Hari Sabtu adalah hari yang paling dinanti oleh Khalisah Salsabilla. Meskipun hari Sabtu adalah waktu libur bagi anak sekolah, bagi Muhammad Hifni dan Rina Rufida, Sabtu sering kali berarti tugas lapangan atau sekadar menyelesaikan administrasi kantor yang tertunda. Namun, hari ini Hifni sudah bertekad: tidak ada urusan dinas. Hari ini adalah hari "Setoran Akbar" bagi Khalisah.
Di meja makan, atmosfer terasa sedikit tegang—dalam artian yang lucu. Khalisah duduk tegak menghadap Abah dan Mamanya. Di depannya, sebuah papan tulis kecil milik Rina—yang biasanya digunakan untuk mencoret-coret vocabulary Bahasa Inggris—kini berisi daftar target hafalan.
"Oke, My Student, eh, anak Abah maksudnya," ujar Hifni sambil memperbaiki posisi duduknya seperti sedang memimpin rapat di kantor pemerintahan. "Hari ini tantangannya adalah Surah Al-Ma'un. Kalau lancar tanpa bantuan Mama, hadiahnya sesuai janji: Apam Barabai yang masih hangat dari pasar, lengkap dengan kuah gulanya!"
Khalisah melirik Mochi yang sedang asyik berguling di karpet bawah meja. "Abah, kalau Khalisah hafal, Mochi dapat apa? Mochi is my teacher assistant, Bah."
Hifni tertawa, sementara Rina mencubit gemas pipi putrinya. "Mochi dapat ikan kering kualitas ekspor dari pasar ikan Murakata. Gimana?"
"Deal! Bismillah," ucap Khalisah mantap.
Khalisah mulai melafalkan ayat demi ayat. Suaranya yang khas anak-anak terdengar merdu, meski sesekali ia berhenti sejenak untuk memikirkan sambungan ayatnya. Di sinilah peran Rina masuk. Sebagai lulusan SMA 2013 yang dulu sempat menjadi juara lomba pidato, Rina tahu cara memancing ingatan tanpa harus memberi tahu jawabannya secara langsung.
"Ayo, setelah fadzalikal-ladzi... gerakannya seperti apa yang Mama ajarkan kemarin?" tanya Rina sambil memeragakan gerakan mendorong anak yatim dengan lembut.
"Oh! Yadu'ul-yatim!" seru Khalisah semangat.
Proses belajar ini tidak terasa seperti siksaan. Bagi Khalisah, menghafal Al-Qur'an adalah sebuah permainan logika yang menyenangkan karena Abahnya selalu memberikan analogi-analogi lucu yang berhubungan dengan kehidupan mereka di Barabai. Hifni sering mengumpamakan hukum tajwid layaknya rambu lalu lintas di jalan raya agar tidak terjadi "tabrakan" suara.
Satu jam berlalu, dan Khalisah berhasil menyelesaikan hafalannya dengan sempurna.
"Alhamdulillah! I did it, Abah! I did it, Mama!" Khalisah melompat kegirangan dan langsung memeluk Mochi, yang hanya bisa pasrah meskipun badannya hampir terhimpit.
Sesuai janji, sore harinya mereka sekeluarga pergi menuju pusat keramaian di Barabai. Udara sore itu sangat segar, tipikal kota yang dikelilingi pegunungan Meratus. Di sana, mereka bertemu dengan Nurul Inayah yang rupanya juga sedang membawa Husna untuk berbelanja kebutuhan sekolah.
"Eh, ketemu lagi di sini," sapa Nurul ramah. "Gimana Khalisah? Sudah ada kemajuan hafalannya?"
Hifni dengan bangga memamerkan pencapaian putrinya. "Sudah lancar Al-Ma'un, Rul. Berkat 'suap' apam hangat ini," goda Hifni sambil mengangkat kantong plastik berisi kue khas Barabai tersebut.
Nurul tertawa. "Wah, Husna juga baru selesai Al-Ma'un kemarin. Tapi Husna hadiahnya bukan makanan, dia minta diajak melihat kucing-kucing di pasar."
Khalisah langsung menarik tangan Husna. "Husna! Kamu harus lihat Mochi di rumahku. He is the king of cats! Badannya besar seperti bantal!"
Kedua ibu, Rina dan Nurul, hanya bisa saling pandang dan tertawa. Kenangan 13 tahun lalu saat mereka masih berseragam SMA tahun 2013 seolah kembali. Dulu mereka berdiskusi tentang ujian nasional dan cita-cita, sekarang mereka berdiskusi tentang makhraj huruf anak dan resep masakan.
"Rin," bisik Nurul di tengah keriuhan anak-anak mereka. "Aku senang lihat Khalisah. Dia membawa warna baru di kelasku. Meskipun dia jago Bahasa Inggris, dia nggak sombong. Malah sekarang Husna jadi suka nanya-nanya bahasa Inggris ke aku gara-gara Khalisah."
Rina tersenyum haru. "Itulah indahnya berteman, Rul. Khalisah belajar agama dari Husna, dan Husna belajar ilmu dunia dari Khalisah. Bukankah itu yang kita inginkan? Dunia dan akhirat yang seimbang."
Malam harinya, di rumah, Khalisah tertidur pulas dengan sisa gula apam yang masih sedikit menempel di sudut bibirnya. Di pelukannya, ada buku Juz Amma dan—tentu saja—Mochi yang ikut terlelap. Hifni dan Rina berdiri di ambang pintu kamar, menatap putri mereka dengan rasa syukur yang tak terhingga.
"Kita mungkin cuma PNS biasa di kota kecil ini, Bah," ucap Rina pelan. "Tapi kalau kita bisa membimbingnya jadi anak salihah, itu prestasi yang lebih besar dari kenaikan pangkat mana pun."
Hifni mengangguk setuju, sambil dalam hati merencanakan hadiah apa lagi yang akan ia siapkan untuk surah berikutnya. Mungkin sebuah mahkota mainan, sebagai simbol mahkota cahaya yang sesungguhnya di masa depan.
