woi! Kucing siapa itu! Kurang ajar, mawar saya ini aset daerah!" teriak Pak Ahmad sambil mengejar kucing itu dengan sandalnya, sementara Pak Rahman tertawa terpingkal-pingkal sampai kacamatanya hampir jatuh.

Di Gang Taqwa, kebahagiaan memang sesederhana itu. Ada kerja keras di kantor dan sekolah, namun selalu ada komedi yang menyambut di rumah. Perbedaan antara Guru PNS dan Pejabat Pemda bukan lagi tentang siapa yang lebih tinggi pangkatnya, tapi tentang siapa yang lebih dulu bisa membuat tetangganya tertawa di sore hari.

Informasi untuk Pembaca:

Konsep taman berkelanjutan yang dibahas Pak Ahmad mencerminkan tren pembangunan Smart City di Indonesia tahun 2025. Di Kalimantan Selatan, pelestarian Anggrek Hutan Meratus menjadi isu penting dalam menjaga biodiversitas. Novel ini mengajak kita melihat bahwa kolaborasi antara sektor pendidikan (Guru) dan birokrasi (Pemda) bisa dimulai dari hal kecil di lingkungan rumah. Jangan lupa untuk selalu mendukung produk lokal seperti Dodol Kandangan saat berkunjung ke Kalimantan Selatan!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default